Tidak Lulus Sidang Skripsi? Saya Pernah Mengalaminya! Ini Kisah Saya Mengalahkan Rasa Putus Asa dan Menyelesaikan Skripsi

Work & Study

photo credit: Stanford Graduate School of Education

1K
Skripsi sempat membuat saya merasa tidak berdaya

Eh gimana skripsi? Bahas apa sih?

Udah dapat judul?

Udah sampai mana? Bab berapa?

Udah ketemu dosen pembimbing belum?

Gimana revisi? Kok gak selesai-selesai?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang lazim dilontarkan kepada orang yang sedang menyusun skripsi alias mahasiswa semester akhir. Tanggapan mereka terhadap pertanyaan juga bermacam-macam. Ada yang seketika langsung menunjukkan wajah cemberut, ada yang pura-pura tidak dengar, atau ada pula yang sensitif dengan kata “skripsi” hingga meminta untuk tidak melanjutkan pertanyaan.

Dapat diakui bahwa skripsi menjadi momok yang sangat menakutkan. Skripsi dijadikan sebagai sebuah syarat kelulusan tingkat S1. Belum memasuki masa penulisan skripsi pun pikiran kita dipenuhi paradigma bahwa skripsi merupakan sesuatu yang menyulitkan. Hal ini terjadi karena beberapa hal misalnya, melihat kegagalan kakak-kakak tingkat, mendapatkan dosen pembimbing yang dianggap killer, mahalnya biaya yang dibutuhkan saat skripsi, hingga sulitnya mendapat ide judul yang pas.

Memang, tidak semua mahasiswa S1 pandai menulis dan cerdas dalam berteori, demikian pula sebaliknya dalam berpraktik. Tetapi jika hal ini sudah menjadi ketentuan dalam sistem akademik kita, apa yang dapat kita perbuat selain mengerjakan skripsi? Tidak disangka skripsi malah menjadi bagian proses perjalanan iman. Saya merasakan bahwa masa penulisan skripsi adalah bagian proses perjalanan iman, karena saya sempat merasa dibuat tidak berdaya saat sidang skripsi dinyatakan tidak lulus. Dan saya merasa tidak mampu bangkit kembali jika tanpa pertolongan dari Tuhan.


Mengapa skripsi menjadi proses perjalanan iman?

photo credit: NEA Today

Skripsi sempat membuat saya merasa tidak berdaya

Pembuatan skripsi memakan waktu kurang lebih 1 tahun akademik. Setelah melewati masa-masa itu dengan segala tantangan dan kesulitan akhirnya tibalah saat yang mendebarkan yaitu sidang skripsi. Dan ternyata setelah sidang skripsi, saya dinyatakan gagal/tidak lulus dan harus mengulang 1 semester lagi. Saat itu saya merasa sangat sedih karena perjuangan saya terasa sia-sia, kecewa dengan diri sendiri, menyesal karena tidak mengerjakan skripsi dengan sungguh-sungguh, takut dimarahi, dan malu dengan teman-teman. Di situ saya seperti tidak punya harapan lagi, rasanya ingin keluar saja dan tidak melanjutkan kuliah lagi.


Kegagalan dalam skripsi membuat saya sulit bangkit lagi

Kegagalan kadang membuat kita sulit bangkit lagi. Itulah yang saya rasakan, karena saya belum pernah mendapatkan kejadian yang serupa dengan ini. Saya merasa tidak mampu untuk mengerjakan semuanya dari awal lagi. Akibat stres, diri seakan tidak memiliki semangat lagi, malas, dan berbagai penyakit mulai menyerang. Di situ saya menyadari bahwa dengan kekuatan sendiri saya akan sulit bangkit lagi.


Tidak ada yang dapat memberikan waktunya full untuk saya

Inilah yang saya rasakan ketika saya membutuhkan seseorang untuk dapat memberikan motivasi kepada saya. Saya merasa kesepian. Karena saat itu teman-teman yang lain juga sedang berjuang dengan skripsinya masing-masing. Saya pun takut bertanya, takut meminta-tolong, takut merepotkan, takut direndahkan dan takut diejek. Orangtua pun mungkin bukan pilihan yang tepat untuk bercerita karena saya takut mereka khawatir dengan keadaan saya. Saya membutuhkan teman untuk berbagi.

Baca juga: Terlambat Lulus Kuliah Bukan Akhir Dunia! Sebagai Mahasiswa, Kamu Masih Memiliki 7 Keuntungan Ini

Dari pengalaman yang saya alami, saya mencoba membagikan bagaimana cara saya menikmati skripsi sebagai bagian proses perjalanan iman.


1. Menyadari keterbatasan diri

photo credit: Solomon McCown & Company

Meremehkan skripsi adalah kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya pikir saya dapat mengerjakannya dengan cepat sama seperti tugas makalah lain. Sehingga saya selalu mengulur-ulur waktu. Tetapi ketika waktu sidang, dibantai oleh dosen penguji dan dinyatakan tidak lulus, barulah saya sadar, bahwa skripsi memang tidak mudah dan membutuhkan perhatian khusus. Dari sanalah saya belajar mengakui keterbatasan diri. Menyadari keterbatasan diri membuat saya merasa bahwa saya membutuhkan sesuatu yang lain di luar diri saya.


2. Menyadari bahwa beberapa semester telah berhasil dilalui

Melewati masa-masa kuliah sebelum menyusun skripsi bukanlah hal yang mudah. Ada banyak orang yang gagal karena beberapa hal, ada pula yang bisa melewatinya. Jika kita sudah sampai di tahap penyusunan skripsi, berarti kita telah sukses melewati semester sebelumnya. Pikirkan kembali apa kesusahan-kesusahan di masa-masa itu dan bagaimana kita dapat melewatinya dengan pertolongan Tuhan.


3. Membuat catatan-catatan kecil yang berisi ayat-ayat yang dapat memotivasi

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Begitulah kira-kira bunyi salah satu ayat yang memotivasi saya. Kadang kita perlu menuliskan ayat-ayat yang dapat membangkitkan semangat dan menaruhnya di tempat-tempat yang sering kita lihat. Tanpa disadari, kita akan mendapatkan semangat baru.


4. Tekun dan mendisiplinkan diri

photo credit: Pinterest

Punya daya juang. Ini kata beberapa orang terhadap saya setelah berhasil menyelesaikan skripsi saya yang kedua. Saya merasa bahwa daya juang tidak datang dengan sendirinya. Selain dari motivasi yang diberikan lewat teman-teman dan orangtua, hal ini dapat dibangkitkan lewat ketekunan dan disiplin diri. Sebenarnya, saya bukan orang yang rajin-rajin amat. Tetapi kita perlu membuat komitmen untuk tekun. Awal-awal memulai kembali penyusunan skripsi pasti sangat berat, tetapi saya berkomitmen untuk lebih sering datang ke perpustakaan untuk mengerjakan skripsi. Setidaknya berusahalah dalam satu hari ada tulisan yang diketik.


5. Jangan takut sharing bersama teman seperjuangan atau meminta tolong

“Dia saja bisa, kenapa saya nggak?” kata ini yang muncul dalam pikiran saya ketika kami selesai melakukan sharing bersama teman-teman seperjuangan. Sharing bersama teman-teman yang sedang mengerjakan skripsi atau yang pernah melewati skripsi ini sangat penting. Lewat sharing kita bisa belajar dari kesusahan orang dan bagaimana ia bisa melewatinya. Lewat sharing, kita juga tahu bahwa kita tidak berjuang sendiri, ada teman-teman yang juga mengalami hal yang serupa. Lewat sharing juga kita bisa memberikan kekuatan kepada orang lain.


6. Membuka mata terhadap orang-orang yang tidak seberuntung kita

Ketika sedang istirahat mengerjakan skripsi di perpustakaan kampus, saya sering berjalan ke belakang kampus untuk mendatangi warung mi yang sepi milik seorang ibu. Tidak hanya menikmati mi atau kopi buatannya, saya juga suka berinteraksi dengannya dan mendengar curhatan-curhatannya. Dengan mendengarkan dia, saya belajar bahwa masalah yang saya alami belumlah sebanding dengan apa yang orang lain alami. Momen itu juga dapat menjadi kesempatan kita untuk berbagi.

Saya juga mendapatkan pelajaran dari anak-anak jalanan di perempatan. Mereka masih kecil tapi tuntutan hidup mereka besar, mereka tidak hanya bersekolah tetapi juga harus mencari nafkah. Saya tertegur, saya punya kesempatan untuk bersekolah hingga kuliah tetapi semangat saya melemah hanya karena menghadapi kegagalan.

Dengan membuka mata terhadap orang di luar sana, kita belajar bersyukur atas apa yang telah kita capai dan miliki. Kita akan memiliki semangat yang baru. Melihat dunia luar membuat kita tidak terus-menerus mengasihani diri, tetapi menyadarkan betapa beruntungnya kita dan membangkitkan kepedulian kita terhadap sesama.


7. Percaya dan mempercayakan diri pada Tuhan

Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Terkadang kegagalan dipakai Tuhan untuk membentuk pribadi kita. “Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”. Kira-kira begitu kata-kata yang saya kutip dari sebuah ayat. Jadi setiap hal yang terjadi memiliki maksud dan tujuan. Demikian pula halnya dengan gagalnya skripsi. Kita perlu merefleksikan diri, apa yang harusnya kita pelajari dari kegagalan ini. Kesalahan-kesalahan apa yang perlu kita perbaiki. Tidak perlu menyesalinya terlalu dalam. Percaya saja bahwa Tuhan mengasihi kita dan Ia memiliki rencana yang indah dalam diri setiap kita.


8. Santai dikitlah

Santai dikit diperlukan untuk mengatasi kejenuhan. Setelah berlama-lama di depan tumpukan buku dan laptop, kita perlu “santai dikit”. Menurut saya, kita perlu memberikan porsi khusus dalam kegiatan yang melelahkan dan cukup membosankan seperti skripsi. Santai dikit atau waktu beristirahat merupakan anugerah, untuk itu kita perlu menikmatinya. Hal yang biasanya saya lakukan adalah berjalan-jalan naik motor, pergi ke hutan kota, dan lain sebagainya. Dengan bersantai sejenak kita dapat me-refresh pikiran kita. Tapi jangan terlalu sering bersantai, itu sama saja dengan kita melarikan diri dan menghindar dari kenyataan bahwa skripsi menunggu.


9. Beri diri sendiri reward sederhana

Dengan memberi reward sederhana kepada diri sendiri, kita juga belajar untuk mengasihi diri sendiri. Setelah berlelah-lelah mengerjakan skripsi, saya terkadang memberikan reward sederhana bagi diri saya sendiri. Tidak perlu dengan sesuatu yang wah, misalnya membeli makanan kesukaan. Tentu pemberian reward kepada diri sendiri ini bukan hanya memberi apreasiasi, tetapi juga mensyukuri pertolongan Tuhan yang memampukan kita untuk mencapai sesuatu. Jadi sambil menikmati reward, kita juga menaikan ucapan syukur kepada Tuhan.

Baca juga: Mahasiswa, Raih Pekerjaan Impianmu dengan Melakukan 7 Hal Ini dari Sekarang!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tidak Lulus Sidang Skripsi? Saya Pernah Mengalaminya! Ini Kisah Saya Mengalahkan Rasa Putus Asa dan Menyelesaikan Skripsi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Rebekha BP | @rebekhabrillian

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar