Terus Meremehkan Masalah Penting Ini, Pertengkaran, Perselingkuhan, dan Akhirnya Perceraian yang Terjadi. Jangan Terulang Lagi, Temukan Solusi di Sini!

Marriage

[Photo credit: Peter Hershey]

2.6K
Pertengkaran, perselingkuhan, dan perceraian bisa terjadi di tengah rimba ketidakpuasan.

Seorang pengusaha sukses dan bahagia - memiliki anak dan cucu yang sama-sama bahagia - membagikan sebuah cerita sederhana yang memberi pelajaran mahapenting bagi relasi keluarga maupun pacaran:

Perselingkuhan dan perceraian ternyata terjadi karena masalah penting yang kita remehkan.

Berikut cerita yang begitu menginspirasi saya dan saya harap juga mengilhami Anda.



Perjalanan Sebuah Sedan Tua

Sepasang suami-istri sedang mengendarai sedan mereka di jalan raya. Memang bukan mobil baru, hanya keluaran 90-an, tetapi masih cukup baik untuk digunakan.

Pada suatu persimpangan, sang suami melihat seorang pemuda dari arah berbeda mengendarai sedan dengan merk yang sama, tetapi produksi tahun terbaru dan sangat mulus.

Sang suami bergumam dalam hati, "Andaikan saja mobilku seperti pemuda itu."

Setelah berjalan lagi, giliran sang istri melihat sedan hitam sedang parkir di tepi jalan. Ia mengamati seorang kakek keluar dari mobil itu dan membuka pintu sebelahnya untuk seorang nenek yang duduk di sampingnya.

Kali ini sang istri terbetik dalam hati, "Seandainya saja suamiku seromantis kakek itu, sudah tua tetap membukakan pintu mobil untuk istrinya."

Ternyata, jika dua kisah ini diceritakan dari sudut pandang berbeda, sebuah pelajaran berharga bisa kita dapatkan.

Rupanya si pemuda pertama, yang sedang mengendarai sedan mahal, juga melihat kepada suami-istri ini.

Pada waktu yang sama, ia pun bergumam dalam hati, "Andaikan saja aku seperti bapak itu, walaupun mobil lawas tetapi milik sendiri. Daripada mobil terbaru seperti ini, tapi aku hanya sopir."

Begitu pula si kakek bersedan hitam, tanpa sengaja juga mencuri pandang kepada suami-istri ini. Pada saat itu pun, terbetik dalam hatinya, "Seandainya saja pintu mobilku tidak rusak seperti mobil ibu itu, pasti aku tidak perlu repot-repot harus membukanya dari luar."

[Photo credit: Ryan J. Lane]



Perjalanan di Tengah Hujan

Kisah kedua yang saya ingat karena begitu melekat, saya ceritakan untuk Anda.

Seorang suami sedang memboncengkan istrinya dengan sepeda berpapasan dengan pasangan suami-istri yang naik motor. Di dalam hati, sang suami yang mengayuh sepeda berkata, “Seandainya saya bisa punya motor, tentu saya tidak perlu capek-capek mengayuh.”

Tidak lama kemudian, pasangan suami-istri yang naik motor berpapasan dengan sebuah mobil yang dinaiki sepasang suami-istri. Pengendai motor berkata dalam hati, “Seandainya saya punya mobil, saya tidak perlu kehujanan seperti ini.”

Tanpa mereka ketahui, ternyata istri pemilik mobil berkata kepada suaminya, “Yang, aku kok iri dengan pasangan suami-istri yang naik sepeda tadi, ya. Meskipun basah kuyup mereka tampak mesra sekali!”

[Photo credit: wallpaperup]



Bahaya dari Hati yang Kurang Bersyukur

Jika benih iri hati kita pelihara, dia bisa tumbuh menjadi belantara yang mengerikan dan tidak layak untuk kita tinggali. Pertengkaran, perselingkuhan dan perceraian bisa terjadi di tengah rimba ketidakpuasan.

Dengan membandingkan pasangan kita dengan orang lain atau apa yang mereka miliki membuat dosa perzinahan dan setan perselingkuhan mengintip di depan pintu, menunggu saat yang tepat untuk masuk.

Lebih baik membunuh tunas iri hati itu ketika masih kecil dan menggantinya dengan benih ucapan syukur.



Butir-Butir Mutiara Hujan

Butiran mutiara hujan dari atas apa yang bisa kita ambil dari dua kisah di atas? Inilah tiga solusi cespleng yang membuat kita bahagia kembali jika kita melakukannya dengan kenceng.

[Photo credit: Joel Overbeck]


1. Jangan pernah melihat segala sesuatu hanya dari permukaan saja

“Kok pisang gorengnya menghitam begitu?” komentar seorang sahabat yang saya minta mencicipi pisang goreng favorit saya.

“Coba dulu sebelum berkomentar,” jawab saya singkat.

Setelah mencoba satu, teman saya itu hendak menghabiskan pisang goreng di atas piring tanpa menyisakan satu pun untuk saya seandainya tidak saya cegah.

“Penampilannya jelek, rasanya luar biasa,” ujarnya sambil mengacungkan kedua jempolnya.

Sebagai predator buku, saya sering mengutip ucapan bijak ini, “Don’t judge a book by its cover.” Buku yang cover-nya bagus, isinya belum tentu sebagus cover-nya. Sebaliknya, buku yang sampulnya tampak jelek ternyata isinya bagus luar biasa.

Orang lain yang kita anggap sukses ternyata banyak meneteskan airmata saat sendirian di kamar. Pasangan suami-istri yang tampak begitu bahagia ternyata bertengkar hampir setiap hari. Orang yang kelihatannya kaya raya sehingga menghambur-hamburkan uang untuk barang-barang branded dan sering berlibur keluar negeri ternyata hasil ngemplang uang banyak orang.

Ketika kita bisa mensyukuri bahwa meskipun tidak kaya-kaya amat, namun pasangan kita sudah melakukan yang terbaik untuk membuat rumah kita bak surga di muka bumi.

Percayalah,
jika Anda mengasihi pasangan Anda, pasangan Anda berubah menjadi lebih cantik dan tampan.

Jika yang di rumah saja sudah bisa memuaskan kita mengapa mencari yang lain dengan risiko hancurnya mahligai rumah tangga yang kita bangun bertahun-tahun, belasan tahun, bahkan puluhan tahun?



2. Ucapkan syukur atas apa yang kita miliki ketimbang membandingkannya dengan orang lain

"Develop an attitude of gratitude, and give thanks for everything that happens to you, knowing that every step forward is a step toward achieving something bigger and better than your current situation." - Brian Tracy

Kuncinya satu: kita akan berbahagia jika kita mensyukuri apa saja yang telah kita peroleh dan apa saja kelebihan kita dibandingkan kita yang dulu.

Percayalah, saat kita berhenti melihat kekurangan dan kelemahan pasangan kita serta menggantinya dengan memandang kelebihan dan kekuatan pasangan kita, hidup rumah tangga kita pasti lebih harmonis dan berbahagia.

Baca Juga: Sampai Maut Memisahkan, Bahkan Melampauinya. Sebuah Kisah Nyata



3. Dengan mensyukuri apa yang kita punya memberi peluang bagi kita untuk mendapatkan lebih banyak lagi

Saat saya memberi tip kepada sopir, cleaning service, pramusiwi, atau siapa pun yang saya anggap layak menerimanya dan mereka menunjukkan rasa syukurnya, saya ingin selalu memberi mereka lagi. Saya percaya, Tuhan senang dengan orang yang gampang bersyukur.

Saya setuju dengan apa yang Oprah Winfrey katakan: "Be thankful for what you have; you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough." Dia mengucapkannya karena menjalani apa yang dia ucapkan. Saya pernah melihat dia membagi-bagikan sebuah mobil kepada setiap pengunjung yang menyaksikan talk show-nya.

Saat saya mengucap syukur dalam hati atas masakan istri saya yang lezat dan mengucapkannya lewat mulut, bukan saja muka istri saya berseri-seri dan tentu saja tambah cantik, tetapi membuatnya lebih rajin membuatkan saya masakan yang lebih lezat lagi tanpa diminta. Asyik, bukan?

Baca Juga: Rahasia Sukses Sejati: Ringan Tangan, Ringan Hati


Jika Anda mendapat manfaat dari tulisan ini, salah satu bentuk ucapan syukur adalah membagikannya, agar orang lain pun mendapat pencerahan yang sama.




Baca Juga:

Sejak Bercerai dengan Istri, Saya Hanya Punya Ini. Surga Menjadi Neraka, karena Celah Perselingkuhan Dibiarkan Terbuka. Bisakah Kita Membalikkannya?

Mengapa Kita Tidak Pernah Merasa Cukup? Jawabannya Ternyata Sederhana Saja

Makarel Bercacing dan Kita, yang Begitu Gampang Meradang Saat Dirugikan [tapi Lupa Berterima Kasih Saat Dilimpahi Kasih]





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terus Meremehkan Masalah Penting Ini, Pertengkaran, Perselingkuhan, dan Akhirnya Perceraian yang Terjadi. Jangan Terulang Lagi, Temukan Solusi di Sini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar