Teror Bom di Surabaya: Bagaimana Semestinya Kita Menyikapinya?

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Sharon McCutcheon]

2.1K
Sebagai warga Surabaya dan Indonesia, apa yang semestinya menjadi sikap kita dalam menghadapi peristiwa teror semacam ini?

Saya berada di jalan dari Surabaya Barat ke Surabaya Timur. Di perempatan Jalan Diponegoro saya melihat polisi memasang police line. Tampak banyak sekali polisi berlaras panjang berjaga-jaga di sepanjang jalan.

Ada tiga bom yang meledak di tiga gereja. Di Jalan Diponegoro, Arjuno, dan Ngagel.

Lini masa media massa nasional langsung menurunkan breaking news. Di grup WA berseliweran foto dan video yang begitu cepat menjadi viral. Kecuali di TKP - meskipun berantakan, keamanan berangsur kondusif - hal yang sangat diharapkan oleh segenap masyarakat khususnya di Surabaya, lebih khusus lagi di sekitar tiga gereja lokasi meledaknya bom bunuh diri.

Sebagai warga Surabaya dan Indonesia, apa yang semestinya menjadi sikap kita dalam menghadapi peristiwa teror semacam ini?



1. Tetap tenang

Kepanikan justru membuat masalah semakin parah. Ketika berada di sebuah gedung bioskop di Surabaya puluhan tahun yang lalu, saya dan para penonton dikejutkan dengan bau dan asap yang memenuhi gedung bioskop tersebut. Tanpa disuruh secara serentak kami berhamburan ke arah pintu keluar. Di situasi yang menegangkan itu, ada seorang bapak yang berdiri di atas kursi bioskop dan berteriak agar kami tetap tenang dan dengan tertib keluar gedung. Berhasil. Penonton tiba-tiba tertib dan bisa keluar gedung dengan selamat semua. Seandainya tidak ada bapak itu, bisa jadi ada di antara kami yang jadi korban, bukan karena kebakaran itu sendiri melainkan karena terinjak-injak penonton lain.

Demikian juga di saat teror bom berlangsung, polisi dengan sigap meminta semua jemaat untuk tetap tinggal di gereja. Sementara itu gegana menyisir gereja untuk menemukan bom lain yang belum meledak. Baru setelah itu jemaat dievakuasi ke tempat yang aman dan polisi meneruskan tugas.

Masyarakat yang tidak bersentuhan langsung dengan teror bom diharapkan tetap tenang sehingga tidak menambah kekacauan.



2. Tidak perlu takut berlebihan

Rasa takut adalah defence mechanism penting yang built up di dalam diri kita. Artinya,

Tuhan mempersiapkan rasa takut agar kita tidak sembrono dan justru mendatangi tempat, makhluk, atau hal-hal yang bisa menimbulkan celaka.

Misalnya, jika ada letusan gunung - seperti yang baru terjadi di Gunung Merapi, Jogja - rasa takut yang wajar membuat mereka mau dievakuasi atau pergi menjauh dari pusat bencana. Terbukti dari letusan gunung di masa lalu, orang-orang yang bertahan di sana justru meninggal dunia - entah karena wedhus gembel, lava atau debu vulkanik yang membuat nafas menjadi sesak. Orang-orang tua yang sebelumnya sudah sakit sangat rentan terhadap bahaya semacam ini.

Namun, ketakutan yang berlebihan bukan hanya membuat teror itu ‘berhasil’ tetapi juga membuat roda perekenomian lumpuh. Apa yang terjadi jika semua orang tiba-tiba saja tidak berani keluar rumah dan melakukan aktivitas? Bukan hanya pelayanan publik berhenti, roda pembangunan ikut pula mandek. Sektor ekonomi bisa lumpuh. Produktivitas bukan saja menurun melainkan anjlok sampai ke titik paling bawah.

Kalau hal ini terjadi terus-menerus dalam waktu yang lama, negara sekuat apa pun bisa ambruk. Itulah sebabnya negara perlu bertindak tegas dan mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa negara masih ada, berkuasa dan berdaulat.



3. Sedih

Kesedihan terhadap peristiwa semacam ini sudah sewajarnya muncul bukan hanya di kalangan pemimpin - seperti yang sudah diungkapkan Surya Paloh - melainkan di hati setiap kita. Bisa saja kita berada jauh dari peristiwa itu atau berada di Surabaya tetapi tidak ikut menjadi korban, rasa sedih itu bisa berkelindan dengan rasa simpati dan empati yang mendalam. Ingat, jika saudara kita mengalami kemalangan, kita pun ikut merasakan penderitaan itu.

Sebagai sesama anak bangsa, adalah wajar jika kita ikut merasakan kesedihan yang luar biasa atas peristiwa ini. Jika kaki kita terluka atau lumpuh, maka perut bisa kelaparan karena kaki tidak bisa digerakkan untuk bergerak menuju pusat pangan. Kalaupun kaki mau bergerak tetapi tangan tidak mau digerakkan, maka mulut tetap akan pasif karena tidak ada makanan yang bisa dikunyah. Perut pun tetap keroncongan. Pada gilirannya mata akan berkunang-kunang karena seluruh tubuh kelaparan. Fungsi organ lain terganggu.

Artinya,

jika kita tidak bisa berbuat sesuatu - apalagi memberikan pertolongan secara langsung - paling tidak jangan kita membuat masalah baru.



4. Jangan menyiram luka dengan cuka

Imbauan dari Kapolda Jatim untuk tidak menyebarkan foto maupun video para korban patut kita taati. Sebaran itu bukan saja membuat pelaku puas karena misi untuk membuat chaos dan rasa takut terhadap masyarakat sukses, melainkan juga menimbulkan kepedihan di hati korban.

Jika kita tidak bisa menolong,
jangan menjadi penonton yang mati rasa.

Di dunia yang dipenuhi gadget seperti sekarang ini, mau tidak mau, kita akan terpapar oleh informasi semacam ini. Namun, please jangan ikut menyebar luaskan foto dan video yang menggambarkan kekerasan. Jika keluarga korban, bahkan korban itu sendiri, melihat tautan yang kita sebarkan, mereka menjadi korban untuk kedua kalinya.

Baca Juga: Mengapa Kita Tidak Perlu Ikut Menyebarkan Foto-Foto Vulgar Korban Kekerasan Melalui Media Sosial? Ini 3 Alasannya



5. Beri kepercayaan dan dukung pemerintah

Di saat seperti ini, kita tetap percaya bahwa pemerintah mampu dan mau menegakkan keadilan. Beri mereka waktu.

Jika kita punya informasi yang memperlancar tugas mereka, misalnya menemukan bom yang masih aktif, informasi ini sangat berguna untuk meminimalkan kemungkinan jatuhnya korban, bahkan menggagalkan pengeboman.

Sikap apatis dan acuh tak acuh
membuat teror bom berkelanjutan.

Di samping doa yang terus-menerus dipanjatkan oleh segenap lapisan masyarakat yang peduli bangsa, dukungan yang kita berikan kepada pemerintah membuat mereka bekerja semakin optimal.

Dengan optimisme dan kerja bersama seluruh lapisan masyarakat, niscaya negara kita akan aman terkendali dan - harapan kita semua - peristiwa menyakitkan ini tidak terulang, baik di Surabaya maupun di daerah lain.

Tuhan menyertai setiap umat-Nya di bumi pertiwi ini.




Baca Juga:

"Teroris Itu Apa Sih, Ma?" Tiga Jawaban Jitu untuk Pertanyaan Anak tentang Terorisme

Bagaimana Membicarakan tentang Terorisme kepada Anak Tanpa Membuat Mereka Takut atau Trauma? Ini 3 Kiatnya






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Teror Bom di Surabaya: Bagaimana Semestinya Kita Menyikapinya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar