Terbuka atau Telanjang: Sisi Gelap Kehidupan, Perlukah Disampaikan kepada Pasangan?

Love & Friendship

[Photo credit: Ashton Bingham]

8.2K
Saya sudah tidak perawan. Dulu saya memang nakal, Pak. Sekarang saya menyesal. Saya takut diputuskan.

“Saya dulu bekas pecandu narkoba,” ujar seorang pria kepada pacarnya.

“Saya dari keluarga broken. Terus terang, keluargaku lagi mengalami kesulitan keuangan. Itulah sebabnya saya harus kost meski sama-sama tinggal di kota ini. Saya harus ikut menanggung utang keluarga,” ujar seorang sales kepada calon istrinya.

“Pak Xavier, saya takut mengungkapkan kepada pacar saya bahwa saya sudah tidak perawan lagi. Saya dulu memang nakal, Pak. Sekarang saya menyesal. Saya takut diputuskan. Bagaimana enaknya?” ujar seorang gadis yang tidak lama lagi akan menikah.


Jika Anda menjadi salah satu dari tiga contoh kasus nyata di atas, haruskah Anda menceritakan ‘aib’ atau sisi gelap Anda kepada calon istri/suami Anda?

Dari pengalaman saya mengkonseling orang, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan sebelum membuka ‘aib’ Anda kepada calon pasangan Anda seumur hidup.



1. Terbuka tidak berarti telanjang

Itulah yang sering saya katakan kepada orang yang datang kepada saya. Artinya:

Tidak semua hal perlu diceritakan kepada pacar kita. Bahkan setelah menikah pun ada masa gelap kita yang tidak harus diungkapkan kepada pasangan.

Ini contohnya. Seorang suami mengaku kepada istrinya bahwa dia pernah selingkuh. Istrinya keluar rumah dan tidak pernah kembali. Tidak lama kemudian sang suami dihubungi pihak kepolisian yang melaporkan bahwa istrinya mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan dirinya sendiri ke kereta api yang sedang lewat.

Baca Juga: Belajar dari Tax Amnesty: Ungkap Sejauh Apa dan Tebus Bagaimana yang Dapat Membawa Kelegaan dalam Relasi dengan Pasangan?



2. Perlu hikmat dan tahu kapan waktunya

Jangan sampai kejadian seperti di atas menimpa Anda karena Anda terlalu cepat menyampaikan aib Anda kepada pacar atau pasangan Anda.

Bukankah saat kita hendak menyampaikan kabar buruk kepada seseorang kita perlu menunggu momen yang tepat? Kadang kabar baik pun, jika disampaikan terlalu cepat, hasilnya bisa negatif.

Seorang istri mendatangi seorang rohaniwan dan berkata, “Pak, tolong sampaikan kepada suami saya bahwa dia menang undian satu milyar rupiah.”

“Lho, kok bukan Ibu sendiri yang menyampaikan?”

“Soalnya, Bapak kan sakit jantung. Saya khawatir berita gembira ini malah membuatnya terkena serangan jantung.”

Rohaniwan itu menyanggupi permintaan sang istri. Segera saja dia mengatur strategi dan waktu yang tepat untuk menyampaikan kabar baik ini.

Suatu sore, ketika sang suami sedang santai di depan rumah sambil ngopi dan makan pisang goreng, dengan hati-hati sang rohaniwan berkata, “Pak, seandainya Bapak menang undian satu milyar rupiah, apa yang akan Bapak lakukan dengan uang itu?”

Dengan tertawa gembira, sang suami berkata singkat, “Yang separuh akan saya berikan kepada Bapak!”

Wajah rohaniwan itu memucat dan tiba-tiba jatuh tidak bernyawa lagi. Dia terkena serangan jantung!



3. Sampaikan secara bertahap sesuai dengan kesiapan hati yang menerima

Saya sedang berada di Sydney untuk memimpin camp keluarga selama lima hari. Di hari terakhir, ada sepasang kekasih yang datang kepada saya. Mereka sudah saling jatuh cinta, tetapi hubungan mereka tidak disetujui oleh orangtua pihak wanita. Penyebabnya? Sang pria seorang duda dan sudah punya seorang anak. Istrinya meninggal karena kanker kandungan. Usia pria itu lima tahun di atas si wanita.

Saya meminta mereka untuk berterus terang kepada keluarga. Mula-mula mereka takut. Setelah melalui doa dan pergumulan, akhirnya sang pria mendatangi keluarga wanita dan menjelaskan secara detail permasalahan mereka. Saya dengar belakangan, mereka diizinkan menikah.




Apakah Anda punya sisi gelap yang selama ini Anda sembunyikan? Bagaimana hasilnya jika diungkapkan?

[Photo credit: Aaron Anderson]

Mari kembali ke tiga kasus di awal tulisan.

Kasus pertama. Begitu tahu pacarnya dulu pecandu, si wanita memilih untuk memutuskan hubungan, “Saya khawatir dia bisa jadi pencandu lagi.”

Kasus kedua. Sang calon istri memutuskan hubungan karena keluarganya khawatir hidup putri mereka akan susah karena pacarnya masih harus menanggung utang keluarga.

Kasus ketiga. Saat saya minta ia untuk berterus terang kepada pacarnya—tentu dengan risiko yang sudah ia pertimbangkan baik-baik—pacarnya, meskipun sedih, tetap menerima dirinya.

“Saya juga punya sisi gelap, Pak Xavier. Saya dulu peminum. Saya sudah berhenti minum. Pacar saya juga berjanji tidak akan mengulangi lagi kenakalan masa remajanya. Masa saya tidak mengampuninya?” ujar pria itu kepada saya.

Baca Juga: Hati-hati! 4 Hal Ini Tak Boleh Kita Bagikan pada Kekasih sebelum Pernikahan


Nah, dari kasus nyata di atas, haruskah Anda membuka sisi gelap Anda kepada pacar atau pasangan? Pilihan tetap ada di tangan Anda. Yang paling penting, mohon hikmat dan petunjuk kepada Yang di Atas. Kiranya pilihan Anda tepat.



“Humans have a light side and a dark side, and it’s up to us to choose which way we’re going to live our lives. Even if you start out on the dark side, it doesn’t mean you have to continue your journey that way. You always have time to turn it around.”

- Taraji P. Henson




Baca Juga:

Pacar Mengaku Tak Lagi Perawan atau Perjaka. Apa Sikap Terbaik yang Bisa Dilakukan?

Perselingkuhan, Pengampunan, dan Satu yang Selamanya Tak Mudah: Penerimaan Kembali

Sebelum Penyesalan Hadir, Bijaklah Membuat Pilihan. Sebuah Kisah Nyata





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terbuka atau Telanjang: Sisi Gelap Kehidupan, Perlukah Disampaikan kepada Pasangan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar