Tentang Seorang Perempuan dan Hangat Peluk yang Masih Saya Rasakan Hingga Sekarang

Parenting

[Photo credit: Journey Yang]

2.3K
Menyambut Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2018, saya mengais serpihan kenangan saya bersama perempuan terhebat sepanjang masa.

Seorang mahasiswi di Bandung dikunjungi mamanya di tempat kost-nya. Baru saja mamanya tiba, mahasiswi itu dengan wajah tidak suka bertanya, “Kapan Mama kembali ke Cirebon?” Tentu saja mamanya tidak suka diperlakukan demikian. Hubungan mama dan anak ini memang tidak baik.

Apa penyebabnya? Rupanya sejak kecil mahasiswi ini diperlakukan dengan keras oleh mamanya. Salah sedikit sudah dipukul. Belakangan, mahasiswi yang sudah sukses menjadi wanita karier itu berdamai dengan mamanya.

Apa yang terjadi? Tanpa sengaja dia mendengar mamanya bercerita tentang masa kecilnya saat masih di Tiongkok. Dia diperlakukan dengan keras oleh mamanya. Di usia yang masih sangat dini, dia harus bekerja keras membantu urusan rumah tangga. Bahkan di musim dingin sekalipun dia harus terus mencari kayu bukan hanya untuk pediangan melainkan juga untuk masak memasak.

“Jika Mama berlaku keras kepadaku, itu bukan karena sifatnya, melainkan dipaksa oleh keadaan,” ujar ibu sukses itu. “Tanpa sadar, didikan yang keras membuatnya melakukan hal yang sama saat mendidik aku. Mama bukan pelaku, tapi korban. Sejak menyadari hal itu, saya memaafkan Mama, meminta ampun kepadanya atas sikapku yang dingin kepadanya dan mengasihinya sepanjang sisa usianya.”

Sebuah video viral yang dikirimkan ke saya seolah-oleh mewakili kisah ibu yang sukses berekonsiliasi dengan mamanya. Di dalam video pendek itu digambarkan seorang wanita muda menggendong balita di pundaknya sambil memikul kayu bakar dalam jumlah besar di pundaknya. Dia lalu mencangkul ladangnya, menanaminya, menyiraminya, dan setelah berbuah, memanennya. Karena tidak punya pengasuh bayi, ke mana pun anaknya digendong di pundaknya. Masak dan makan pun anaknya tetap nempel di punggung. Saya share video itu ke mama-mama muda agar menjadi inspirasi bagi mereka.

Menyambut Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2018, saya mengais serpihan kenangan saya bersama mama tercinta yang sudah bersama Sang Khalik.



Mama rela berkorban sejak awal

Sebagai bungsu dari 10 bersaudara - 5 laki-laki dan lima perempuan, kakak perempuan tertua sudah dipanggil Tuhan sejak kami adik-adiknya belum lahir - saya merasakakan Mama berkorban paling sedikit untuk dua hal.


Pertama, untuk melahirkan saya.

Meskipun sudah berpengalaman 9 kali melahirkan anak secara normal - saat itu belum zaman operasi caesar - bagaimanapun juga melahirkan anak adalah masalah hidup dan mati.


Kedua, mengasah-mengasih-mengasuhku dengan tetesan keringat dan air mata cinta.

Saya ingat, suatu kali Mama menggendong saya dan tidak memperhatikan bahwa ada sungai di depannya. Dia jatuh ke bawah sambil tetap menggendong saya. Ajaibnya, Mama sampai di dasar sungai yang tidak terlalu deras airnya, masih tetap menggendong saya.

Saya percaya, pasti ada rasa sakit, entah di pinggang entah di kaki. Namun, setiap menceritakan hal itu, Mama menceritakannya sambil tersenyum.

[Photo credit: Twyla Jones Photography]
Kasih menutupi segala sesuatu,
termasuk sakit karena berkorban
melindungi si bungsu.

Baca Juga: Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya



Mama selalu memeluk dan menyelimutiku saat aku kedinginan

Saya punya sakit radang sendi. Pada perubahan musim - musim kemarau ke musim hujan dan sebaliknya - saya merasakan persendian saya ngilu.

Tanpa saya minta,
Mama selalu menyelimuti saya.

[Photo credit: Sharina Mae Agellon]

Bukan hanya itu,
Mama senantiasa memeluk saya.

Begitu mendengar saya batuk, Mama spontan memeluk saya erat-erat, seakan-akan hendak memindahkan sakit saya kepadanya.



Mama masih memberi saya uang meskipun saya sudah bekerja

Selesai kuliah S1, saya bekerja di perusahaan minyak Perancis. Setiap kali pulang ke kampung halaman saya di Blitar dan hendak kembali ke tempat kerja, Mama selalu memberi saya uang. Jumlahnya mungkin tidak besar. Saya lupa nilainya pada saat itu. Namun, yang saya tahu:

[Photo credit: Om Prakash Setia]

Di balik pemberian itu
ada cinta kasih yang besar.



Tanggal 8 Maret seluruh dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Mama saya tidak pernah mendapat award sebagai The Woman of the Year, misalnya. Namun bagi saya pribadi, Mama layak mendapat The Woman of the Decade! Atau kalau bisa lagi, Perempuan Terhebat Sepanjang Masa.

Ketika di usianya yang 93 tahun Mama terjatuh di kamar mandi dan dibawa ke Solo untuk dioperasi tulangnya, Mama terus-menerus minta pulang. Saya berangkat ke Solo. Saat Mama dibawa pulang ke Blitar, saya berangkat ke Blitar tepat pada waktunya.

Tidak lama setelah saya tiba, Mama mengembuskan napas yang terakhir. Namun, sampai detik saya menulis tulisan ini, pelukan dan senyum Mama masih melekat di hati.

Sampai ketemu kembali, Mama!




Baca Juga:

Bukan 'Aku Sayang Padamu' Melainkan Ini: Satu Kalimat yang Akan Membahagiakan Ibumu Hari Ini

Inilah 5 Hal Istimewa yang Dimiliki oleh Para Super Moms, Ibu Rumah Tangga yang Luar Biasa

Sebuah Kisah tentang Perempuan dan Kekuatan Super yang Mereka Miliki





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Seorang Perempuan dan Hangat Peluk yang Masih Saya Rasakan Hingga Sekarang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Naif Wasem | @naifwasem

aku jadi inget ibu ...:( trimakasih gan ... :) maap yah nitip Dompet Kulit Sepatu Kulit