Tentang Saya yang Selamanya Seniman dan Mereka yang Selamanya Orangtua

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Agustin Oendari]

5K
Sering sekali saya berharap jadi anak yang sempurna. Sering sekali juga saya berharap sebaliknya, punya orang tua yang sempurna.

22 Desember 2017 / Jam 5:55

Ditulis pagi ini, saat pagi jingga di sini. Hari ini Hari Ibu.



Hai, Anda pernah seperti saya?

Sering sekali saya berharap jadi anak yang sempurna: lulus kuliah jadi mahasiswa terbaik; punya pacar yang direstui dengan mudah oleh orang tua, punya kerjaan yang gak perlu begadang tapi selalu membawa uang; taat beribadah, beriman, bertakwa, rajin ke gereja.

Tapi, sering sekali juga saya berharap sebaliknya, punya orang tua yang sempurna: ngerti mimpi-mimpi saya; mendukung cita-cita saya; mengasihi pria yang saya sayangi; dan, ah, banyaklah.

Sepanjang 28 tahun hidup saya yang sebetulnya belum seberapa ini, sering sekali saya berharap demikian. Namun, sering sekali juga saya belajar menyadari

bahwa kadang memang harapan hanya harapan,
dan yang namanya kesempurnaan itu gak ada.

----------


Ketika dihubungi untuk sekali lagi nulis lagu buat film, saya excited! Sebagai pendatang baru di industri musik, ini ketiga kalinya saya nulis lagu untuk film layar lebar. Gak nanggung-nanggung, kali ini filmnya Ernest Prakasa, salah satu sutradara muda Indonesia yang saya kagumi.

Pertengahan Agustus 2017. Malam itu adalah malam yang biasa ketika saya dan Ivan Gojaya, rekan saya dalam bermusik [dan dalam segala hal], tiba-tiba diminta lewat telepon oleh Ernest untuk nulis satu lagu buat filmnya. Belum tau jelas ceritanya apa. Script-nya dikirim menyusul.

Kaget dan bahagia bercampur dengan dagdigdug. Nunggu, nunggu, nunggu, dan datanglah draft skenario pertama. Ternyata, kisahnya tentang hubungan anak dan orang tua.

Damn. Susah.



Saya lahir di keluarga yang lengkap. Tumbuh dengan baik dan terawat berkat dua orangtua yang rajin bekerja. Mereka galak demi disiplin, dan pengasih demi manjain. Kedua kakak saya menginspirasi, mereka teladan-teladan yang baik. Yang satu lulus kuliah hukum dengan sangat singkat dan nilai cemerlang. Satunya jadi dokter yang melayani Jakarta dengan tulus.

Meskipun saya bukan anak yang berprestasi-berprestasi amat, masa remaja saya mau tak mau mesti berjalan rapi, supaya setidaknya selaras dengan keluarga sebaik-baik ini. Banyak waktu dihabiskan untuk aktif berkegiatan di sekolah dan universitas unggulan. Saya rela untuk gak punya keinginan macam-macam, asal hidup saya di tengah keluarga ini baik-baik saja. Tapi, lama-lama gak tahan.

Akhirnya saya keluar dari rumah, berhenti kuliah, hidup sendiri, mengejar mimpi sejak kecil, dan memutuskan jadi seniman: bermusik, nulis lagu. Sementara, sejauh yang saya tau, di keluarga besar kami, belum ada tuh yang jadi seniman, yang notabene hidupnya cenderung identik dengan tanpa aturan dan sulit dipahami.

Sejak itu, saya merasa hubungan dengan orang tua jadi hal yang runyam. Banyak hal yang tidak kami mengerti dengan cara yang sama. Banyak hal sulit terjelaskan karena bahasa kami berbeda. Seakan mereka tetap di dunia mereka, sementara saya terlempar ke dunia yang asing. Sendirian.



Seseorang pernah bilang ke saya, ada setidaknya dua profesi yang sama sekali gak pantas berbohong demi apa pun. Satu, ilmuwan; dua, seniman.

Saya setuju.

Sebagai salah satu di antara keduanya, saya wajib untuk jujur, terutama dalam berkarya. Oleh karena itu, nulis lagu untuk Susah Sinyal, susah banget!

Saya bukan anak yang sempurna, dan bagi saya, mereka yang berada jauh di rumah sana, juga bukan orang tua yang sempurna. Harus nulis lagu model gimana, coba?

Alhasil, lagu tersebut baru selesai setelah delapan kali revisi yang bertubi-tubi. Syukurlah, lagunya kelar dengan baik.



Tiba waktunya premiere. Jumat malam, 15 Desember 2017.

Seperti biasa, suasana premiere ramai. Hiruk-pikuk di sini-sana. Para undangan bercengkerama. Awak media sibuk dengan peralatan besar-besar. Puluhan, bahkan mungkin ratusan, selebriti hadir malam itu. Menjadi tanda bahwa foto bersama adalah wajib hukumnya di situ. Kilat-kilat blitz terang dan redup bergantian. Kaos biru Susah Sinyal terlihat di mana-mana. Ticket booth dikerubung massa. Antrian popcorn panjang. Toilet penuh. Semua sibuk.

Sementara, saya bukan orang yang suka keramaian dan lebih memilih diam-diam saja, merokok di pojokan, menunggu jam tujuh lima belas untuk duduk tenang dan menonton film yang sudah saya nantikan beberapa bulan terakhir.

Seratus sepuluh menit berlalu dalam dinamika bahagia, sedih, nangis, dan ketawa bergantian. Seratus sepuluh menit berlalu terisi dengan banyak hiburan sekaligus pesan. Dalam seratus sepuluh menit itu, di antara banyaknya adegan, saya menyadari satu potongan film di mana lagu yang saya tulis terdengar.

Di potongan singkat itu, tiba-tiba saja saya nangis.

Padahal sebelumnya saya sudah yakin gak akan nangis. Jelas-jelas saya sudah baca script-nya. Eh, tapi tetep nangis tuh.

Saya nangis, karena sepertinya memang bukan kebetulan,

bahwa pada waktunya
setiap orang akan mengerjakan apa yang harus dikerjakan,
dan ditempatkan di mana harus ditempatkan.

Lagu yang saya tulis bersanding dengan lagu musisi-musisi lain di dalam Susah Sinyal: TheOvertunes, Rendy Pandugo, MarcoMarche, Ardhito Pramono, Stars & Rabbit. Bersama-sama, karya kami beriringan menceritakan kisah tentang dua orang, ibu dan anak, yang sama sekali tidak sempurna. Di script, tidak sejelas itu. Di film, semuanya jadi nyata.



Pada akhirnya, orang tua dan anak akan sama-sama jadi orang dewasa.

Dari Susah Sinyal saya jadi sadar itu.

Tidak peduli rentang usia. Keduanya pada akhirnya adalah orang dewasa, yang punya pengalaman masing-masing, luka masing-masing, takut dan cemasnya masing masing, pengorbanan masing-masing. Masa lalu masing-masing. Ketidaksempurnaan masing-masing. Yang sering terlupa, keduanya pantas untuk punya masa depan masing-masing.

Selisih pasti selalu ada. Beda pandangan. Beda pola pikir. Beda bahasa. Beda dunia. Seperti orang tua saya di dunia mereka, dan saya di dunia yang asing ini. Namun, bila saat kanak-kanak salah satu lebih banyak belajar saling mengalah, saat dewasa keduanya mesti belajar saling menerima.

Mimpi, keinginan, dan tujuan juga mungkin berbeda-beda. Namun, bila saat kanak-kanak kita mesti saling menemani, wajar sekali saat dewasa keduanya belajar untuk berjuang sendiri-sendiri. Tidak perlu ada yang salah tentang itu.



Waktu akan mengalahkan banyak hal pada akhirnya.

Lewat Susah Sinyal juga saya juga jadi sadar itu.

Sebagai anak, ketika saya berpikir bahwa waktu akan masih banyak tersedia, rasanya tidak akan sepenting itu untuk memperjuangkan hubungan dengan orang tua. Tapi, bila saya berpikir atas nama masa depan, membayangkan bahwa waktu akan sampai di ujungnya nanti dan orang tua akan tidak ada lagi, saya mungkin jadi berpikir sebaliknya. Entahlah.

Dan, bukan tidak mungkin, jauh di sana, kedua orang tua saya juga berpikir sama, bahwa selama ini ekspektasi mereka yang tidak bisa saya penuhi, hanyalah hal-hal yang semu. Bahwa mungkin mereka akan lekas menyadari bahwa atas nama masa depan, saling menerima akan lebih mudah ketimbang terus saling bantah. Entahlah. Semua hal mungkin.

Dan, sebagai orang dewasa, rasanya patut mempertimbangkan bahwa segala hal memang mungkin. Atas nama masa depan. Entahlah.



Ngerjain Susah Sinyal, memang agak nyusahin [tapi tetep seru lho!]. Nontonnya pun, juga nyusahin, susah napas karena banyak nangis [dan ketawa]. Tapi, pelajaran yang saya terima, banyak. Dan, tentunya, bakal jadi pelajaran yang coba saya nikmati beberapa waktu ke depan, selagi orang tua masih ada.

Entahlah kapan dan bagaimana hubungan saya dan orang tua akan jadi langgeng. Karena saya tau, selamanya saya seniman, dan selamanya pula mereka orang tua. Yah, doain aja.

Kalaupun hubungan kami gak langgeng-langgeng juga, saya akan tetap memilih untuk sesering mungkin menyampaikan doa dari jauh kepada Semesta Alam: semoga mereka tetap sehat dan bahagia, melewati banyak hal dengan sukacita, dan menikmati hidup dengan bersyukur.

Saya sering berandai-andai, kalau saja dunia yang asing ini memilih orang lain untuk jadi bagian di dalamnya dan bukan saya, mungkin hidup saya gak akan serumit ini. Namun, seperti saya bilang di awal, berharap saya jadi anak yang sempurna atau berharap mereka jadi orang tua yang sempurna itu mustahil. Dan, kesempurnaan itu gak ada.

Hal-hal yang sudah terjadi, ada di belakang, di balik pundak kita. Masa depan ada di depan, kita mesti melangkah.

----------


Oh ya, hari ini Hari Ibu. Tidakkah Anda bertanya-tanya, kenapa langit demikian indah pagi ini? Di balik pepohonan dan bangunan-bangunan sedingin baja, ada langit jingga pada pagi ini. Rasanya, jingga adalah hadiah senja bagi pagi, dan pagi bagi senja.

Seperti Ibu bagi Saya, dan Saya bagi Ibu.

Para ayah pun akan bersyukur untuk ibu, dan untuk berbagai kehidupan yang telah dilahirkannya.



Catatan:

Bukan mau promo, karena Saya bukan buzzer juga. Tapi silakan nonton film Susah Sinyal, sudah hadir di bioskop seluruh Indonesia kemarin, 21 Desember 2017. Ajak keluarga, ajak pacar, ajak sahabat, atau siapapun yang disayang. Jangan lupa bawa tissue secukupnya, takutnya ingusan, dan jangan makan kebanyakan sebelum nonton, takutnya gumoh kebanyakan ketawa.

Saya dan Ivan Gojaya nulis satu lagu di situ, judulnya Untuk Mama, dinyanyikan oleh Aurora Ribero. Kalau suka, silakan dengerin lagunya, beli tracknya, hargai artisnya, jangan bajak karyanya.

Sampai ketemu di bioskop!




Baca Juga:

Tentang Aku, yang Menghabiskan Sebagian Besar Waktu Hidup Membenci Bapakku

Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal Ini!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Saya yang Selamanya Seniman dan Mereka yang Selamanya Orangtua". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


agustin oendari | @oendari

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar