Tak Ada Masa Depan Relasi Tanpa Pengampunan. 3 Hal Membuat Pengampunan Bisa Terjadi

Marriage

[image: Marriage Resource Centre]

3.1K
Tanpa kekuatan pengampunan, bahkan pernikahan terbaik pun akan menjadi tugas yang berat.

Dalam sebuah rumah tangga, pasangan suami istri mana yang tidak pernah berbuat salah? Suami istri mana yang bebas dari pertengkaran? Ya, semua pasti pernah mengalaminya! Hal ini adalah proses alami yang akan terjadi dalam sebuah ikatan yang namanya suami-istri. Tidak peduli seberapa dalam mereka mencintai dan berusaha untuk saling menyenangkan, tetapi kegagalan yang membawa kekecewaan selalu ada di depan mata. Dengan kegagalan akan datang rasa sakit, dan satu-satunya cara untuk mengobati adalah dengan memberi pengampunan.

Salah satu kunci untuk dapat mempertahankan pernikahan yang terbuka, intim, dan bahagia adalah meminta dan memberikan pengampunan dengan cepat, tanpa adanya paksaan. Kalau orang jawa bilang dengan LEGOWO. Inilah tiga hal yang dapat menolong kita untuk memberikan pengampunan dengan legowo:



1. Latihan.

Seperti memasuki medan peperangan, yang mengharuskan setiap orang berlatih agar memperoleh kemenangan, demikian juga sebuah pernikahan yang baik membutuhkan latihan. Awal pernikahan kami pun mengalami masa-masa sulit. Sebagai dua orang yang berbeda latar belakang, budaya, dan cara mendidik dalam keluarga, kami mengalami gesekan demi gesekan. Saya yang bertemperamen kolerik dan suami saya yang melankolis, membutuhkan waktu agak lama dalam berbagai proses penyesuaian. Semua itu tidaklah mudah untuk kami.

[image: Our Everyday Life]

Kami membutuhkan latihan setiap harinya untuk meminta maaf dan memberi pengampunan.

Sampai usia pernikahan kami yang hampir memasuki sembilan tahun, hal tersebut masih kami lakukan demi menjaga pernikahan yang sehat.

Baca Juga: Dua Jiwa Tak Akan Bisa Menyatu Utuh. Seni Mengalah, Bukankah Pernikahan Sejatinya tentang Itu?



2. Pengampunan itu tidak bersyarat.

Setelah saya memberi pengampunan atau meminta maaf, terkadang perasaan saya belum pulih. Masih ada rasa marah, rasa tersakiti, ataupun rasa dendam untuk balas menyakiti. Ada perasaan kecewa dan penolakan. Namun, hasil dari “latihan-latihan” yang kami lakukan sangat menolong saya dan suami untuk mengerti bahwa pengampunan yang sejati tidak boleh ada syaratnya. Sebagai “penguji”, ada sebuah pertanyaan yang dapat menolong kami untuk mengenali apakah pengampunan yang kami berikan bersyarat atau tidak.

“Apakah saya sudah melepaskan keinginan untuk membalas pasangan saya?”

Ketika saya sudah mengesampingkan keinginan tersebut, berarti saya sudah bisa membebaskan pasangan saya dari ikatan amarah saya. Pengampunan yang tidak bersyarat itu sudah saya lakukan.

Baca Juga: Mengampuni Bukanlah Melupakan! Inilah Tanda Pengampunan Sejati dan Cara Melakukannya



3. Memaafkan adalah pilihan.

Ini adalah tindakan kehendak, bukan emosi. Mungkin butuh waktu beberapa saat bagi perasaan kita untuk pulih. Baru-baru ini saya bertemu dengan pasangan yang sudah menikah lebih dari lima belas tahun. Suami dari teman saya ini baru saja lepas dari perselingkuhan. Selama tiga tahun, dia menjalin hubungan dengan teman sekantornya. Mulanya mereka berteman biasa, makan siang bersama, meeting bersama, dan keluar kota bersama. Saking seringnya bersama, maka lama-lama ada perasaan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Teman saya baru menyadari setelah sang suami jarang memintanya berhubungan suami istri. Atas kecurigaan ini, teman saya membuktikan bahwa suaminya sudah mendapat kepuasaan dari wanita lain.

Tetap tenang dan meminta penjelasan dari suaminya adalah langkah awal yang dia tempuh. Akhirnya suaminya mengakuinya secara terbuka. Sebagai istri, hatinya tercabik-cabik oleh pengkhianatan. Awalnya teman saya ingin meninggalkan suaminya. Ia ingin menghukum suaminya atas rasa sakit dan keputusaannya. Namun dia tidak melakukannya, karena dia sadar bahwa ikatan pernikahan tidak dapat diceraikan dengan semudah membalikkan telapak tangan.

Baca Juga: Suami Selingkuh: Bukan Cerai, 4 Hal ini yang Dilakukan Sahabat Saya untuk Menyelamatkan Pernikahannya

Rasa cinta yang masih dimilikinya mendorong dia untuk terbuka di hadapan Tuhan dan pasangan bahwa dia sakit hati, dia kecewa, dia marah, dan dia putus asa. Bersama-sama, mereka mendatangi konselor untuk memulihkan ikatan pernikahan mereka. Hari ini, teman saya sudah terbebas dari penjara sakit hatinya. Dia mengalami kebebasan dalam memilih untuk memaafkan.

Dia dapat mengatasi keputusasannya dengan pasangannya. Dia menaati perintah Tuhan untuk melepaskan pengampunan. Benarlah kata Ruth Graham, “Pernikahan yang bahagia adalah penyatuan dua pemaaf yang baik.”

[image: Quotefancy]

Tanpa kekuatan pengampunan, bahkan pernikahan terbaik pun akan menjadi tugas yang berat.





Baca juga artikel-artikel inspiratif ini untuk menjaga keutuhan rumah tangga Anda:

Perselingkuhan, Pengampunan, dan Satu yang Selamanya Tak Mudah: Penerimaan Kembali

Wanita, Inilah 3 Rahasia yang Membuat Suami Tak Mudah Berpaling ke Lain Hati






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Ada Masa Depan Relasi Tanpa Pengampunan. 3 Hal Membuat Pengampunan Bisa Terjadi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Elisa Aprilia | @elisaaprilia

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar