Susahnya Jadi Santa, Setiap Tahun Soal Topi Selalu Diperdebatkan. Padahal ...

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Visit Finland]

999
Kadang saya hanya mampu tersenyum kecut.

Selain memanjakan para pengunjung dengan diskon besar-besaran di akhir tahun, pusat-pusat perbelanjaan - terutama di kota-kota besar - akan menghias diri dengan pernak pernik berbau Natal. Pohon natal yang menjulang dengan ketinggian hingga beberapa lantai, patung Sinterklas seukuran manusia lengkap dengan janggut putih dan perut buncit, tak lupa kereta penuh hadiah serta rombongan rusa penariknya.

Kadang saya hanya mampu tersenyum kecut jika mengingat bahwa sesungguhnya simbol-simbol yang ditampilkan itu hanyalah legenda, yang tak ada hubungannya dengan hari Natal itu sendiri.

Natal adalah hari lahirnya Yesus Kristus ke dalam dunia. Tuhan yang menjadi manusia, lahir di palungan sederhana.

Tidak ada hubungan khusus antara hari kelahiran Yesus dengan pohon natal dan sinterklas, terlebih lagi topinya!

Namun, ada beberapa legenda yang kemudian berkembang menjadi tradisi dalam merayakan Natal. Inilah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan turun temurun dan menjadi hal yang tidak terpisahkan dari perayaan Natal:



1. Pohon Natal

Pohon Natal memiliki sejarah panjang. Penggunaannya dimulai dari Jerman, lama sebelum kitab-kitab suci dikenal oleh manusia. Saat penduduk Jerman tersebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Amerika, kebiasaan memasang pohon cemara di dalam rumah kala musim salju tiba ikut tersebar pula ke sana.

Adalah Martin Luther yang pertama kali memiliki ide untuk menghias pohon natal. Ia menggunakan lilin-lilin untuk menggambarkan gemerlap cahaya bintang yang menembus pekat malam yang dilihatnya ketika berjalan-jalan di hutan cemara pada suatu malam.

Penggunaan pohon cemara sebagai pohon natal merupakan tradisi Eropa. Cemara, yang daunnya selalu hijau bahkan di musim salju sekalipun itu dianggap melambangkan hidup kekal.

[Photo credit: Jeremy Gallman]

Di Afrika Selatan, keberadaan pohon Natal bukanlah suatu hal yang umum. Sementara masyarakat India lebih memilih menggunakan pohon mangga dan pohon pisang daripada pohon cemara.

Baca Juga: Jangan Lupakan 3 Hal Penting Ini Saat Merayakan Natal!



2. Sinterklas

Sosok Sinterklas digambarkan sebagai lelaki tua berperut buncit dan berjanggut putih. Ia memakai topi berwarna merah dan membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak yang telah bersikap baik. Sinterklas juga digambarkan masuk ke rumah diam-diam melalui cerobong asap untuk meletakkan hadiah semalam sebelum hari Natal tiba.

[Photo credit: Huffington Post]

Namun percayalah, Sinterklas hanyalah tokoh fiktif rekaan para orangtua. Keberadaannya diperlukan guna membantu orangtua mendorong agar anak-anak mereka berjuang untuk taat dan berlaku baik sepanjang tahun. Jika anak-anak dianggap benar-benar telah berjuang untuk berlaku baik, orangtua akan memberikan hadiah, meletakkannya di bawah pohon natal dan mengatakan bahwa hadiah itu dari Sinterklas.



3. Kereta Sinterklas dan Rusa

Karena legenda Sinterklas berasal dari dataran Eropa dan di sana Natal berlangsung bersamaan dengan musim salju, maka satu-satunya kendaraan yang dapat digunakan adalah kereta salju dan kereta tersebut ditarik oleh serombongan rusa. Rusa Sinterklas adalah sekawanan rusa kutub yang menarik kereta salju berisi hadiah natal untuk anak-anak.

[Photo credit: express.co.uk]

Tim rusa kutub Sinterklas yang berisi delapan rusa itu terdiri dari Dasher dan Dancer, Prancer dan Vixen, Comet dan Cupid, serta Donder dan Blitzen. Mereka bisa terbang dengan kecepatan melebihi elang.

Jika legenda ini berasal dari Indonesia, bukan tidak mungkin Sinterklas akan ditulis menaiki kereta kencana yang ditarik oleh kuda .. Hehehe..

Baca Juga: 3 Hal yang Saya Syukuri karena Bisa Merayakan Natal di Tengah Keluarga Besar yang Berbeda Keyakinan



4. Pit Hitam

Jika anak baik mendapatkan hadiah dari Sinterklas, maka anak nakal akan diculik oleh Pit Hitam. Pit Hitam digambarkan sebagai lelaki menyeramkan berkulit hitam dengan kostum hitam-hitam pula. Ia membawa sebuah karung besar. Bukannya berisi hadiah, karung itu adalah alat untuk mengangkut anak-anak nakal.

[Photo credit: hartvannederland]

Pit Hitam, seperti juga Sinterklas, adalah tokoh rekaan orangtua. Untuk mempermudah tugas orangtua, tokoh antagonis ini diciptakan untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak berbuat nakal.



5. Kado-Kado Natal

Setelah membaca artikel ini, tentunya sudah tahu kan dari mana kado-kado natal itu berasal?

[Photo credit: Andrew Neel]

Umumnya, kado-kado itu diletakan di bawah pohon natal di malam menjelang Natal. Kemudian, di hari Natal, seluruh keluarga akan berkumpul untuk membuka kado-kado itu bersama-sama.

Baca Juga: Inilah 3 Makna Istimewa Natal yang Hanya Saya Temukan Lewat Keluarga



Dalam berbagai kesempatan kita sering kali mencampuradukkan budaya, legenda, dan tokoh fiktif dengan hari raya keagamaan. Termasuk juga Natal.

Saya berkali-kali mendapati lagu-lagu 'berbau' Natal dinyanyikan dalam ibadah. Padahal, kalau ditelaah lebih saksama, lagu-lagu tersebut hanyalah tentang tradisi dan budaya tertentu dalam memperingati Natal.

Akhirnya, marilah kita melihat Natal dengan lebih bijak.

Selamat berburu diskon akhir tahun. Selamat berlibur dan menikmati waktu berkualitas bersama orang-orang tersayang.

Baca Juga: Bagi yang Merayakan, Inilah 5 Kreativitas yang Membuat Natal Makin Ceria dan Bermakna



[Photo credit: gettyimage]


Selamat Natal!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Susahnya Jadi Santa, Setiap Tahun Soal Topi Selalu Diperdebatkan. Padahal ...". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nicho Krisna | @nichokrisna

Auditor | Banker | Blogger

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar