Sukses Seutuhnya Harus Lewat 4 Ujian Ini. Berani Menjalani?

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Etienne Bosiger]

1.5K
Mari kita uji diri sendiri!

Seorang sahabat mengirimkan gambar tokoh wayang bernama Setyaki dengan empat kata-kata pendek yang so powerful.

[Photo credit: RibutRukun]

Karena mengajar kelas ‘Leadership’, saya amat setuju dengan 4 ujian yang - jika lolos - membuat kita menjadi orang yang sukses seutuhnya.

Mari kita uji diri kita sendiri!



1. Majulah tanpa menyingkirkan

Bisakah kita mempunyai motto seperti ini? Tanpa kita sadari, bisa jadi kita menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan kita. Agar sukses kita menginjak orang di bawah kita.

Di kelas kepemimpinan yang saya ajar, saya sering menggunakan ilustrasi ini. Agar kodok bisa mendapatkan serangga di atasnya, kaki belakang menjejak ke tanah sekuatnya dan pada saat yang bersamaan kedua ‘tangannya’ menyingkirkan apa pun yang ada di kiri dan kanan.

Orang yang ingin sukses dengan gaya kodok dengan kejam menginjak yang di bawah dan menyingkirkan pesaing di kiri kanan.

Sounds familiar?

Di kantor yang persaingannya begitu, jurus kodok ini sering dimainkan agar puncak karier bisa dicapai dengan lebih cepat.

Menjelang pilkada serentak dan dilanjutkan dengan pilpres dan pemilu, salah satu cara menilai para wakil rakyat yang maju adalah dengan melihat cara mereka berkampanye. Apakah mereka ingin maju tanpa memundurkan, bahkan menyingkirkan pesaingnya? Hal ini bisa kita lihat saat debat para calon itu. Jika mereka ingin menang dengan cara yang fair dan tidak menyingkirkan lawan dengan berita hoaks, ujaran kebencian dan kampanye hitam, orang itulah yang perlu kita pilih. Dia lebih menunjukkan prestasinya sendiri tanpa meniadakan prestasi lawan.

Baca Juga: Pilih Siapa di Pilkada? Sebelum ke Bilik Suara, Pertimbangkan Satu Hal Ini Saja!



2. Naiklah tanpa menjatuhkan

[Photo credit: Flo Maderebner]

Ada orang yang menapaki puncak karier dengan menjatuhkan orang-orang di sekitar, bahkan berani menarik yang di atas agar turun dari kursi yang mereka incar. Orang semacam ini tidak pernah tenang duduk di kursi empuk padahal penuh duri dan bara. Kursi panas ini bisa segera pindah ke orang lain,

karena apa yang kita tabur
itu jugalah
yang kita tuai.

Jika kita naik ke atas dengan menjatuhkan orang lain, ingat suatu kali kelak ada orang yang ganti menjatuhkan kita. Percayalah, waktunya tidak akan terlalu lama. Sebaliknya, saat kita berada di atas, kita menarik orang di bawah kita agar naik kariernya, lihat hasilnya.

Ketika kita menarik orang ke atas,
secara otomatis kita pun akan naik terus.

Bagaimana kita bisa menarik orang ke atas jika posisi kita di bawah? Orang-orang yang kita promosikan, jika dia orang yang bermoral dan etika tinggi, dia akan melakukan hal yang sama terhadap bawahannya.



3. Jadilah baik tanpa menjelekkan

Kalimat ini menarik untuk dicermati. Jika kita renungkan dalam-dalam, sebenarnya kita tidak bisa menjadi baik dengan menjelekkan orang. Mengapa?

Karena saat kita menjelekkan orang
sebenarnya kita tidak baik.

Bisakah kita menjadi orang baik tanpa menjelekkan orang lain? Seorang guru inspiratif ingin menanamkan kebenaran ini kepada murid-muridnya.

Dia membuat garis sepanjang 1 meter di white board dan berkata kepada murid-muridnya, “Bagaimana cara kalian memperpendek garis ini?”

Seorang murid maju dan menghapus garis itu 10 cm. Murid yang lain menghapusnya lagi 20 cm, sedangkan murid yang ketiga menghapus sepanjang 40 cm. Kini, garis itu tinggal 30 cm.

Namun, ada seorang murid yang tidak menghapus garis yang semakin pendek itu. Sebaliknya, dia membuat garis sepanjang 150 cm.

Sang guru menepuk punggung murid keempat sambil berkata, “Lihat, Ali bisa memperpendek garis yang saya buat dengan membuat garis yang lebih panjang. Jadi, dia memperpendek garis saya tanpa menghapus garis yang saya buat. Artinya, kita bisa berbuat baik tanpa membuat orang kelihatan buruk.”

Kisah Abraham Lincoln bisa kita jadikan cermin. Ada seorang musuh politik yang terus-menerus menjelekkan namanya, bahkan menyebutnya “Gorila!”. Namun, begitu Lincoln dilantik sebagai presiden, dia justru mengangkat orang itu sebagai sekretaris perangnya. Orang itu kemudian menjadi orang yang setia yang mendukung Lincoln sepenuhnya. Saat presiden Lincoln mengembuskan nafas terakhir dan dibaringkan di ruang duka, mantan pengeritiknya yang paling besar itu menundukkan kepala dengan kesedihan yang luar biasa sambil berkata, “Di sini terbaring penguasa terbesar manusia di dunia yang pernah ada.” Bisakah kita menjadi Abraham Lincoln bagi Edwin Stanton di sekeliling kita?



4. Jadilah benar tanpa menyalahkan

Self-righteousness merupakan benih kesombongan yang akan berbuah kehancuran jika tidak segera kita buang.

Ciri-ciri orang semacam ini adalah merasa dirinya paling benar sehingga setiap orang yang berbeda pendapat dengannya selalu salah.

Ingat,

orang yang merasa benar
tidak sadar
bahwa orang lain belum tentu salah.

Saat berada di Hawaii selama sebulan, saya mendengar kisah unik tentang tempat yang eksotis ini. Suatu kali, dua orang turis berdebat soal ejaan dan pengucapan 'Hawaii' yang benar.

Yang seorang berkata, “Cara penyebutan yang benar adalah Hawaii.”

Temannya spontan mencela, “Ngawur kamu! Yang benar adalah Havaii.”

Mereka debat kusir tanpa akhir. “Sudah, begini saja. Kita sama-sama orang luar. Mari tanya penduduk setempat.”

Mereka menghentikan seorang penduduk lokal dan bertanya, “Tuan, sorry, yang benar itu Hawaii atau Havaii?”

“Havaii.”

Tentu saja orang yang mengeja ‘Havaii’ girang bukan kepalang dan dengan nada sombong berkata, “Nah, benar aku, kan?”

Orang yang menyebut ‘Hawaii’ mengucapkan rasa terima kasih telah diberi pencerahan dengan berkata kepada penduduk lokal itu, “Thank you!”

Dan segera saja dijawab, “Your Velcome.”

Wkwkwk.

Nah, ternyata orang yang merasa diri benar sebenarnya egois dan sombong luar biasa. Mereka tidak pernah mengakui kebenaran orang lain dan menganggap dirinya yang benar mutlak. Orang yang merasa dirinya benar suka mencari pembenaran dan bukan kebenaran itu sendiri sehingga kebenaran menjauh darinya.

Mari mencari kebenaran sejati dan dicerahkan!

Baca Juga: Jangan Terburu-buru Menyalahkan Orang Lain! Hidup Kita 'Keruh' Bisa Jadi Karena Satu Ini


[Photo credit: Nikolai Traasdahl Tarp]

Kita bisa menang tanpa menjadikan orang lain pecundang.

- Xavier Quentin Pranata




Baca Juga:

Sukses Terhambat Karena Hal-Hal Sederhana Ini. Singkirkan Segera!

Setelah Menulis Biografi Orang-orang Sukses, Saya Menemukan: Sukses Sejati Hanya Membutuhkan Satu Hal Ini

How to Sell Yourself: Rahasia Sukses 'Menjual Diri' dan Meraih Keberhasilan dalam Hidup





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sukses Seutuhnya Harus Lewat 4 Ujian Ini. Berani Menjalani?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar