Suami Tidur Bersama Kekasihku di Depan Mataku

Marriage

(photo: pexels)

5.7K
Kali ini giliran saya menggeleng-gelengkan kepala. Tak dapat mengerti apa yang terjadi.

Kejutan itu seperti perjumpaan tak terduga dengan teman lama. Beberapa membawa kegembiraan luar biasa, walaupun juga ada yang membawa kesedihan mendalam.

Semakin lama menjalani perjalanan hidup, semakin saya yakin bahwa acara-acara reality show di televisi memang harus masuk akal, kalau perlu disetting sedemikian rupa agar terasa masuk akal, sementara peristiwa-peristiwa hidup tak harus demikian.


"Saya harus mengakui kesalahan. Saya tak jujur dengan suami saya. Saya memang menyukai dan mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan perempuan lain."


Seorang perempuan tiba pada kalimat ini setelah kami bercakap cukup lama. Tak mudah bukan bagi seseorang untuk mengakui kesalahannya? Semua kisah ini ditulis tanpa menyebutkan nama dan lokasi peristiwa. Persetujuan lisan telah diberikan oleh pihak terkait.


Sebuah Pengakuan Tak Biasa

Perempuan itu adalah seorang ibu rumah tangga dengan seorang anak perempuan usia Sekolah Dasar yang mewarisi kecantikan mamanya. Saya sudah melihat akun media sosialnya, sebelum kami bertemu. Tak berbeda dengan keluarga-keluarga lain yang nampak bahagia di media sosial dengan potret bersama di restoran ini dan itu, wisata ke dalam dan luar negeri. Mungkin untuk itulah fungsi media sosial, bukan? Memperlihatkan keindahan yang ingin kita tunjukkan kepada orang lain, sekaligus menjadi bukti pada diri sendiri bahwa kita berbahagia?

Baca Juga: Dari Mira, Seorang Perempuan 'Simpanan', untuk Para Istri di Rumah

"Semuanya berubah sejak suami menangkap basah saya dan perempuan itu sedang .... Ya, saya harus mengakuinya, berhubungan intim. Hal yang rutin kami lakukan jauh sebelum saya menikah, dan terus berlangsung setelah saya menikah."

Bukan hal yang mudah bagi saya mendengarkan pengakuan-pengakuan semacam ini. Awalnya saya tak kuasa menyembunyikan rasa terkejut, tapi belakangan makin lama, saya makin terbiasa. Bukan tak lagi terkejut, tapi saya menemukan cara untuk mengelola kejutan yang datang dari lawan bicara saja.


"Jadi, Ibu bisa berhubungan dengan yang sejenis maupun lawan jenis?" Sekadar pertanyaan demi mendapatkan konfirmasi. Tentu saya saya bisa menduga jawabannya.


Perempuan itu mengangguk pelan.

"Saya justru ingin tahu bagaimana sikap suami setelah memergoki ibu berhubungan intim dengan perempuan itu?"

Ia menangis. Saya tahu tak mudah baginya untuk menjawab pertanyaan ini.

Saya menyodorkan sekotak tissue dan membiarkannya larut dalam kesedihan. Ada saat orang perlu menata hatinya sebelum berbicara. Bahkan untuk hal-hal yang sudah menjadi bagian dari kenyataan hidupnya.

Baca Juga: Sahabat Saya Mengaku Gay. Inilah Kisah Kehidupannya

Setelah sebuah tarikan nafas yang panjang, ia berbicara," Suami saya tidak mengungkapkan kemarahan dengan meledak-ledak. Ia hanya mengatakan: jadi selama ini kalian melakukan ini. Perkataan suami itu justru membuat saya merasa sangat bersalah. Saya sudah mengkhianatinya. Bukan dengan pria lain, tetapi dengan perempuan lain.


Akibat yang Tak Biasa Pula

"Adakah hal lain yang disampaikan suami?" Saya sangat ingin mengetahui respons suaminya. Tak mungkin hanya kata-kata seperti itu. Saya bahkan sudah membayangkan suaminya menggugat cerai.

"Suami mengajak saya dan teman perempuan itu bertemu bersama-sama di rumah, ketika anak kami satu-satunya ada aktivitas sekolah di luar kota. Saya dan teman perempuan itu mengakui kesalahan kami di hadapan suami."


"Apakah suami ibu bersedia memaafkan?"


"Saya tahu suami sangat terluka, tetapi jawaban dari bibirnya sungguh di luar dugaan saya."

Kembali keheningan menyapa ruang pertemuan kami.

Perempuan itu memecah keheningan dengan suara perlahan," Suami berkata: kalau kamu bisa tidur dengan dia, katanya sambil menunjuk teman saya, saya juga mau hal yang sama. Kamu melukai saya dengan tidur dengannya. Saya akan melukai kamu juga dengan cara yang sama: tidur dengannya di hadapanmu."

"Saya terduduk lemas mendengarkan jawaban suami, demikian juga teman perempuan saya. Teman perempuan saya bersedia melakukannya, setelah suami saya memberikan jaminan bahwa ia masih mengijinkan saya berelasi dengannya."

Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Air matanya kembali membanjir.

"Di tempat yang sama saya berhubungan dengan teman perempuan itu, di situ juga suami saya menidurinya."

Kali ini, giliran saya menggeleng-gelengkan kepala. Tak mengerti apa yang terjadi.

(bersambung)

***

Setiap kali akan melakukan hal yang salah, kita cenderung yakin bisa mengendalikan akibat-akibat dari perbuatan itu. Inilah kesombongan turun menurun dalam hidup manusia.

Kita tak berkuasa mengendalikan sepenuhnya dampak dari perbuatan kita. Ia seperti api yang menyala, dengan cepat membesar. Tak terduga arahnya. Tak terbayangkan kerusakan yang diakibatkannya. Tinggal puing-puing penyesalan yang tersisa.



Baca Juga Kisah-Kisah Nyata ini:

Mati dengan Mata Terbuka: Istri Simpanan Papi, Anak Tanpa Ayah Bapakku, dan Luka-Luka yang Tertinggal

Ketika Kekurangan Fisik Istriku Justru Membuatku Jatuh Cinta. Sebuah Kisah Nyata



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Suami Tidur Bersama Kekasihku di Depan Mataku". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

storyteller

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar