Setelah Tahu Rahasia Ini, Masih Ngeces Melihat Koleksi Hermes Inces Syahrini?

Reflections & Inspirations

[Photo credit: instagram @hotmanparisofficial]

4.5K
Mengapa harus menjadi Syahrini?

Kita bisa saja geleng-geleng kepala membaca, mendengar bahkan melihat sosialita menenteng tas seharga ratusan juta sampai milyaran rupiah.

[giphy]


“Dapat satu mobil tuh!” ujar seorang mahasiwa.

“Kalau saya, lebih baik saya belikan rumah,” ujar seorang ibu rumah tangga.

“Gila! Dapat uang dari mana tuh artis? Jangan-jangan simpanan bos!” ujar haters.


[giphy]
[tenor]


Dari dulu saya tahu bahwa barang-barang branded itu mahal karena mereknya, bukan sekadar kualitas. Saya percaya, bahan-bahan yang dipakai pasti mahal, tapi semahal-mahalnya bahan, coba pikir, apakah masuk akal jika harga satu tas sama dengan satu rumah?

Rasa penasaran banyak orang dan keinginan saya untuk penjelasan yang masuk akal, mendapat jawaban dari tulisan keren Andre Abad yang saya peroleh dari Hanny Layantara. Sahabat saya sejak muda ini mengirimkan tulisan inspiratif mengapa harga tas branded bisa semahal itu. Sila simak.


[tenor]



Kapan hari saya nonton yucup tentang ular piton di Sumatera yang menurun jumlahnya gara-gara dibeli sama perusahaan fashion ternama seperti Hermes, Prada, dan mbuh lainnya. Ular piton dari pencari dihargai 300rb/ekor, sama pengepul dijual 1 jutaan. 1 ekor bisa dibikin jadi 2-3 tas. Jadi sekitar 350-500 ribuan/tas kalo dikira-kira.

Nah ini bagian ajaibnya, Hermes mau bikin koleksi tas kulit ular untuk musim semi tahun ini. Bikinnya cuman 15 biji. Pertama-tama dibikin 1 dulu buat dikasihin seleb yang udah dipilih buat jadi "pemancing." Tahun ini misalnya Hermes pilih Victoria Bekam.

"Victoria mau tas gratis nggak? Gantinya kami minta 5 potomu pake tas itu, oke?" Kalo Victoria mau, dia bisa ambil tas itu di tokonya Hermes yang di L.A. sambil sekalian poto. Sesuai perjanjian, Victoria dipoto fotografernya Hermes sendiri pas lagi (pura-puranya) keluar dari sana sambil nenteng tas barunya. Cekrek 1. Nanti lagi waktu anterin anak-anaknya sekolah, cekrek 2. Nanti lagi waktu ngopi bareng temen seleb lainnya, cekrek 3. Sampe 5 kali janjian dimana yang keliatannya natural, nggak dibuat-buat, dan yang penting tasnya keliatan.

Setelah itu dibikin kampanye di majalah, medsos, atau TV, buat siapa yang mau pre-order. Tas tangan ukuran 30x20cm itu dijual seharga 200 juta dan hanya dalam seminggu, ke-15 tas itu udah ada calon pembelinya. 3 dari 15 calon pembeli itu berasal dari Indonesia, 1 sosialita dan 2 istri pejabat. 9 pembeli lain dari China, 2 dari Singapura, 1 dari Arab.

Kenapa gak ada pembeli dari Eropa/US? Harga 200 juta untuk sebuah tas yang total material dan aksesorisnya paling mahal 5 juta? Siapa orang berpendidikan/waras yang mau beli? Emang siapa yang jahit tas 5 jutaan biar bisa dijual 200 juta? Obama? Putin? Bunda Teresa?

Victoria Bekam memang udah kaya, tapi sebagian besar barangnya itu endorsement. Sama seperti Kim Kadarshian. Yang mereka jual ya imej selebritisnya. Lalu apa yang didapet pembelinya? Rasa bangga punya tas yang sama kaya Victoria dan Kim. Itu aja.

Semua barang mewah yang keliatannya dimiliki oleh sosialita dan seleb luar itu hanya pemancing. Trik marketing untuk menjual produk dengan melekatkannya pada imej seseorang. Gaya hidup orang kaya Asia memang paling mudah diekploitasi sama produsen produk-produk kelas atas Barat. Pembeli jam tangan milyaran pun orang-orang Asia. Makanya, sebenernya Barat sangat tergantung sama perekonomian Asia karena merekalah pembeli produknya. Orang Barat sendiri nggak mau beli produk mewahnya. Buat apa? "Buat apa saya memperkaya orang lain dengan membeli produknya dengan harga yang super konyol?" Kasarnya, karena orang kulit putih malas memperkaya orang kulit putih lainnya, mereka lebih baik menjual produknya ke orang bodoh (yang menderita inferiority complex kronis) yang mau. Mobil mewah lebih banyak di jalanan Dubai dari negaranya sendiri. Sultan Brunei memiliki kurang lebih 70 Rolls Royce dari 5000 mobil mewah lainnya (Google it!). Sosialita Asia memiliki koleksi tas mewah lebih banyak dari pabrik tasnya. Apakah itu berarti orang Asia lebih kaya dari orang Barat? Ya nggak, lebih bodoh iya.

Jadi rumusnya, kalo ada orang Barat menggunakan barang mewah, kemungkinan besar dia endorser, atau sedang promo barangnya sendiri.

Lalu 3 orang Indonesia yang dapet tas itu dengan bangga selalu memulai arisan dengan, "Victoria Bekam juga punya samaan ama gue loh ..."

Tidak ada orang kaya Asia yang ingin terlihat seperti orang Asia lainnya. Mereka ingin terlihat seperti bintang Hollywood kulit putih.

Tapi kalo saya mirip Rob Pattinson itu cuman kebetulan aja.


Terus terang saya tersenyum sendirian membaca tulisan apik Andre Abad yang saya kutip apa adanya dari kiriman sahabat saya Hanny Layantara. Namun, senyuman saya itu berubah menjadi perenungan. Mengapa begini? Mengapa begitu? Persis seperti deretan judul buku anak bungsu saya yang memenuhi satu baris rak di lemari buku saya.


Ya, mengapa barang-barang branded bisa seharga itu?


Pertama,
semakin mahal harga barang tertentu, semakin bergengsi orang yang mampu memakainya.

Ibu-ibu mana yang tidak terkatrol gengsinya saat memakai tas yang sama dengan yang dipakai oleh Victoria Beckham dan Kim Kardashian?

Saya punya sahabat di Jogja yang punya butik batik premium. Harga satu kemeja saja bisa puluhan juta rupiah.

“Kok you nggak buat yang murahan dikit agar lebih banyak orang bisa membelinya?” Jawaban sahabat saya kemudian membuat saya mafhum:

Orang ingin tampil eksklusif. Jika banyak orang memakainya, bukankah baju atau tas itu mendapat julukan 'baju sejuta umat'?



Kedua,
orang senang jika dirinya dianggap satu level dengan selebriti atau tokoh terkenal lainnya.

Hal ini mengingatkan saya akan pertarungan iklan antar produk sabun.

“Sembilan dari sepuluh bintang film memakai sabun ini.”

Pesaingnya, yang tertantang oleh iklan itu membuat iklan lain berbunyi: “Yang satu pakai ini!”

Hasilnya? Ternyata yang dipakai satu bintang film ini justru laku keras.

Mengapa? Orang senang dengan barang-barang yang sangat eksklusif.

Kembali ke sahabat saya yang punya outlet batik premium di atas. Salah satu alasan clothing line-nya mahal, karena tidak ada duanya. “Hanya ada satu itu!” ujarnya.



Ketiga,
orang merasa nilai dirinya terangkat dengan apa saja yang melekat di dalam tubuhnya.

Masyarakat ikut bertanggung jawab. Saya amati, jenis mobil yang saya naiki menentukan sikap petugas parkir. Semakin mahal dan bergengsi mobil yang saya naiki - meskipun milik teman - membuat semakin gampang saya mencari tempat parkir. Bahkan baru masuk gedung saja, petugas parkir sudah membuka parking lot yang bertuliskan ‘reserved’, padahal saya tidak pesan tempat sebelumnya.


Tulisan Andre Abad di atas seharusnya menyadarkan kita, selama ini kita ‘dibodohi’ oleh orang luar yang terus-menerus menggerogoti devisa kita dengan rayuan berbisa. Saya tidak anti barang branded. Jujur, barang branded biasanya memang mutunya lebih baik. Namun, kalau harganya tidak masuk akal, masihkah kita memaksakan diri hanya agar dikenal?



Mengapa harus menjadi Syahrini
kalau kita bisa
menjadi diri sendiri!


[tenor]




Baca Juga:

Lebih Berharga daripada Kekayaan, Kejar dan Miliki Satu Hal Ini!

5 Perilaku Orang Super Kaya Ini Bikin Geleng-geleng Kepala. Namun, Apa Sebenarnya Kekayaan Sejati Itu?

Rela Menjual Nyawa demi Menjadi Kaya. Pesugihan, dari Tuyul sampai Nyi Blorong: Hanya Takhayul dan Cerita Bohong?





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Setelah Tahu Rahasia Ini, Masih Ngeces Melihat Koleksi Hermes Inces Syahrini?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar