Setangkup Harap Jelang Sidang Cerai: Ahok, Jangan Ceraikan Vero, Please

Marriage

[Photo credit: RibutRukun]

5.3K
God keeps the best for the last!

“Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Kalimat itulah yang saya tuliskan di undangan pernikahan saya dan Susan lebih dari seperempat abad yang lalu. Saya mencantumkan itu di undangan dengan sengaja. Bukan hanya karena saya memahami dan mengamininya, melainkan berharap orang yang menerima undangan saya pun melakukan tekad yang sama untuk terus bersama pasangannya seumur hidupnya.

Saat menantikan dengan hati berdebar-debar sidang pertama kasus perceraian Ahok-Vero, saya merenungkan tiga hal ini:



Pertama,

desain Tuhan terhadap pernikahan selalu rancangan yang terbaik.

Saya senang sekali dengan terjemahan Mark Magee terhadap perintah ilahi,

“For this reason a man will leave his father and mother and cleave to his wife, and they will weave their lives into one flesh!”


Ada tiga hal utama di sini:

Leave | Saat kita menikah, kita meninggalkan orangtua kita. Pada posisi ini, diharapkan kita sudah mandiri secara finansial, moral, dan spiritual. Kita sudah siap secara lahir dan batin untuk meninggalkan keluarga lama kita.

Cleave | Jika kita hanya meninggalkan rumah orangtua tanpa tujuan, kita hanya menggelandang ke sana kemari. Kita butuh membuat sarang baru. Itulah sebabnya kita bersatu dengan pasangan kita, sehingga keluarga kita lengkap kembali.

Weave | Saya senang sekali dengan diksi yang Mark Magee pakai. Kata ‘mengayam’ atau ‘menenun’ di sini membutuhkan waktu yang lama. Saat berada di Sumba, saya mendapatkan tenunan tangan dari nyonya rumah yang saya tempati. Tenunan tangan membutuhkan waktu yang lama. Apalagi menenun pernikahan. Kita butuh waktu seumur hidup kita agar anyaman dan tenunan itu terjalin sempurna. Till death do us part!


Saya sangat yakin dan percaya Ahok dan Vero mengenal perintah ini. Saya menuliskannya bukan hanya untuk mereka—itu pun kalau mereka membaca tulisan saya ini—namun bagi kita semua, termasuk saya.

Bukankah peraturan yang baik harus terus-menerus disosialisasikan dan—ini yang jauh lebih penting—diinternalisasikan atau dimateraikan dalam hati kita masing-masing? Bukankah pengawasan terbaik adalah diri kita sendiri dengan kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan di seluruh aspek hidup kita?

Baca Juga: Beberapa Pernikahan Memang Adalah Kesalahan



Kedua,

setiap usaha manusia untuk merenovasi rumah hal yang paling penting adalah melihat blue print rumah kita: fondasinya.

Ketika kita ingin merenovasi rumah, insinyur bangunan mengecek apakah fondasinya masih kuat, bagian mana yang ada beton bertulangnya dan bagian mana yang tidak. Dengan cara seperti ini, dia tidak akan sembarangan dan serampangan membongkar rumah dan mendirikan bangunan baru.

Bicara soal membangun atau merenovasi rumah, saya ingat dengan ungkapan bijak yang saya baca entah di mana yang saya susun kembali seperti ini: “Membangun tangga rumah, tidak butuh waktu yang lama. Namun, jika kita membangun rumah tangga, butuh waktu yang sangat panjang.”

Saya sungguh berharap Ahok dan Vero mengecek kembali fondasi pernikahan mereka. Saya percaya, mereka membangun rumah tangganya berdasarkan cinta.

Cinta sejati membutuhkan bukti.
Salah satunya adalah waktu dan ujian.

Saya sungguh-sungguh berdoa ketika mereka melihat kembali blue print pernikahan mereka, perceraian yang merobohkan mahligai rumah tangga mereka dibatalkan.

Baca Juga: Perselingkuhan, Pengampunan, dan Satu yang Selamanya Tak Mudah: Penerimaan Kembali



Ketiga,

doa tidak akan ada artinya tanpa tindakan nyata khususnya dari mereka berdua.

Saya begitu yakin banyak orang berusaha dengan cara mereka masing-masing agar perceraian Ahok-Vero tidak terjadi, terlebih dari keluarga inti kedua belah pihak. Dari media sosial yang saya ikuti, tidak putus-putusnya doa dan harapan setiap orang yang mengenal dan mencintai Ahok-Vero mendoakan agar perceraian ini tidak terjadi.

Saat jalan-jalan keluar negeri, saya terpaku melihat grafiti di dinding: “Prayer does not change everything. God does!” Mula-mula saya kaget, tapi kemudian mafhum dan akhirnya maklum.

Bukan doa kita yang mengubah segala sesuatu, melainkan Tuhanlah yang bisa mengubah doa kita sekaligus menolak atau mengabulkannya.

Kita boleh berdoa siang dan malam, namun, keputusan tetap di tangan Ahok-Vero. Mereka berdualah yang akhirnya harus memutuskan. Setelah keputusan mereka ambil, kita boleh dan sudah sewajarnya mendoakan mereka, namun tidak perlu memaksakan kehendak kita.


Saya pribadi? Sesuai dengan tema seminar pernikahan yang saya pimpin, saya mengharapkan ini:

“God keeps the best for the last!”




Baca Juga:

Sidang Gugatan Cerai: Mungkinkah Ahok dan Vero Rujuk Kembali?

Hanya Satu Ini Saja, Paling Efektif Mencegah Perselingkuhan dan Perceraian

Hubungan Terasa Jenuh dan Membosankan? Jangan Dulu Menyerah dan Memilih Pisah. Hidupkan Kembali Cinta, Sekali Lagi Saja





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Setangkup Harap Jelang Sidang Cerai: Ahok, Jangan Ceraikan Vero, Please". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar