Selingkuh: Bukan Khilaf, tapi Karakter. Terus Harus Bagaimana?

Marriage

[image: Ravishly]

11K
“Saya baru tahu, ternyata selingkuh bukan terjadi hanya karena khilaf, tetapi karena sudah menjadi karakter diri seseorang.”

Siang itu saya tidak menyangka bisa berjumpa dengan Om Jack. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya tetangga kami dahulu. Namun dia memiliki relasi yang cukup dekat dengan keluarga kami. Saya ingat sekali bahwa dia orang baik yang rajin mengantar saya ke sekolah waktu SD. Terakhir kali saya melihatnya, kira-kira sudah lima belas tahun yang lalu. Waktu itu dia masih bujang, tetapi sekarang telah menikah.

Perjumpaan itu membuat kami harus duduk sebentar untuk saling bertanya kabar.

“Sibuk apa saja sekarang?” tanya saya.

“Saya baru pulang dari Kalimantan dan Batam. Saya lima tahun di Kalimantan dan empat tahun di Batam,” jawabnya.

Oh, inilah alasan mengapa sudah lama dia tidak kelihatan di kota Kupang.

“Wah, Om Jack keliling, ya,” kata saya.

“Iya, ini bulan depan saya kembali lagi ke Batam. Bakal dua tahun di sana.”

“Istri dan anak bagaimana? Ikut dong, yah?”

“Ya gak ikutlah ... mana asyik kalau ikut ...”

“Maksudnya? Lho, kan bakal menetap lama, Om?”

“Kamu kok gak ngerti sih ... kalau kamu ke daerah lain, pasti kamu pengin ngerasain daging sana, kan?”

“Wait ... Wait ... daging??” tanya saya bingung.

Sambil menyenggol saya dan tersenyum, dia memperjelas maksudnya dengan senyuman mesum.



Tidak Berubah

Ya, inilah sifat Om Jack yang hampir saya lupakan darinya. Sejak masih muda, dia memang terkenal sebagai pria yang suka mempermainkan wanita. Dia dahulu bekerja sebagai sopir ojek. Pagi hingga sore mengumpulkan uang, malamnya dia akan pergi ke tempat lokalisasi. Dia suka memacari banyak wanita. Akan tetapi tujuannya hanya satu, yaitu memuaskan napsu birahinya.

[image: rilis]
1

Biasanya orang akan berhenti berkebiasaan seperti itu setelah memiliki keluarga. Namun, hal ini ternyata tidak berlaku untuknya. Kebiasaan itu terus menjadi gaya hidupnya.

Inilah yang disebut karakter. Perselingkuhan ternyata tidak terjadi karena khilaf, tetapi karena sudah biasa mencobanya.

Terkadang perselingkuhan bukan terjadi karena suami atau isteri tidak dapat memenuhi kebutuhan masing-masing. Namun karena sejak muda, nilai kesetiaan dan nilai penghargaan atas diri pasangannya tidak pernah tertanam dalam dirinya.



Bukan Penolong yang Baik

“Isteri Om Jack tahu kelakuan Om ini?” tanya saya.

“Isteri saya itu yang penting dapat uang aja tiap bulan. Dia gak bakal rese, kok,” jawabnya.

Entah apa yang ada di benak kedua suami istri ini. Namun, dari pernyataan ini, saya bisa menangkap tendensi yang besar terhadap ketidakpedulian antara satu dengan yang lainnya. Mereka memang masih suami istri, tetapi hanya terikat secara hukum. Hati dan batin mereka sudah bercerai sejak lama. Namun, bagaimana lagi dapat disebut suami isteri, jika satu dengan yang lain tidak saling peduli lagi.

Baca Juga: Istri yang Cakap Lebih Berharga daripada Permata. Istri Anda Bagaimana?



Masa Lalu yang Kelam

Mengenai Om Jack memang sulit dikatakan. Setidaknya saya tahu sedikit tentang latar belakang keluarganya. Sejak kecil dia sudah pisah rumah dengan orangtuanya. Lalu dia tinggal dengan neneknya yang adalah tetangga kami. Orangtuanya telah bercerai sejak dia masih SD. Ayahnya tidak pernah menjumpainya. Begitu juga dengan ibunya. Kedua figur penting yang seharusnya berperan penting membentuk citra dirinya telah lama hilang. Cinta kasih, kepedulian, kesetiaan, semuanya tidak pernah dia dapat sejak kecil. Yang dia lihat adalah semua hal yang tidak seharusnya dia dapati; perselingkuhan, perceraian, kesetiaan apa lagi. Semua inilah yang membentuk citra diri dan karakternya sejak muda hingga dewasa.

Baca Juga: 3 Hal yang Mengubah Masa Lalu Kelam Menjadi Masa Depan Cemerlang



Apa yang Dapat Dipelajari?


Pertama, tentang memilih pasangan hidup.

[image: Matrimonio]

Hanya ada satu jawaban yang akan diberikan oleh ibu saya ketika bertanya, “Ukuran pasangan hidup yang baik itu apa?” yakni, “BIBIT, BEBET, BOBOT”.

Sejujurnya, saya tidak terlalu mengerti dengan maksud dari 3B ini. Namun, inti dari 3B itu sebenarnya adalah, di dalam memilih pasangan pertimbangkan luar dan dalam dirinya. Lihat sekeluruhan hidupnya.

Jangan lagi mengatakan “Cinta itu buta!” Itu salah!

Kita harus melihat cinta secara utuh.

Ingat bahwa salah pilih, menyesal seumur hidup.

Baca Juga: Inilah 4 Motivasi Salah dalam Memilih Pasangan Hidup. Waspadalah!



Kedua, citra diri seorang anak dibentuk sejak dia masih kecil.

Pendidikan terbaik dimulai sejak seorang anak masih diberikan asi dan dipeluk oleh ibunya. Nilai kasih, kepeduliaan, ketaatan, tanggung jawab, dan kesetiaan tidak didapatkan di sekolah, tetapi dalam keluarga. Didikan keluarga yang baik akan memproduksi seorang anak yang berwatak baik juga.



Ketiga, Tuhanlah yang dapat mengubah seseorang.

Ketika seseorang telah bertumbuh dalam ketidakutuhan diri, sangat penting baginya untuk menyadari tentang perlunya dibentuk oleh agama. Agama menjadi satu tempat di mana moral diajarkan dan karakter dibentuk. Lebih dari pada itu, agama mengajarkannya tentang menahan diri dari napsu keinginan yang salah, dan mengendalikan diri dengan baik.






Baca juga artikel-artikel yang dapat membantumu mencegah terjadinya perselingkuhan ini:

Selingkuh Bukan Tanpa Alasan. Ini 3 Penyebab Tak Terduga Sebuah Perselingkuhan

Cara Ampuh Cegah Perselingkuhan: Praktikkan 5 Bahasa Kasih agar Pasangan Tak Mudah Berpaling ke Lain Hati






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Selingkuh: Bukan Khilaf, tapi Karakter. Terus Harus Bagaimana?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar