Sebelum Penyesalan Hadir, Bijaklah Membuat Pilihan. Sebuah Kisah Nyata

Reflections & Inspirations

photo credit: pexels

3.3K
"Apa ada pilihan lain buat orang seperti saya?"

Saya menatap tubuhnya yang kurus, pucat, dan sayu, terbaring tak bernyawa di peti mati itu. Matanya tak menutup sempurna, terlalu cekung, menonjolkan tulang pipi yang tak dapat lagi disembunyikan. Kepergiannya terlalu mendadak, mengagetkan, menyesakkan hati. Teringat pembicaraan singkat dengannya beberapa minggu sebelumnya.

Usianya belum tiga puluh. Wajahnya sejelita namanya. Namun guratan kecemasan di wajahnya menceritakan betapa berat hidup yang ia jalani. Selepas SMA, ia tak punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Ia harus bekerja untuk mendukung kehidupan keluarga. Demi kehidupan yang lebih baik, ia membuat pilihan yang sepertinya menjanjikan, tetapi malah mencengkeram kuat dan membuatnya tak bisa lari.

"Saya hamil. Demi anak ini saya akhirnya mau dinikahi. Tapi ternyata kehidupan tidak menjadi lebih baik, malah beban itu semakin berat. Sampai akhirnya saya memutuskan berpisah dari suami."


photo credit: infobaby.org

Tak lama setelah melahirkan, ia harus segera kembali bekerja. Sekarang, ada manusia kecil yang bergantung pada dirinya, ia bekerja lebih keras, mencari beberapa pekerjaan, namun hidup tak juga menjadi lebih baik.

"Dalam keadaan yang sulit, seorang laki-laki lain menawarkan bantuan. Hati saya sebenarnya menjerit tak mau. Tetapi pikiran ini menantang, bertanya, 'Kamu sudah tak pantas mengharapkan akhir yang bahagia. Kalau ada yang mau menolong, mengapa tidak? Asal hidupmu jadi lebih baik, apalah arti nama baik? Bukankah kamu sudah kehilangan itu?'"


Putra keduanya lahir kemudian. Sebuah sukacita melihat bayi yang rupawan, tetapi di sisi lain sebuah beban tambahan hadir dalam hidup. Sekarang, bukan hanya satu, tetapi dua manusia mungil yang bergantung pada dirinya.


photo credit: poshmark.com

Belum cukup beban yang dia rasakan, datanglah kabar bahwa dia tak lagi dibutuhkan di tempatnya bekerja. Seorang perempuan muda dengan dua anak, tanpa suami, tanpa pekerjaan. Seorang perempuan muda melawan kerasnya kehidupan di dunia.

"Saat itu, saya benar-benar hancur. Saya seakan tak punya pilihan selain mencari pekerjaan di dunia malam. Hanya dunia malam yang sepertinya pantas untuk orang seperti saya."

Ia terbatuk. Pekerjaan yang melelahkan, deru angin malam yang menerpa tubuh kurusnya saat berangkat dan pulang kerja, meninggalkan kelemahan dan kesakitan.

"Tidak pernah berpikir mencari solusi lain?" saya bertanya padanya.

Setelah meneguk air hangat dari cangkir di tangannya, ia menjawab, "Apa ada pilihan lain buat orang seperti saya? Saya memang membuat pilihan yang salah dan saya terperangkap di dalamnya. Tidak ada lagi pilihan yang terbuka di luar perangkap ini. Saya tak lagi pantas untuk membuat pilihan yang lebih baik."

Ia menatap dua putranya yang sedang bermain.

"Saya cuma ingin hidup lebih baik, memberi mereka hidup yang lebih baik juga. Tapi saya seperti tak punya pilihan, sepertinya hanya ini satu-satunya pilihan yang tersisa."

Matanya menatap ke sudut lain dari ruangan itu, kosong seperti sedang mencari makna.

"Seandainya bisa memutar waktu, saya tak mau memilih jalan ini. Sekalipun jalan lain lebih berat, saya ingin kembali dan memilih jalan yang benar, dan bukan hidup seperti ini."

"Bukankah waktu tak bisa diputar, tapi pilihan selalu ada di hadapan?"

Ia memainkan cangkir di tangannya, menatap kakinya dan berkata, "Ya, mungkin tak bisa merevisi pilihan yang dulu, tapi masih adakah waktu untuk membuat pilihan untuk masa depan? Adakah yang mau memberi kesempatan untuk orang yang pernah salah memilih seperti saya?"

Matahari semakin terik, perempuan muda di hadapan saya mohon pamit bersama putra-putranya.

"Doakan saya, (agar) punya keberanian mencari dan menggunakan kesempatan untuk memilih yang benar. Paling tidak, saya berani melakukannya untuk kedua anak ini."

Ia berjalan menyusuri lorong menuju ke luar gedung, sesekali terbatuk, tak melepaskan genggaman kedua tangan kecil di samping kanan dan kirinya.

Baca juga: Tentang Seorang Perempuan dan Hangat Peluk yang Masih Saya Rasakan Hingga Sekarang

Tak menyangka waktunya tak banyak. Setelah percakapan itu, saya mendengar ia dirawat di rumah sakit karena penyakit yang makin parah, dan tak menyisakan banyak waktu dalam rentang hidupnya.

Saya tak akan dapat mendengar tutur dari mulutnya lagi, bagaimanakah keberaniannya nyata dan diuji oleh tantangan hidup, apakah ia akhirnya membuktikan bahwa kesempatan untuk memilih digunakannya dengan bijak? Badannya yang terbujur kaku seakan tetap bicara pada saya, "Aku pernah salah memilih, tapi aku juga pernah belajar berani, jika saja masih ada waktu dan kesempatan untuk belajar memilih yang benar."

Kita tidak selalu sukses memilih, terkadang kesalahan itu menyeret kita ke jalan yang tidak kita inginkan. Tapi belajarlah berani! Selama masih ada waktu pastilah kesempatan akan datang. Belajarlah! Beranilah!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sebelum Penyesalan Hadir, Bijaklah Membuat Pilihan. Sebuah Kisah Nyata". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar