Sari, Gatot, dan Misteri di Balik Bubarnya Sebuah Grup WA

Remah Renyah

[Photo credit: expansion]

1.2K
Bubarnya sebuah grup WA sama hukumnya dengan mantra pemanggilan arwah.

Seorang ibu curhat kepada saya setelah ia dikeluarkan dari sebuah grup WA.

“Komentar saya dianggap menyerang adminnya,” ujarnya.

[Photo credit: giphy]


Kalau saya, jika tanpa alasan saya dikeluarkan dari grup WA, saya justru merasa bersyukur. Mengapa? Karena mau left group, sungkan. Wkwkw.

Saya tidak pernah membentuk grup WA. Semua grup WA yang saya ikuti karena saya diundang masuk ke dalamnya. Mulai dari grup asal kota—Arek Blitar—grup sekolah, kuliah, penulis, dosen, sampai grup hobi. Sebagian besar grup itu pun memasukkan nama saya tanpa pemberitahuan. Tiba-tiba saja ada grup baru di WA saya.

Datang tidak diundang. Pulang tidak diantar. Persis seperti permainan jailangkung. Bubarnya sebuah grup WA sama hukumnya dengan mantra pemanggilan arwah itu.


Pertanyaan yang mengganjal, mengapa grup WA bisa bubar?


Humor yang sahabat saya, Nani, kirimkan ini menurut saya bisa merepresentasikan penyebab bubarnya sebuah grup WA.


Bermula dari chatting-an antar anggota lama dengan anggota baru.


Budi: Halo Sari, selamat bergabung di group ya ...

Sari: Halo juga, saya baru nih di Surabaya.

Gery: Ya Sari, jangan khawatir sayang, aku akan bantu apa pun buat kamu.

Amin: Halo Sari, kalo ada perlu apa2 tinggal bilang aja, aku siap bantu kapan pun.

Boby: Halo Sari, saya bisa nemenin kamu ke mana aja kamu mau... kabarin aja ya say

Hendro: Halo Sari... tenang aja selama ada saya semua pasti beres.

Sari: Tks temen2 semua atas perhatiannya, kalian semua memang baik banget.

Budi: Btw, nama lengkap kamu siapa?

Sari: Sarifudin, asli Jember.


Budi left

Gery left

Amin left

Boby left

Hendro left

Admin left

Gatot 'online'


Sari: Mas Gatot kok ngak ikut left?

Gatot: Yah saya husnudzon dan sabar saja, semua pasti ada hikmahnya.

Sari: Iya mas Gatot sebetulnya nama lengkap saya Indah Putri Sarifudin. Sarifudin nama ayah saya, Saya mantan putri indonesia tahun 2013.

Sari: Saya janda ditinggal mati, suami saya meninggal begitu selesai akad nikah, jadi kami sama sekali belum sempat berbulan madu.

Sari: Mudah-mudahan mas Gatot berkenan menjadi imam saya.

Gatot: Alhamdulillah...

Sari: Nama lengkap mas Gatot siapa?

Gatot: Siti Halimah Binti Gatot


[Photo credit: giphy]

Sari left ...


Jujur, saya ngakak sendirian membaca tulisan di atas. Ternyata amat banyak hal yang bisa membuat seseorang left group atau admin-nya sendiri yang membakar perahu di belakangnya saat merasa telah mendarat di pantai yang salah.


Jadi, bagaimana cara bijak menangani grup WA?

Pertama, hanya ikuti grup yang benar-benar bermanfaat bagi kita.

Kedua, tidak kepo dengan membaca setiap posting-an. Waktu kita terbatas. Jangan buang-buang waktu hanya untuk stalking hal-hal yang tidak pantas.

Ketiga, left group jika grup itu dirasa sudah terlalu mengganggu. Mengganggu dalam hal apa? Yang utama dan terutama, menghabiskan baterai, wkwkwk. Jika kita tidak mau left group, untuk menghemat baterai, matikan notifikasi. Namun, jika dirasa tetap menggangu, meninggalkan grup adalah langkah yang bijak. Tentu saja pamit dulu sebelum left. Jelaskan alasannya sesingkat mungkin. Kalau terlalu panjang, malah member yang lain yang left he he he.

Jika Anda tidak tertarik membaca tulisan ini, Anda juga bisa left page, wkwkwk.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sari, Gatot, dan Misteri di Balik Bubarnya Sebuah Grup WA". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar