Saat Anak Bermasalah dengan Teman Bermainnya, Bagaimana Orang Tua Bijak Bertindak?

Parenting

[Photo credit: Rawpixel]

3.8K
Selain anak kita yang begitu berharga untuk kita, anak-anak lain di luar sana juga sama berharganya - seperti anak kita untuk kita - bagi orang tua mereka.

Beberapa waktu lalu, sempat viral video seorang bapak yang menendang anak laki-laki yang tidak sengaja menabrak anak perempuannya ketika anak laki-laki itu bermain ayunan. Saya tidak hendak berdebat apakah yang dilakukan si bapak ini benar atau salah.

Saya hanya hendak berbagi pemikiran bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang bijak bagi anak-anak kita.



Menjadi orang tua memang gampang-gampang susah.

Tidak ada sekolah khusus untuk belajar bagaimana cara menjadi orang tua yang baik. Tidak ada pula sebuah standar untuk menentukan pola asuh yang benar atau salah. Setiap orang tua, saya yakin, hanya ingin melakukan yang terbaik [setidaknya menurut diri mereka sendiri] untuk anak mereka masing-masing.

Sebagian besar pola asuh kita, harus diakui, juga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua kita di zaman dulu. Meskipun, kita tentu paham, tidak semua pola asuh dapat diterapkan di segala masa.

Pada dasarnya semua anak berharga, tetapi tentu yang paling berharga untuk kita adalah anak-anak kita sendiri. Berpijak pada pemahaman itu, sebagai orang tua, sepatutnya kita mengingat ini,

bahwa selain anak kita yang begitu berharga untuk kita, anak-anak lain di luar sana juga sama berharganya - seperti anak kita bagi kita - untuk orang tua mereka.

Baca Juga: Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya



Anak Kita dan Anak Orang Lain.

Beda keluarga, beda pola asuh, tentu beda pula hasil yang ditunjukkan pada perilaku anak. Jangan menyamakan anak Anda dengan anak orang lain.

Di setiap lingkungan bermain, baik di sekolah maupun di tempat umum, anak-anak akan dengan mudah menemukan teman baru. Namun, dengan demikian mudah juga terjadi selisih paham dan pertengkaran kecil di antara mereka. Sebagai orang tua, kita perlu bijak menyikapi hal ini. Jangan sampai anak-anak sudah berbaikan dan kembali bermain bersama, kedua orang tua masih saja berbaku hantam.

Orang tua perlu mempersiapkan anak untuk menghadapi hal-hal yang mungkin terjadi ketika mereka ada di tempat umum. Bertengkar dengan teman sepermainan, salah satunya. Bermain bersama orang tua di rumah bisa menjadi sarana untuk menanamkan sikap yang baik pada anak ketika mereka mengalami konflik dengan teman sebayanya.

Saat anak merebut mainan yang sedang Anda pegang, misalnya. Anda bisa langsung mengarahkan dan menunjukkan bagaimana cara meminjam dengan baik juga bagaimana anak harus bersikap jika ternyata temannya tidak bersedia meminjamkan mainan kepadanya. Atau jika anak tidak sengaja melemparkan mainan atau menyakiti Anda. Anda bisa langung mengarahkan anak untuk meminta maaf dan membantu Anda mengatasi rasa sakit yang ditimbulkan akibat perbuatannya, juga mengingatkan bahwa mereka juga harus melakukan seperti yang telah Anda ajarkan jika suatu saat ia tidak sengaja melukai temannya.

Lewat aktivitas pretend play seperti itu, orang tua dapat menanamkan kesopanan dan menumbuhkan rasa empati anak terhadap orang lain - termasuk teman sepermainannya.

Ketika terjadi konflik antara anak Anda dengan anak lain di tempat umum, sebaiknya orang tua tidak langsung mengambil alih posisi anak, terutama jika anak sudah berusia di atas 4 tahun. Di usia itu, anak diharapkan sudah mampu mengutarakan pendapatnya kepada orang lain. Anda hanya perlu memantau dan memperhatikan bagaimana cara anak Anda mengatasi permasalahannya serta memastikan anak Anda tetap aman. Jika ternyata kemudian ada orang dewasa lain turut campur dalam penyelesaian konflik dan berpotensi membahayakan anak Anda, Anda harus segera menindaklanjuti dengan kepala dingin.

Jika anak berusia di bawah 4 tahun, yang perlu dilakukan orang tua adalah membantu anak untuk mengarahkan sekaligus menyampaikan pemikiran dan perasaannya kepada teman yang dengannya anak terlibat konflik. Bukan mengambil alih posisi anak atau membela perilaku anak [apalagi jika ternyata anak kita yang memicu konflik],

orang tua seharusnya memberikan contoh terbaik bagaimana anak harus bersikap menghadapi konflik.

Setiap jenjang usia anak memang membutuhkan penanganan yang berbeda dari orang tua. Namun, yang pasti, di jenjang usia manapun, langkah pertama yang harus diambil oleh orang tua yang bijak dalam menyikapi konflik antara anak dengan anak selalu ini: memahami terlebih dahulu duduk permasalahannya.

Dan, sebagai sesama orang tua, kita sebaiknya menahan diri dari sikap menghakimi anak orang lain. Jangan pernah memarahi apalagi melakukan tindak kekerasan kepada anak orang lain.

Anak merupakan representasi kondisi rumahnya, lebih spesifik lagi, representasi ayah dan ibunya. Jadi, jika Anda menjumpai seorang anak yang kasar dan seenaknya sendiri, kurang lebih Anda bisa membayangkan bagaimana rumah dan orang tua yang membesarkannya.

Satu hal penting yang perlu orang tua tanamkan pada diri anak adalah pemahaman bahwa anak masih memiliki banyak teman yang lain. Sehingga, jika ada teman yang bersikap kasar padanya, ia tidak perlu segan-segan untuk berkata, “Jangan!!” kemudian menjauh dan tidak berteman terlalu dekat dengan teman yang kasar tersebut. Jangan sampai anak menjadi tidak berani menjauh hanya karena takut tidak punya teman. Ini adalah salah satu langkah preventif orang tua untuk menjauhkan anak-anak dari bullying.

Baca Juga: Anaknya Dicekik di Sekolah, Apa yang Dilakukan Sang Ibu Benar-benar Membuat Saya Terpana



Anak Kita dan Kita.

Kapan pun dan dimana pun, ada gadget yang senantiasa menempel di tangan. Begitu satu ciri paling menonjol dari kebanyakan orang tua zaman now, yang sangat ketergantungan dengan gadget dan media sosial mereka.

Memang ada orang tua yang senang sekali mendokumentasikan kegiatan-kegiatan anaknya sehingga ia selalu memegang gadget di tangannya. Namun, tidak sedikit orang tua yang perhatiannya jadi teralih karena gadget sehingga jadi tidak fokus mengawasi anak-anak mereka.

Kejadian anak yang tertabrak anak lain yang sedang bermain ayunan tadi amat mungkin terjadi juga pada anak-anak kita ketika kita terlalu sibuk dengan gadget kita. Orang tua sibuk mendokumentasikan kegiatan anak atau mengunggahnya ke media sosial sehingga mata mereka terfokus pada layar gawai.

Bukannya tidak boleh, tapi alangkah lebih bijak jika orang tua mendokumentasikan kegiatan anak dengan tetap mengawasi mereka secara langsung. Mata sesekali melihat layar gawai untuk memastikan bahwa anak tetap on-screen, tapi tanggung jawab utama orang tua tetaplah menjaga keamanan anak dan sekitar tempat bermain mereka.

Bukan hanya memastikan anak dalam keadaan aman, tetapi juga memastikan bahwa anak tidak dalam kondisi membahayakan teman bermainnya yang lain.

Misalnya, kita melihat anak kita sedang bermain ayunan cukup kencang, sedangkan di sekitar ayunan itu tidak ada pagar pengamannya. Sebaiknya kita sebagai orang tua mengingatkan kepada anak kita agar berayun dengan lebih pelan dan berhati-hati agar tidak mengenai temannya yang lain. Kita pun juga harus tetap berjaga di sekitar anak dan mengawasi, agar jika tiba-tiba mainan anak kita membahayakan anak lain kita bisa dengan sigap menghindarkan bahaya tersebut.

Intinya, terutama saat berada di tempat umum,

sesama orang tua yang memiliki anak, salinglah menjaga keselamatan anak-anak kita agar mereka tidak celaka.

Memang yang namanya kecelakaan biasanya terjadi tanpa disangka dan pastinya tidak ada seorang pun yang ingin anaknya celaka. Namun, ketika anak kita mengalami sebuah musibah karena keteledoran kita yang kurang memperhatikan ancaman di sekitar anak, maka pihak yang sepatutnya disalahkan adalah DIRI SENDIRI.

Jangan pernah mempertaruhkan keselamatan anak. Apalagi hanya demi postingan di media sosial. Like sebanyak apa pun tidaklah lebih berharga dibanding masa depan anak Anda.



Anak adalah representasi orang tuanya.

Perilaku anak terutama terbentuk dari pengalaman dan pengamatan mereka saat berinteraksi dengan orang tuanya.

Jadi, jika kita ingin anak kita menjadi anak yang taat dan mau mendengarkan kita di mana pun mereka berada, pertama-tama jadilah orang tua yang juga ‘taat’ dan mau memberikan perhatian penuh untuk mendengarkan anak, bukan sekadar mendengar saja.

Jika kita ingin anak kita bisa menjaga dirinya, jadilah orang tua yang mampu mencontohkan nilai-nilai dan sikap yang positif dalam menghadapi konflik. Jika kita ingin anak kita kelak bisa bertahan menghadapi kerasnya kehidupan, jadilah orang tua yang mau membiarkan anak untuk mencoba hal yang baru, namun setia berjaga di belakang mereka sekiranya mereka membutuhkan uluran tangan orang tua mereka.

Proses belajar menjadi orang tua akan terus berlangsung hingga kita bertemu Sang Pencipta. Apa kontribusi yang telah kita berikan pada dunia sebagai orang tua? Di akhir nanti, kita harus menjawab dan mempertanggung jawabkannya.

Saya percaya, hukum tabur-tuai itu ada. Apa yang kita tabur, itu juga yang kita tuai. Apa yang kita tabur dan tanamkan pada anak-anak, itu juga yang akan kita tuai suatu saat kelak. Jika kita tidak menabur benih yang baik, jangan mengharap menuai hasil yang baik. Namun, jika benih yang kita tabur baik, percayalah kita akan menuai hasil yang baik pada saatnya.

Tugas kita bukan hanya menyebarkan benih lalu meninggalkannya begitu saja. Diperlukan usaha keras agar benih itu bertumbuh dengan baik. Beri pupuk terbaik, sirami dan tengok pastikan ia bebas dari hama. Lakukan semua dengan tekun, setiap hari.


Mari bersama belajar untuk menjadi orang tua yang semakin bijak dari hari ke hari. Demi anak kita dan masa depan mereka.




Baca Juga:

Nasihat Terbaik yang Pernah Saya Dengar tentang Menjadi Seorang Ayah

Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru sedang Mendidik Mereka

Keberanian Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan adalah Bekal Kehidupan yang Penting. Mari Tanam dan Tumbuhkan pada Anak sejak Dini!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saat Anak Bermasalah dengan Teman Bermainnya, Bagaimana Orang Tua Bijak Bertindak?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Camilla Mardi Pratjaja | @camillamp

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar