Punya Pacar Nakal? Segera Putuskan, Ini 3 Alasan Kuatnya

Singleness & Dating

[image: Forza Style]

2.4K
Pacar yang terus merongrong minta kesucianmu ibarat benalu. Bila kamu membiarkannya, maka akhirnya kamu yang akan menjadi rapuh dan rusak.

"Tidak, aku tidak mau! Aku bilang tidak, ya, tidak!"

Suara seorang perempuan terdengar nyaring masuk ke seluruh rumah kami.

Saya berlari dari jendela ke jendela di lantai dua rumah untuk mencari asal suara itu. Tak butuh waktu lama, dari jendela yang menghadap gang sempit di belakang rumah kami, tampak sepasang siswa dan siswi berseragam berdiri hampir berimpitan seperti orang yang sedang bertengkar. Sang pelajar putra tersebut berusaha merapat sambil mencengkeram lengan atas pelajar putri tersebut dan dibalas dengan entakan dan dorongan dari siswi yang berusaha menjauhkan tubuhnya.

Kalimat yang sama terus saja diucapkan oleh remaja putri tersebut, “Aku bilang tidak, ya, tidak!”

Siswa yang tampaknya pacar dari siswi tersebut sedang berusaha merayu, bahkan mendesak, agar pacarnya bersedia “melayani” dia secara cepat di gang tersebut.

“Nekat dan gila amat!” demikian pikir saya.

Ingin rasanya saya membubarkan mereka dengan menyiram seember air, biar si cowok tahu bahwa lorong itu tidak sesepi yang ia harapkan. Namun saya kasihan dengan si cewek kalau ikut tersiram air. Saya ingin keluar langsung untuk mengomel dan menyuruh mereka bubar, tetapi waktu itu saya sendiri masih SMA. Saya berbadan kecil dengan berat badan hanya 25kg. Saya juga sedang sendirian di rumah. Kalau saya malah diberi “bogem mentah” sama cowok itu, bagimana?

Akhirnya saya memilih untuk menunggu di dekat jendela itu. Sambil siap-siap berteriak dengan keyakinan pasti ada yang keluar rumah jika mendengar teriakan saya.

Sepasang pelajar tersebut terus berada di sana dan bertengkar hampir lima belas menit, sampai akhirnya mereka berdua membubarkan diri.

“Syukurlah, siswi itu berhasil dengan tegas menolak yang ga’ bener,” pikir saya.

Namun anehnya, keesokkan harinya, pada jam yang mirip, hal serupa kembali terjadi. Teriakan dengan kalimat yang sama kembali menggema hingga menembus masuk ke ruangan di rumah saya. Spontan saya langsung lari ke jendela yang menghadap lorong sempit belakang rumah dan melihat sepasang siswa dan siswi yang sama. Di lorong yang sama, pada posisi yang hampir sama. Kali ini, tak sampai lima menit, salah seorang tetangga yang adalah ketua RT yang rumahnya juga di sekitar gang itu segera datang dan berbicara dengan mereka.

Ternyata, bukan hanya Pak RT yang turut mengamati peristiwa tersebut, Pak Lurah yang rumahnya bertepatan di samping rumah saya pun mengamati dari jendela lantai dua. Rupanya peristiwa kemarin telah menjadi tontonan seperti “layar tancap” dari jendela masing-masing penghuni di sekitar gang tersebut.

Tidak jelas bagi saya apa saja yang disampaikan Pak RT. Yang pasti, ia berhasil membuat mereka benar-benar membubarkan diri dan tidak lagi mengulangi adegan yang sama.

Bagi saya, peristiwa tersebut adalah gambaran dari tantangan yang dihadapi oleh pemuda-pemudi yang sedang berpacaran.

[image: American SPCC]

Sebenarnya ada cukup banyak pemuda/pemudi yang bertekad untuk tidak mencemarkan diri selama masa pacaran. Namun, sayangnya, ada di antara mereka yang menjalin hubungan kasih dengan orang-orang yang tidak memiliki prinsip yang sama, bahkan beranggapan pacaran harus mencapai kemesraan seperti relasi suami-istri.

Akhirnya mereka “terpojok” oleh desakan dan rayuan untuk menyerahkan kehormatan mereka kepada sang pacar. Banyak dari mereka yang menyatakan sebenarnya ingin putus biar aman, tetapi tak mampu tegas memutuskan untuk berpisah karena masih melihat “sisi baik” dari sang kekasih. Hal ini persis seperti peristiwa sepasang pelajar di atas. Sudah tahu pacarnya hendak meminta yang tidak senonoh, sudah ditolak, tetapi membiarkan hal yang sama terjadi keesokan harinya.

Entah, apakah kamu yang membaca ini termasuk dalam golongan anak muda yang sedang bergumul dengan hal yang sama. Atau mungkin kamu sedang menghadapi sahabat, saudara, atau kerabat yang mengalami kegalauan serupa. Terhadap problema di atas, jawabannya hanya satu. Jangan menunda-nunda untuk memutuskan hubungan dan menjauhkan diri dari pasangan yang selalu menggoda dan merayumu untuk menyerahkan kemurnianmu sebelum pernikahan.


Tiga hal di bawah ini adalah alasan kuat bagimu untuk mengambil keputusan tersebut:



1. Berdiri lama di pinggir jurang memperbesar kemungkinan untuk jatuh

Masih ingat dengan Yong Ning, selebgram penantang maut yang mati karena jatuh dari lantai 62? Sebenarnya, dengan berdiri di pinggir lantai 62 gedung itu saja sudah cukup berisiko untuk jatuh. Namun ia sempat “selamat” sebentar karena ia bergayut dengan tangannya satu kali dan kembali lagi ke atas. Sayangnya, ia mengulangi aksinya dengan berbagai perlengkapan seperti sarung tangan dan sebagainya untuk mendapatkan pose yang lebih baik. Ia terlalu lama bergelantungan di sana, sampai akhirnya kekuatannya makin melemah dan ia tidak mampu mengembalikan seluruh tubuhnya naik ke tempat semula. Ia mencoba dan mencoba, tetapi gagal karena vitalitasnya menurun. Akhirnya, tangannya tak kuat lagi bertahan, hingga ia jatuh dan mati. Yong Ning terkenal sebagai pria muda dengan vitalitas tinggi dan pengalaman yang banyak soal panjat-memanjat untuk pose menantang maut, tetapi akhirnya jatuh juga.

Prinsip yang sama juga kita hadapi dalam hidup ini, tidak ada seorang pun yang “selalu kuat” atau “selalu waspada”. Untuk itulah, kita perlu menempatkan diri sejauh-jauhnya dari “jurang” yang akan membuat kita terpeleset dan jatuh.

[image: allpoetry]

Pacar yang senantiasa menggoda, merayu, bahkan mendesak meminta kamu menyerahkan kemurnianmu adalah jurang itu. Saat ini mungkin kamu masih kuat menolaknya. Akan tetapi, siapa tahu apa yang terjadi di kemudian hari, kala kamu sedang dilanda sedih, kecewa, dan menjadi lemah? Di saat-saat rentan seperti itu biasanya banyak anak muda yang “baik-baik” jatuh dalam dosa seksual karena pacaran dengan manusia jenis penggoda.

Pacar jenis ini patut dijauhkan dari hidupmu.

Godaan ada bukan untuk dihadapi, tetapi untuk dihindari.

Baca Juga: Pacar Mengajak Berhubungan Seks. Apakah Ia Benar Cinta atau Nafsu Semata, Bagaimana Saya Membedakannya?



2. Kamu perlu pupuk, bukan benalu

Pernah melihat pohon yang dipenuhi lilitan benalu? Pohon yang dililit benalu kondisinya jauh berbeda dari pohon yang bersih dari benalu. Pohon dengan benalu menjadi lapuk, rapuh, dan mudah roboh. Sangat membahayakan orang-orang yang ada di sekitarnya. Di kota tempat saya tinggal, pemerintahnya begitu tanggap untuk membersihkan benalu dari pohon, atau menebang pohon-pohon yang terlihat sudah rapuh karena terlalu lama dililit benalu.

Pacar yang terus merongrong minta kesucianmu ibarat benalu. Bila kamu membiarkannya, maka akhirnya kamu yang akan menjadi rapuh dan rusak.

Kerusakan hidupmu juga akan berpengaruh negatif terhadap orang-orang di sekitarmu. Saya pernah memaparkan dampak positif menolak seks pranikah sekaligus memperlihatkan dampak negatifnya terhadap kondisi mental dan kehidupan sosialmu di artikel ini: Bukan Hanya Soal Dosa, Inilah 7 Manfaat Menolak Seks Pranikah

Pacaran yang sehat akan membuat sepasang insan bertumbuh semakin positif dalam hal karakter, emosi, sosial, dan berbagai aspek kehidupan. Dorongan dan motivasi untuk menolak perilaku menyimpang justru menjadi diskusi dan komitmen bagi mereka yang memiliki pacar yang “sehat”. Ibarat simbiosis mutualisme, keduanya saling membersihkan dan saling membangun. Sebaliknya, pacaran dengan prinsip simbiosis parasitisme justru akan terus mengisap “manis”-nya dirimu sampai ke akar-akarnya.

Itulah sebabnya, kamu perlu pupuk, bukan benalu. Pacar yang baik akan menjadi pupuk yang menyuburkan sisi positifmu dan menyehatkan pertumbuhkan mental serta karaktermu.



3. Emas palsu tak perlu dibeli jika ciri-cirinya sudah terlihat

Di setiap toko emas ada alat yang dipakai untuk menguji apakah emas yang akan mereka beli dari penjual yang datang itu asli atau tidak. Bila ternyata ciri-cirinya menunjukkan emas itu palsu, mereka akan dengan tegas menolak membeli emas tersebut.

Tentang pacar yang adalah calon suami atau istri, tentu ada standar dan ciri-ciri apakah ia orang baik-baik atau bukan.

Salah satu tanda bahwa seorang itu baik dan berkualitas serta pantas menjadi teman hidupmu adalah ia bersedia menjaga diri dan kehormatanmu.

Ia tidak membiarkan orang lain merampasnya di depan matanya, sama seperti ia tidak mau merampas kemurnianmu untuk memuaskan nafsunya. Orang yang berkualitas “emas” ini yang layak mendampingi hidupmu.

Baca Juga: Waspada! Inilah 5 Ciri Cowok dan Cewek Nakal. Jangan Sampai Salah Pilih Pacar!

Jadi, jika kamu sudah melihat bahwa pacar atau gebetanmu memiliki ciri-ciri “emas” palsu, tak perlu ragu untuk berlalu. Ingatlah bahwa tak seorang pun yang tidak menyesal setelah “membeli emas palsu”. Kamu tidak perlu menjadi salah satu di antara mereka.





Baca juga artikel-artikel yang akan membantumu memutuskan yang terbaik bagi dirimu sendiri ini:

Inilah Trik dan Rayuan Pria untuk Mendapatkan Keperawananmu Sebelum Menikah. Kamu Harus Bisa Menolak! Begini Caranya

Selama Pacaran, Raih 5 Relationship Goals yang Benar-Benar Penting ini demi Kebahagiaan








Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Punya Pacar Nakal? Segera Putuskan, Ini 3 Alasan Kuatnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:[email protected]

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar