Puluhan Tahun Gemuk, Saya Berhasil Langsing! Bukan Diet atau Olahraga, tapi Ini Rahasianya

Reflections & Inspirations

[Photo credit: cosmopolitan]

10K
Sejak remaja saya termasuk seorang yang gemuk. Bukan gemuk karena faktor keturunan atau genetik, hanya saja kelihatannya tak mudah bagi saya untuk langsing. Tebersit pertanyaan dalam benak saya: Apakah gemuk sudah menjadi takdir saya?

Setiap perempuan, muda ataupun tua, pasti senang jika disebut cantik. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa inner beauty lebih penting, namun bagi saya outer beauty seharusnya juga tidak kalah pentingnya.

Saya punya inner beauty, tapi rasanya tidak punya outer beauty karena sejak remaja saya termasuk seorang yang gemuk. Bukan gemuk karena faktor keturunan atau genetik, hanya saja kelihatannya tak mudah bagi saya untuk langsing. Tebersit pertanyaan dalam benak saya:

[Photo credit: Shutterstock]

Apakah gemuk sudah menjadi takdir saya?


Dulu, ketika pertama kalinya teknologi komunikasi 3G diperkenalkan, saya bahkan sudah mempopulerkan 4G kepada teman-teman saya. 4G, gurauan yang saya gunakan untuk menggambarkan peringkat kegemukan yang saya alami: Gede - Gemuk - Gendut - Gembrot. Sebuah olok-olokan untuk diri sendiri yang sebenarnya juga untuk memacu saya yang sudah gemuk untuk tidak naik ke peringkat berikutnya.

Saya sebenarnya tidak berharap memiliki bentuk badan yang indah bak gitar Spanyol, tetapi paling tidak saya ingin punya berat badan yang masih lumayan sebanding alias proporsional dengan tinggi badan saya. Saya juga ingin tidak kerepotan lagi jika hendak membeli pakaian jadi. Masa setiap kali saya harus membeli bahan kain dan menjahitkannya? Dan yang lebih utama adalah ini: saya ingin sehat.

Tidak mudah memiliki berat dan bentuk badan ideal. Pertama, sejak remaja saya memang sudah gemuk. Lalu, saya mengalami tiga kehamilan, dengan pertambahan berat 18 kilogram setiap kali hamil. Lebih parahnya lagi, setiap kali setelah melahirkan, selalu tersisa saldo beberapa kilogram di badan saya. Bertambah usia juga bukan berarti bertambah mudah untuk diet, karena kabarnya metabolisme tubuh kita pun sudah kurang baik dibandingkan ketika kita masih berusia muda. Saya bahkan sering 'menghibur' diri dengan mengatakan, "Minum air putih saja bisa menjadi daging di badan saya."


Saya bukannya tidak berolahraga dan diet. Olahraga sudah sekuat tenaga, segala diet sudah pernah saya coba. Mulai dari diet yang ngawur sampai diet yang kesannya ilmiah, dari diet yang simple dan murah, sampai yang ribet dan memakan biaya puluhan juta.

Berat badan saya memang pernah sempat turun tetapi naik lagi dan saya malah semakin jadi lebih gemuk. Kata orang, itulah imbas paling menyeramkan dari diet: efek yoyo.

Semua sudah dicoba, tapi, kok, tidak pernah berhasil juga, ya? Pertanyaan itu pun kembali muncul:

Apa memang saya ditakdirkan untuk gemuk?


Sampai di satu titik, ketika usia saya sudah melewati 40 tahun dan ketika berat badan saya terus menanjak hingga menyentuh angka di atas 80 kilogram [dengan tinggi 165 cm], dan ketika ukuran kemeja atau blus saya tidak pernah lebih kecil dari XL dan bahkan XXL,

saya akhirnya
meyakini bahwa
memiliki badan gemuk
bukanlah
takdir atau nasib saya.


Saya pasti dapat mengubahnya!

Namun, dalam perjuangan saya untuk menjadi langsing, saya menemukan ternyata ada pandangan-pandangan saya yang keliru, yang ketika saya berhasil mengubahnya, saya juga akhirnya berhasil mengubah bentuk badan saya ini menjadi lebih langsing.

Inilah 4 pandangan saya yang keliru itu:



1. Cantik itu relatif, yang penting memiliki inner beauty

"Dari mata turun ke hati," begitu kata sebuah kiasan klasik. Bagi saya, artinya, "Bermula dari outer beauty baru orang lain bisa melihat inner beauty saya."

Outer beauty saya ibarat pintu gerbang untuk orang lain tertarik melihat, mengenal, dan menyukai inner beauty saya. Outer beauty memang bukan hanya masalah merias wajah, body language, atau cara berpakaian, yang lebih mendasar bagi saya adalah penampakan lahiriah saya dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan terutama bentuk badan saya apakah termasuk 'enak dilihat mata'.

Ketika saya mengubah pemikiran saya dan mengamini bahwa outer beauty sama pentingnya dengan inner beauty, maka saya pun memberi perhatian lebih kepada outer beauty saya. Saat itulah perubahan mulai terjadi.

Saya jadi lebih suka bercermin, saya lebih berusaha memadupadankan pakaian yang saya kenakan, dan saya tidak malas menimbang berat badan saya. Perubahan demi perubahan terus terjadi. Dan saya yakin, saya segera akan memiliki outer beauty, on top of my inner beauty.

Baca Juga: Perempuan Memang Harus Cantik! Cantik yang HQQ, Bukan Ala Instagram Selfie



2. Sudah bersuami dan punya anak, gemuk tidak jadi masalah, yang penting keluarga bahagia

[Photo credit: Mikaela Shannon]

Sejak berpacaran dengan suami pun saya sudah gemuk. Setelah menikah dan punya tiga orang anak, lalu saya makin menjadi gemuk, seharusnya menjadi hal yang sangat dimaklumi dan diterima oleh suami saya.

Meskipun demikian, apakah suami saya tidak menginginkan istrinya langsing? Saya membayangkan, ketika para suami diikutkan dalam jajak pendapat mengenai kriteria fisik yang diidamkan dari istri mereka, salah satu jawaban dari semua suami itu pasti adalah: bentuk badannya langsing.

Beruntung saya punya suami yang dapat mengungkapkan keinginan atau harapannya dengan jujur dan gamblang tentang masalah kegemukan saya. Dukungannya supaya saya menjadi langsing pun tidak tanggung-tanggung. Akan tetapi, ketika segala usaha yang sudah dilakukan tidak membuahkan hasil sebagaimana diharapkan, jangan-jangan ia pun berpikir bahwa punya istri gemuk sudah menjadi takdirnya. Ia bahkan menertawakan niat saya ketika kali terakhir setelah untuk kesekian kalinya saya memutuskan berdiet lagi. "Apa kamu yakin bisa berhasil?" tanyanya.

Ketika akhirnya saya berhasil mewujudkan apa yang diharapkan suami saya, kebahagiaan itu tak dapat terlukiskan dengan kata-kata saja.

Baca Juga: Seni Tetap Mencintai Pasangan yang Dulu Kurus kini Gendut



3. Gemuk itu tidak masalah, yang penting sehat

Tidak ada gemuk yang sehat.

Gemuk itu artinya kita kelebihan berat badan dan yang membahayakan dari kelebihan itu adalah kelebihan lemak.

[Photo credit: Ads of The World]

Saya awalnya tidak tahu kalau ada timbangan khusus yang bisa mengukur berat lemak kita. Biasanya timbangan jenis ini selalu disediakan di pusat-pusat kebugaran. Saya kaget sekali ketika mengetahui ada sebegitu banyaknya kelebihan lemak di dalam badan saya; dan bukankah lemak adalah sumber segala penyakit? Oh, ini sangat menyeramkan!

Bukan masalah bentuk badan saja, ini soal hidup sehat dan umur panjang.

Saya terus bicara pada diri saya: Mana ada gemuk yang sehat? Berbadan gemuk pasti berisiko lebih besar untuk berpenyakit. Saya memang sudah semakin berumur. Saya tidak bisa menolak bertambahnya usia saya, tapi saya bisa memilih untuk menua dengan sehat. Dan gemuk bukanlah yang saya inginkan.



4. Diet itu cocok-cocokan, yang penting harus olahraga

Tidak ada yang menyangkal bahwa kita perlu olahraga supaya kita sehat. Tapi hanya dengan olahraga saja mengharapkan langsing? Tentunya tidak semudah itu. Apalagi kalau kita memilih jenis olahraga yang salah dan selama berolahraga kita tidak membarenginya dengan diet yang benar.

Malah, menurut beberapa ahli, kita harus diet dulu yang benar disertai olahraga ringan, seperti renang dan jogging, baru setelah lebih langsing kita bisa beralih ke olahraga yang lebih membentuk tubuh seperti olah tubuh di pusat kebugaran.

Sebenarnya namanya saja diet berarti kita harus mengurangi atau membatasi apa yang masuk ke badan kita. Ada macam-macam diet, saya pernah mencoba semuanya. Ada diet karbohidrat, ada diet gula, ada diet kalori rendah, dan yang terakhir saya coba adalah diet lemak. Setelah saya mencoba semua macam diet, sebenarnya diet bukanlah masalah cocok-cocokan, tapi harus didasari dengan pemahaman yang benar mengenai masalah dari kegemukan itu sendiri, yang belakangan saya tahu pada umumnya semua masalah kegemukan adalah berhubungan dengan kelebihan lemak. Ketika saya tahu saya harus diet lemak, saya pun berusaha untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah diet yang sehat, tidak sembarangan, tidak asal ikut-ikutan dan bukan diet yoyo karena akan membuat saya gemuk lagi setelah beberapa saat. Pemahaman saya yang lebih benar dan tepat mengenai diet lemak inilah yang mengantar saya pada keberhasilan diet yang tidak pernah saya duga sebelumnya.



Meskipun selama puluhan tahun saya menjalani kehidupan sebagai seorang yang gemuk, tetapi saya percaya, gemuk bukanlah takdir saya, bukan pula takdir kaum ibu.

Kata orang,
"Masa lalu adalah takdir, tetapi masa depan adalah pilihan."
[Photo credit: Reader's Digest]

Saya memilih untuk menjalani sisa hidup yang diberikan Sang Pencipta dengan tidak menjadi seorang yang gemuk lagi. Bahkan ketika saya hanya ingin langsing saja, yang sekarang saya dapatkan justru tidak hanya langsing, tetapi juga sehat dan bahagia.




Baca Juga:

Diet Anda Gagal? Jangan-jangan Satu Ini Penyebabnya!

Bukan Gemuk atau Kurus tetapi Satu Ini Masalahnya, jika Kamu Merasa Hidupmu Tidak Bahagia

Berat Badan Naik Lagi? Lakukan Diet dengan Menyadari Hal-Hal Ini






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Puluhan Tahun Gemuk, Saya Berhasil Langsing! Bukan Diet atau Olahraga, tapi Ini Rahasianya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Herlina Permatasari | @herlinapermatasari

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar