Perselingkuhan, Pengampunan, dan Satu yang Selamanya Tak Mudah: Penerimaan Kembali

Marriage

[Photo credit: Bui Bao]

4.7K
Saya jijik dan marah. Ia datang bukan hanya membawa dirinya, tetapi juga anak di dalam kandungan, hasil perselingkuhannya.

Potret keluarga di ruang tamu itu menarik perhatian saya. Sekilas melihat, saya sudah menemukan sebuah kejanggalan di sana.

[Photo credit: Vlaydslav Dukhin]

Seorang ayah, seorang ibu, dan dua orang anak. Semua berkulit putih dengan mata cenderung sipit. Dan kemudian, anak yang ketiga. Rambutnya ikal, kulitnya cenderung gelap. Begitu berbeda.

“Mungkin anak angkat keluarga ini,” batin saya.

Tak ada yang salah dengan hal itu. Mengangkat anak juga berarti melahirkannya. Bukan dari rahim, tetapi dari hati. Ini lebih baik daripada anak-anak yang hanya lahir dari rahim namun tidak dari hati sang ibu, sehingga ditelantarkan begitu saja.

Agaknya saya sudah berdiri terlalu lama menatap potret itu hingga pria sang empunya rumah mempersilakan saya untuk duduk. Sudah tersedia kopi serta beberapa makanan kecil di atas meja. Sebuah tawaran persahabatan di tengah dunia yang makin individualis.

Kami, dua orang pria berselisih usia 20-an tahun, berbincang tentang banyak hal dalam kehidupan. Percakapan tentang ibadah, pekerjaan, relasi, dan keluarga. Di tengah percakapan, tak bisa saya menyimpan rasa ingin tahu, apakah anak tadi benar anak angkat keluarga ini?



”Mohon maaf, ya, Pak. Saya jadi penasaran dengan anak ketiga dalam potret itu,” kata saya sambil menunjuk potret keluarga yang besar. ”Apakah itu anak angkat Bapak? Penampilannya berbeda dengan saudara-saudaranya.”

”Oh, itu. Banyak yang mengira seperti itu, Pak. Tetapi, sebenarnya ia bukan anak angkat kami. Ia juga anak kami,” pria itu tersenyum memberi jawab.

”Lho, kok bisa beda ya, Pak, tampilan fisiknya? Saudara-saudaranya putih dan, maaf, agak sipit, yang ini cenderung gelap dan matanya cukup lebar,” saya jadi kian penasaran.

”Wah, itu ceritanya panjang sekali, Pak Wepe. Ayo diminum dulu saja kopinya,” ajaknya sambil mengambil makanan kecil yang ada di meja.

”Saya suka cerita panjang, Pak. Nanti boleh, ya, saya tuliskan?” pinta saya.

”Ya, saya tahu Bapak suka menuliskan cerita. Tapi, sama seperti yang lain, tolong jangan dituliskan nama dan lokasi ya, Pak. Saya sih enggak apa-apa, tapi kasihan anak saya nanti kalau ia di-bully orang-orang yang membaca tulisan Bapak,” tuturnya sambil mengaduk gula di cangkirnya.

Rasa ingin tahu saya semakin memuncak. “Ini pasti bakal jadi cerita yang bagus!” batin saya bersorak.

Saya meminta izin untuk merekam percakapan kami. Pria itu mengizinkan, dengan catatan rekaman tersebut dihapus setelah saya menyelesaikan tulisan. Saya pun menyetujuinya.



“Ada saat dalam hidup saya, Pak Wepe, saya bekerja keras mencari uang demi kesejahteraan keluarga," begitu ia mengawali kisahnya,

"Waktu itu saya dan istri sudah mempunyai dua orang anak. Benar-benar membanting tulang, sementara istri menjadi ibu rumah tangga. Tak kenal waktu, bahkan sering kali saya meninggalkan rumah demi perjalanan ke luar kota. Dan memang ada hasilnya, kesejahteraan bertambah. Namun, tanpa sadar ada yang sebenarnya berkurang.”

Ia terdiam. Ada jeda beberapa saat setelah ini.

”Tanpa saya sadari, yang berkurang adalah perhatian saya untuk istri. Ia kesepian. Berulang kali ia mengeluhkan hal ini, tapi saya anggap angin lalu. Saya anggap ia terlalu manja. Ada anak dua, kok kesepian.”

Sebagai seorang pria yang juga menikah dan mempunyai anak, saya memahami pola pikir pria di hadapan saya. Ya, beberapa pria juga berpikir demikian. Tidak mungkin seorang istri yang menjadi ibu rumah tangga dan mempunyai anak-anak mengalami kesepian.

”Benar kata orang, penyesalan itu selalu datang terlambat. Saya baru sadar istri saya serius dengan apa yang ia katakan, ketika ia pergi meninggalkan rumah,” ujarnya sambil menghela napas.

”Pergi ke mana, Pak?” tanya saya, gelisah.

”Ia pergi meninggalkan anak-anak di rumah. Lenyap begitu saja dengan membawa beberapa pakaiannya. Saya kebingungan mencarinya. Waktu itu belum ada HP atau media sosial seperti sekarang ini. Saya menghubungi semua teman-temannya, tetapi tak ketemu. Saya lapor ke polisi, tapi nihil. Tak ada hasilnya. Anak-anak pun kebingungan, mengapa mamanya menghilang.”

[Photo credit: Danielle Dolson]

Saya terdiam. Menatap pria itu lebih lekat.

”Sampai beberapa bulan kemudian saya mendengar kabar, istri saya hidup bersama dengan salah satu mantan karyawan saya. Saya kaget dan segera menuju ke kota itu. Saya melihat sendiri, mereka memang telah tinggal bersama. Hancur hati saya,” pada bagian ini, ia mengambil tissue untuk menyeka air matanya.

”Bayangkan, Pak Wepe. Istri saya selingkuh dengan mantan karyawan saya. Saya sangat terluka dan langsung terpikir untuk menceraikannya. Saya segera pulang dan menghubungi lawyer yang saya kenal.”

”Oh …” hanya itu yang bisa terlontar dari bibir saya. Tak terbayangkan betapa hancur harga diri seorang pria ketika istrinya berselingkuh dengan mantan karyawannya.

”Saya pulang ke rumah, bercerita ke anak-anak yang masih kecil. Mereka menangis. Hati saya pun lebih berantakan lagi. Niat saya sudah bulat. Cerai! Orang yang tak setia tak layak dikasihi.”

”Akhirnya Bapak dan Ibu bercerai?”

”Ketika saya dan lawyer sedang mempersiapkan diri untuk mengurus perceraian, di tengah kesibukan pekerjaan, kurang lebih 3 bulan sejak saya pulang dari kota itu, istri saya kembali ke rumah. Saya kaget setengah mati.”

”Pulang ke rumah? Mengapa, Pak?” kisah ini semakin menggelisahkan. Arahnya sungguh sulit ditebak.

Baca Juga: Hati-Hati, Ibu Rumah Tangga Baik-baik pun Bisa Berselingkuh karena 5 Hal Ini



”Istri saya pulang karena selingkuhannya meninggalkannya. Ia tak tahu lagi harus ke mana. Ia membawa barang-barangnya ke kamar pembantu yang kosong karena merasa tidak layak lagi masuk ke kamar tidur kami,” pria itu menunjuk kira-kira letak kamar pembantu yang dimaksud.

”Di satu sisi, anak-anak saya bergembira. Di sisi lain, saya marah dan jijik dengannya. Saya tambah jijik lagi setelah melihat bahwa perutnya membesar. Ia datang bukan hanya membawa dirinya, tetapi juga anak di dalam kandungan, hasil perselingkuhannya. Saya ingin mengusirnya, tetapi anak-anak begitu gembira mamanya kembali ke rumah. Saya bingung mesti bertindak bagaimana waktu itu.”

Pada titik ini, saya mengamini, betapa hidup sering kali jauh lebih sulit diterima akal daripada kisah-kisah sinetron. Begitu banyak hal sulit dinalar terjadi dalam kisah perjalanan hidup seseorang. Saya teringat ucapan salah satu guru menulis, "Fiksi harus masuk akal, tetapi hidup tak harus demikian."

”Berhari-hari kemudian, saya yang jarang pulang. Saya gunakan semua waktu untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Saya menghindari pulang ke rumah. Saya hanya pulang ketika anak-anak sudah menanyakan mengapa papanya tidak pulang-pulang pada sekretaris di kantor. Saya betul-betul tak berdaya. Diskusi dengan lawyer pun terhenti. Tak ada solusi.”

Tak terbayangkan bagi saya bagaimana pria itu bisa bertahan dalam situasi seperti ini.

”Istri tak banyak mengajak saya berbicara. Ia melakukan tugas ibu rumah tangga seperti biasanya dulu. Malam hari, ia kembali tidur di ruang pembantu yang tak terpakai itu. Anak-anak berulang kali bertanya, mengapa mama mereka tidur di ruang itu. Saya tak mampu menjawabnya.”

Saya menyesap kopi di cangkir. Tak sanggup lagi berkata-kata atau memberikan respons tertentu.

“Dalam kebingungan, saya berkonsultasi dengan banyak orang. Saya dapat banyak jawaban. Mulai dari usulan untuk mengusir istri, karena bukan hanya mengkhianati ia juga telah mencemarkan nama baik keluarga. Ada juga usulan untuk menerima istri dan membiarkannya seperti pembantu di rumah. Saya betul-betul bingung. Anak-anak gembira karena mamanya pulang ke rumah, sementara saya bingung setengah mati.”

Jika Anda yang sedang membaca kisah ini ada di posisi saya yang mendengar langsung dari pria itu, apa yang hendak Anda katakan?

“Sampai akhirnya, saya berkonsultasi dengan seorang rohaniawan di tempat tinggalnya, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Setelah mendengarkan cerita saya, beliau hanya berkomentar singkat,

’Istrimu jadi seperti itu, ya bukan murni kesalahannya. Ada andil kesalahanmu sebagai suami. Bagaimana kamu membayar kesalahanmu itu? Istrimu sudah membayar dengan penderitaannya selama ini.'”

Wow … saya mengagumi jawaban rohaniawan itu.

“Ya, sudah, Pak. Setelah merenungkan jawaban itu, saya berpuasa dan berdoa beberapa hari. Saya mengambil kesimpulan bahwa saya harus menerima kembali istri, bersama anak dalam kandungannya. Saya mengajak istri berbicara empat mata. Ia meminta maaf, yang menurut saya tidak perlu karena sudah tercermin dari tindakannya sejak pulang. Saya meminta maaf kepadanya. Kami memulai hidup yang baru lagi. Ya, kira-kira begitulah kisah di balik potret itu. Anak yang paling kecil itu anak saya juga, bukan hanya anak istri saya.”

Baca Juga: Tidak Ingin Istrimu Selingkuh? Berikanlah 3 Hal Ini Untuknya



Saya menengok kembali ke potret keluarga itu. Setelah mendengar kisah yang panjang ini, saya jadi mengerti. Anak terkecil yang berbeda warna kulit adalah bagian dari keluarga ini. Bagian yang menjadi tanda betapa buruknya sebuah ketidaksetiaan, namun betapa luar biasanya pengampunan. Pengampunan akan menutupi pelanggaran, bukan?

Potret keluarga selalu menyimpan cerita. Ada suka, ada duka. Ada pertengkaran, ada penerimaan kembali. Ada harapan, ada kekecewaan.

Pada akhirnya,

memang hanya cintalah yang bisa menyatukan suka dan duka, pertengkaran dan penerimaan kembali, harapan dan kekecewaan.

Benarlah nasihat bijaksana ini di tengah segala gejolak kehidupan,

[Photo credit: Annie Theby]

”... dan di atas semua itu kenakanlah cinta sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”

Hanya cinta yang mempersatukan. Hanya cinta yang menyempurnakan. Cinta yang mewujud dalam kerelaan untuk berkorban demi yang tercinta.

Tanpa pengorbanan, cinta tak lagi bermakna, bukan?




Baca Juga:

Lima Belas Tahun Berselingkuh, Tak Ketahuan

Mengapa Wanita Berani Berselingkuh? Inilah 3 Penyebab Utamanya

Istri Saya Hamil, Ia Diperkosa Rohaniwan Kepercayaan Keluarga





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perselingkuhan, Pengampunan, dan Satu yang Selamanya Tak Mudah: Penerimaan Kembali". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

storyteller

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar