Perlawanan terhadap Pelakor dari Bu Dendy, Terduga Dulunya Pelakor Juga. 500 Juta Dilempar ke Muka Nyla, Biar Apa?

Reflections & Inspirations

[Photo credit: sabigaju]

8.2K
"Itu 500 juta saja lebih. Kurang? Kurang berapa? Harga dirimu berapa?" - Bu Dendy

Menyaksikan video “Bu Dendy” yang memuncaki trending topic di twitter, pemirsa, termasuk saya, bisa saja ikut emosi. Bukan saja uang ratusan juta ingin kita lontarkan tetapi juga makian yang ketajamannya bisa melebihi silet bagi hati nurani yang masih relatif murni.

Peristiwa pengungkapan aib ke publik yang demikian masif ini mengingatkan saya akan sebuah kejadian di luar negeri. Seorang ibu sedang melihat-lihat barang di toko di Hong Kong. Entah apa yang diucapkan pramuniaga toko itu. Yang jelas pembeli itu merasa tersinggung berat dan melemparkan segepok uang bernominal paling besar ke wajah karyawati itu. Pembeli itu kemudian berlalu, meninggalkan begitu saja uang itu.

Kisah kedua yang saya dengar langsung. Seorang bos hasil bumi raksasa suatu kali mengunjungi toko kamera besar. Saat dia menunjuk ke sebuah kamera premium berharga selangit, pramuniaganya menjawab sengak, “Yang itu harganya mahal!”

Berbeda dengan reaksi ibu yang melemparkan uang ke pegawai itu, bos itu malah tersenyum dan berkata, “Ya sudah kalau mahal. Lain kali saja.”

Baru saja si bos besar itu keluar toko, pemilik toko tergopoh-gopoh hendak mengejar calon pembeli yang lebih dulu pergi. Dengan marah, dia kembali dan berkata kepada karyawannya, “Kamu tahu siapa yang kamu hina tadi? Dia bukan hanya sanggup membeli kamera itu, toko ini pun sanggup dia beli!”

Dari peristiwa Bu Dendy di atas, mari renungkan apa yang sedang sakit di masyarakat kita.



Pertama.

Dari zaman baheula ke zaman now, selalu ada saja sahabat yang menikam orang dekatnya dari belakang. Entah merebut bisnisnya, entah merebut pasangannya.

Akal sehat menang mutlak terhadap hasrat sesaat.

[Photo credit: manaberita]
Nalar yang buyar membuat kita terbius ke alam bawah sadar.

Baca Juga: Saya Kerja Setengah Mati, Istri Selingkuh dengan Teman Sendiri


Kedua.

Keinginan terhadap materi

Jika yang dilontarkan oleh ‘Bu Dendy’ benar, pertanyaan yang mencuat secepat kilat, “Benarkah uang menjadi panglima di zaman sekarang?”

Melihat reaksi dari ia 'yang dihakimi’ rasanya kita perlu berpikir ulang.

Di satu sisi, saat situasi kondisi menjepit, bisa saja otak jadi sempit. Namun, saat kesadaran akan dosa yang sering kali datang terlambat, masih punya energi untuk menyalurkan prinsip paling hakiki: nilai diri.

Reaksi Nyla - begitu yang saya dengar dari video viral itu - saat dihujani pecahan seratus dan lima puluh ribuan, tangannya menyisihkan uang itu dari tubuhnya. Artinya, sedikit atau banyak, dia menyadari bahwa tubuh jauh lebih penting ketimbang aksesori: pakaian, perhiasan, pemukiman!

Saya pernah melihat video yang hampir sama. Seorang biduan berpakaian seksi dihujani uang pecahan asing oleh tuan rumah. Dia malah semakin bersemangat dan tersenyum senang.

Hal yang sama saya baca dari komentar para netizen yang sebagian berkata tegas: SAYA JUGA BUTUH UANG. BERIKAN SAJA UANG ITU KE SAYA!

Apa artinya?



Ketiga.

Hati nurani kita mulai kebal terhadap fenomena di sekitar kita. Mula-mula bisa saja kita ikut terbawa emosi dengan 'Bu Dendy' yang katanya suaminya direbut itu. Ada pula yang lama-lama kasihan juga terhadap wanita yang dimaki-maki di depan kamera. Harga dirinya betul-betul ditelanjangi. Namun, sebagian komentar justru menunjukkan,

kita pun sebenarnya bisa menjadi pelaku jika diberi kesempatan.

Baca Juga: Bukan Hanya Pelakor yang Perlu Diwaspadai, tetapi juga Pebinor dan Pepacor. Lebih Baik, Sih, Jadi Pembekor



Keempat, ini yang paling parah.

Kita jadi ikut-ikutan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Kita ingin uangnya, tetapi tidak ingin diperlakukan seperti itu.

Bayangkan, masih banyak orang yang ‘tega’ meminta uang hasil dari perbuatan yang dihujat banyak orang! Artinya? Silakan orang lain yang kena getahnya, yang penting saya kebagian nangkanya.



Kelima.

Ketimbang ikut berang, apalagi ikut-ikutan menabuh genderang perang yang sebenarnya bisa saja terjadi di kandang kita sendiri, bukankah jauh lebih elok jika kita mulai introspeksi dan membongkar gudang?

Siapa tahu, jauh di pojok-pojok gudang nurani kita tikus sudah bersarang dan beranakpinak di sana.

Jika bukan kita yang membuang, siapa lagi?
Jika bukan sekarang, kapan lagi?

Nunggu sampai ada orang yang membuat videonya, memviralkan, dan membuat kita berang?



[Photo credit: twitter]

“Bumerang yang kita lempar dengan garang ke orang tanpa perhitungan matang, bisa jadi malah kembali menjadi penyerang dan membuat kita mengerang.”

- Xavier Quentin Pranata




Baca Juga:

3 Hal Keliru yang Istri Lakukan setelah Mengetahui Suami Berselingkuh

Suami Selingkuh, Istri Cerdas Bertindak Realistis. Begini Strategi Teman Saya Mengatasi Perselingkuhan Suaminya

Punya Istri Cantik, Kok Suami Masih Saja Selingkuh? Ini 3 Penyebabnya





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perlawanan terhadap Pelakor dari Bu Dendy, Terduga Dulunya Pelakor Juga. 500 Juta Dilempar ke Muka Nyla, Biar Apa?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Belajar Saham