Pengakuan Anak Korban Kekerasan Orangtua: yang Terluka akan Melukai

Parenting

[image: Tehuacan]

2.8K
Hukuman yang dilakukan ayahnya sudah merupakan ungkapan kemarahan yang tidak dapat dikendalikan semata, bukan bertujuan untuk mendidik mereka.

“Aku berasal dari keluarga baik-baik. Kami empat orang bersaudara. Ibuku orang yang sangat lemah lembut dan ayahku seorang yang ringan tangan.”

“Hahahaha.” Tiba-tiba terdengar gelak tawa dari teman-teman lainnya.

“Apakah hanya aku sendiri yang tidak mengerti arti tawa itu?” tanya saya.

“Ringan tangan maksudnya suka mukul, pak,” jawab para peserta serentak.

“Oh ya, Son?” tanya saya dengan kaget.

Kira-kira begitulah awal perkenalan Soni di pertemuan pertama kelompok Sharing kami. Secara jujur dan terbuka, dia berani mengakui keburukan keluarganya. Semua itu tidak lagi menjadi rahasia besar. Teman-temannya tahu apa yang dia alami di rumah. Kekerasan ayahnya terhadap Soni sudah bukan penampakan asing bagi tetangga sekitar rumah, bahkan oleh teman-teman Soni sendiri.

Sungguh tak disangka, anak yang sering tersenyum itu ternyata memiliki latar belakang keluarga yang keras. Soni adalah anak ke-2 dari empat bersaudara. Di rumah mereka, ayahnya mendidik mereka dengan sangat keras. Segala perkataan ayahnya adalah benar dan harus mereka turuti. Rumah bagaikan pangkalan militer yang penuh dengan peraturan dan hukum mutlak. Kalau dilanggar, hukumannya sangat keras.

Ayah Soni membuat sebuah peraturan yang aneh terhadap anak-anaknya. Bahwa yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang menyangkut empat bersaudara itu adalah kakak sulung. Jika seorang saudara melakukan hal yang buruk, yang akan dipersalahkan adalah kakak tertua. Oleh karena itu, bila ada kesalahan yang dilakukan oleh salah satu dari mereka, hukuman akan ditimpakan kepada dia yang menjabat sebagai yang sulung.

Pernah adik Soni yang terkecil memecahkan piring di dapur mereka. Namun, yang diberi hukuman adalah kakak tertuanya. Dia dicambuk papanya dengan menggunakan ikat pinggang.


Tidak Adil!

Ketika kakaknya telah tumbuh dewasa dan harus bersekolah di luar kota, jabatan sulung itu berpindah kepada anak kedua, yakni Soni. Peraturan yang sama diterapkan oleh ayahnya, bahwa kesalahan setiap anak harus ditanggungkan kepada kakak tersulung di rumah. Inilah saat di mana Soni harus mengalami kekerasan demi kekerasan dari ayahnya.

Tidak jarang Soni menerima cambukan dan pukulan dari ayahnya. Tanpa melihat besar atau kecil masalah yang dibuat oleh saudara-saudaranya, apa pun itu, hukumannya adalah pukulan atau cambukan. Tidak ada pilihan lain.

[image: HarianSIB]

Suatu kali, kedua adik soni bertengkar di rumah. Mereka saling pukul satu dengan yang lain. Hal itu terjadi tanpa sepengetahuan Soni. Waktu itu ia sedang tidur. Ketika salah satu dari adiknya mulai menangis, dia terbangun dari tidurnya. Begitu juga ayahnya yang sedang tidur. Terbangun karena kerasnya tangisan adik Soni.

Ayahnya pun mendatangi mereka dengan wajah yang garang. Soni mencoba menjelaskan kepada ayahnya tentang apa yang terjadi. Dia berharap agar ayahnya mengerti bahwa kejadian itu terjadi di luar sepengetahuannya. Namun, ayahnya tidak mendengarkan penjelasan Soni. Diambilnya ikat pinggang dan batang sapu.

Soni mulai ketakutan dan meminta ayahnya memaafkan dia. Namun, karena dikuasai oleh kemarahan, ayahnya memukul Soni hingga sekujur tubuhnya memar. Tidak tahan dengan tekanan itu, malam itu juga Soni lari dari rumah dan mengungsi ke rumah temannya.

Bagi Soni, ayahnya adalah orang yang tidak adil. Dia menilai bahwa ayahnya sudah bersikap terlalu berlebihan kepada mereka.

Hukuman yang dilakukan ayahnya sudah merupakan ungkapan kemarahan yang tidak dapat dikendalikan, bukan bertujuan untuk mendidik mereka.


Tekanan

Setiap kali pulang ke rumah, Soni tidak merasakan damai sejahtera. Dia selalu merasa tertekan. Dia tidak bebas berekspresi. Dia menjadi benci setiap kali melihat ayahnya pulang ke rumah.

Di dalam pikiran Soni selalu ada perkataan,

“Aku bukan anak mereka. Mereka tidak mengasihi aku.”

Perkataan itu sering muncul ketika melihat ayahnya.

Hal itu melahirkan kepahitan terhadap sosok ayah di dalam dirinya. Pernah dia berpikir untuk melakukan hal yang jahat. Dia ingin membunuh ayahnya sendiri. Hal itu muncul setiap kali dia dihukum oleh ayahnya atau setiap kali melihat ayahnya sedang tidur pulas di kamar. Untungnya, dia selalu tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya.

Perkataan yang mengatakan bahwa dia bukan anak yang dikasihi juga membawa Soni menjadi seorang anak yang rendah diri. Ia sering merasa dirinya tidak berarti.

Dia merasa kesepian. Dia merasa bahwa tidak ada yang mengasihi dia. Maka itu, tidak jarang terlintas di kepala Soni untuk melakukan bunuh diri. Namun untungnya, dia juga tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya.

Baca Juga: Kamu Berharga, Apapun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apapun yang Orang Lain Katakan Kepadamu. 3 Hal Inilah Buktinya


Mama

“Lalu, sebenarnya apakah yang membuatmu kuat menghadapi tekanan demi tekanan di rumahmu Soni?” tanya saya.

“Mommy…” jawabnya.

[image: ayachalo]

Ibunda Soni memang bukan tipikal mama yang melindungi. Dia juga takut kepada kekerasan hati dan didikan militan dari suaminya. Kerap kali suaminya berani berkata kasar kepadanya, tetapi tidak sampai “ringan tangan” kepadanya.

Namun, dialah pribadi di belakang layar yang sering menenangkan tangisan Soni. Dialah pribadi yang mendengarkan isi hati Soni. Dia juga pribadi yang memenuhi keinginan Soni. Oleh karena itulah, Soni tetap tegar dan sabar dalam menghadapi tekanan ayahnya.

Soni pun mengakui, “Ibuku telah menjadi malaikat pelindung terhadap kejahatan ayahku.”

Baca Juga: Kisah Nyata: Ketika Kelembutan Hati Ibu Membebaskan Anak dari Jerat Narkoba


Pengakuan

Suatu kali, ketika Soni telah merasa lelah dengan sikap ayahnya, dia memberanikan diri berbicara kepada ayahnya. Dia mencurahkan setiap sakit hati yang dia rasakan atas sikap ayahnya. Dia jujur dan terbuka tentang apa yang dia rasakan di dalam dirinya. Perasaan tidak adil dan perasaan rendah diri karena merasa tidak dikasihi.

“Papa, apakah aku ini anak papa? Apakah papa mengasihiku sebagai anak? Kalau papa sayang kepadaku, mengapa papa dengan gampang memukuli kami?” tanya Soni kepada ayahnya sambil menangis.

Pengakuan inilah yang kemudian menggerakan hati ayahnya untuk berubah dan memikirkan ulang tindakannya terhadap anaknya.

Melalui percakapan itu, ayahnya berjanji untuk tidak memukuli Soni lagi. Adakalanya ayahnya masih belum bisa mengendalikan tangannya, tetapi hal itu cukup bagi Soni.

Baca Juga: Kejujuran, Satu-satunya Jalan Penyembuhan. Inilah 7 Pengakuan yang Akan Membebaskan Diri dari Rasa Sakit karena Menyimpan Luka Batin


Luka Masa Lalu

Tindakan kekerasan ayah Soni selama ini tentu bukan perilaku yang tiba-tiba muncul begitu saja. Tindakan kekerasan ini adalah produk masa lalu ayahnya. Di dalam didikan yang keras yang juga diterima oleh ayah Soni inilah yang kemudian hari mempelopori sikap yang sama terhadap anak-anaknya.

[image: Foochia]

Memang, luka masa lalu yang tidak kunjung beres dapat melahirkan sikap yang tidak baik dalam kehidupan. Sikap itu bisa muncul dalam bermacam-macam bentuk pelarian atau pemuasan.

Ada orang yang pandai menyembunyikan luka itu dalam-dalam, tetapi akhirnya hanya melukai dirinya sendiri. Efek buruk lainnya, luka itu juga dapat menyakiti orang lain yang dekat dengannya. Sesungguhnya, hal ini menyadarkan kita tentang pentingnya membereskan luka-luka masa lalu sebelum luka-luka itu melukai diri kita dan orang lain.



Baca juga artikel-artikel tentang perilaku kekerasan di bawah ini:

Mengapa Orangtua Marah dan Memukul Anak? Tak Sekadar Soal Kehilangan Pengendalian Diri, Inilah Alasan-Alasan Lain yang Mungkin Tak Pernah Anda Duga

Hanya yang Terluka akan Melukai Orang Lain. Bukan Balas Dendam, Pemulihan Diri adalah Solusi


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pengakuan Anak Korban Kekerasan Orangtua: yang Terluka akan Melukai". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar