Mengapa Orang Menjadi Sangat Emosional ketika Beredar Kabar Buruk Idolanya?

Reflections & Inspirations

[image: johnpavlov]

889
Mengapa kita sulit menerima kenyataan ketika idola tak seperti yang kita harapkan?

Mengapa orang sulit menerima sebuah berita menyedihkan tentang idola mereka?

Percakapan di grup WA, dinding FB, dan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bermuatan emosi tinggi ketika sudah menyangkut nama tertentu dan masalah yang tengah dihadapi. Bahkan, ketika sebuah media dengan reputasi yang sudah teruji memuat berita tersebut, dan diikuti dengan media-media yang tak kalah terujinya, bantahan-bantahan pun bermunculan dengan sumber yang layak dipertanyakan.

Dalam kondisi seperti ini, beberapa media yang namanya tak pernah terdengar pun, akhirnya juga membuat berita palsu yang makin memperkeruh situasi. Berita palsu? Ya, dengan sedikit ketenangan dan akal sehat, kita dapat melihat jejak digital kapan berita itu dibuat dan apakah yang dikisahkan itu masuk akal terjadi. Namun, bagi mereka yang tengah goncang karena idola mereka menghadapi situasi tak terduga, maka yang penting adalah bantahan dan juga kemarahan.

Mengapa kita sulit menerima kenyataan ketika idola tak seperti yang kita harapkan? Saya rasa ada setidaknya tiga penyebabnya.


Pertama, kita membutuhkan teladan keberhasilan

Ya, sebuah teladan yang menunjukkan pada kita bahwa keberhasilan itu mungkin dan dapat teraih. Kita membutuhkan teladan dalam pelbagai bidang kehidupan, misalnya: keuangan atau moralitas. Teladan itu memberikan inspirasi bahwa sebuah pencapaian keuangan atau standar moral tertentu itu mungkin bisa terjadi. Kita menunjuk pada orang-orang tertentu yang mencapainya. Kita mempelajari perjalanan hidup orang itu dan mengaguminya.

Nah, masalahnya adalah ketika teladan tersebut suatu kali mengalami ”kejatuhan”. Misalnya, usahanya bangkrut dan jatuh miskin, kita menjadi kecewa sekaligus waspada. Jangan-jangan hal yang sama bisa menimpa diri kita. Apalagi jika ”kejatuhan” tersebut menyangkut wilayah moral, kita menjadi kecewa sekaligus kehilangan kepercayaan diri. Jika idola tersebut bisa ”jatuh” dalam hal moral, apalagi diri kita yang tak sehebat itu?


Kedua, kita memproyeksikan harapan pada idola

Ya, ketika kita mengagumi seseorang, ada pelbagai harapan yang diam-diam kita letakkan di pundaknya. Kita meletakkan harapan tertentu, mengamatinya, memuji jika ternyata idola tersebut menggenapi harapan itu. Kita makin bangga, makin cinta, dan makin melihat sosok tersebut dengan penuh kekaguman. Mungkin dalam hati kita berkata,” Tidak ada yang mustahil. Orang lain banyak yang tidak bisa, tetapi idola saya mampu melakukannya!”

Betapa tak mudah menjadi seorang idola. Pelbagai harapan diam-diam atau terang-terangan diletakkan di pundaknya. Tak heran beberapa idola mengalami stres dan bahkan melakukan bunuh diri, bukan?

Orang yang meletakkannya bisa saja gagal di dalam dirinya, tetapi menjadi lebih lega sebab ada idola yang ”membayarnya” dengan perilaku yang mengagumkan. Itulah sebabnya, aneka puja dan puji dihamburkan ketika sang idola tampil dengan perkasa. Sebaliknya, aneka macam hujatan akan dialamatkan ketika sang idola tak sesuai harapan.

Kepada seorang rekan, kemarin saya menulis reply seperti ini: haters adalah lovers yang bingung; bingung mengapa ada banyak orang lain yang menyukai sosok tertentu. Sebaliknya lovers adalah haters someday will be.

Apa yang bisa mengubah lovers menjadi haters dalam sekejap? Harapan kandas yang membuat kita cema,” Lho, ia saja bisa jatuh begitu. Apalagi saya?”


Ketiga, dalam diri seorang idola, kita pun mendapatkan komunitas

Lovers atau haters akan berkumpul di sekeliling idola. Mereka akan membentuk komunitas tersendiri. Di dalam komunitas itu, kebencian dan cinta akan ditumbuhkembangkan sehingga menjadi begitu fanatis. Fanatisme ini akan melahirkan banyak aktivitas bersama, aneka produk seperti kaos, pin, buku sebagai sebuah hal yang makin mempererat rasa kagum dan cinta pada idoa.

”Ternyata saya tidak sendiri, banyak orang mengagumi orang itu, pilihan saya tidak salah,” begitu kurang lebih sorak sukacita seorang penggemar tokoh tertentu pada saya. ”Saya dapat teman baru yang juga mengidolakannya, senang rasanya,” ujarnya lebih lanjut.

Siapa yang tidak membutuhkan komunitas? Semua orang perlu relasi sosial. Dalam komunitas ketika pilihan kita diafirmasi dan dikuatkan, kita akan merasa sangat nyaman dan bahagia. Idola lah yang membuat komunitas itu eksis.

Tapi, bagaimana jika sang idola tak sesuai dengan harapan? Ini khan berpotensi menghancurkan komunitas pemuja idola? Bantah berita itu!

Kalau kemudian muncul pelbagai konfirmasi tentang kabar buruk itu? Cari sumber lain yang membantahnya dan sebarkan.

Bagaimana kalau akhirnya sang idola mengakui kabar buruk itu? Nah, ini uniknya. Sebagian orang akan meninggalkan komunitas pemuja idola dengan kecewa, dan sebagian mencari kambing hitam.

Sebagian lain justru akan bertambah fanatik. Kok bisa? Bisa saja! Kejujuran sang idola untuk mengakui justru menjadi bahan bakar bagi fanatisme yang lebih dahsyat lagi. Fanatisme itulah yang makin mempererat hubungan dalam komunitas pemuja idola yang sama. Komunitas yang dibutuhkan pemuja pun tetap terjaga.


Pada akhirnya, dalam hidup ini rasa cinta memang hidup berdampingan dengan kecewa. Tak usah mencintai sosok tertentu, jika tak ingin kecewa.

Tapi, bisakah kita membayangkan kehidupan tanpa cinta?



Baca Juga:

Ketika Pemimpin Mengalami Kejatuhan Moral, Berikan Pertolongan dengan Memahami 4 Hal Berikut ini

Hati-Hati, Ibu Rumah Tangga Baik-baik pun Bisa Berselingkuh karena 5 Hal Ini

Jonghyun Bunuh Diri, Fans Meniru. Waspadai Copycat Suicide yang Makin Marak


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengapa Orang Menjadi Sangat Emosional ketika Beredar Kabar Buruk Idolanya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

storyteller

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar