Memutuskan Pertunangan Memang Berat, tetapi Saya Melakukannya. Ini Kisahnya!

Ex & Broken Hearts

[image: Jarrid Wilson]

3.2K
"You don't deserve this, look around you! Kamu pilih malu sesaat tapi bahagia selamanya, atau memilih aman tapi tersiksa selamanya?"

Bagi sebagian orang, gagalnya sebuah hubungan, apalagi yang sudah memasuki jenjang pertunangan adalah hal yang memalukan. Aib yang harus ditutupi. Kesalahan yang harus dilupakan. Hal seperti ini juga pernah tebersit dalam pikiran saya, nyaris setiap hari. Namun, kemudian saya memutuskan untuk berdamai dengan diri saya sendiri. Salah satunya dengan cara membagikan kisah saya, agar kejadian yang saya alami tidak terulang pada orang lain. Atau apabila Anda mengalami yang sama dengan saya, Anda pun bisa berdamai dengan diri Anda sendiri.

Inilah tiga kesalahan yang saya temukan dalam pertunangan saya yang gagal tersebut:


1. Alasan yang salah

Saya menyadari bahwa kegagalan hubungan saya dengan mantan tunangan saya sudah terjadi sejak awal, yaitu karena alasan yang salah.

[image: VT]

Pertama, hubungan ini tidak didasari oleh ketertarikan dari dua pihak, melainkan hanya karena ingin menuruti orangtua. Orangtua saya tidak dengan mudah menyetujui pria-pria pilihan saya, sehingga ketika mereka mengenalkan seorang pria, saya pun langsung menyanggupinya. Mungkin saya juga sedang lelah. Lelah menghadapi setiap penolakan, sehingga akhirnya saya menerima begitu saja. Namun rupanya hati tidak bisa terus-menerus dibohongi begitu saja.

Kedua, hubungan ini didasari oleh ketakutan dan tekanan. Ketakutan yang bisa mendatangi setiap wanita yang mulai mendekati usia 25 tahun dan masih belum memiliki pasangan yang tepat. Selain itu ada pula tekanan dari berbagai pihak yang kerap kali menanyakan, “Di mana pacarnya? Kapan menikah? Kok belum punya pacar?” Akhirnya dalam keadaan terpaksa, saya menerima saja pria yang available saat itu. This was when everything went wrong.

Ketiga, saya mungkin merasa lelah dengan kegagalan-kegagalan hubungan saya yang sebelumnya. Yang saya pikirkan hanya bagaimana agar saya dapat mengisi kekosongan dan kesendirian saya. Pikiran saya tidak sedang benar-benar normal dan ketika menyadari kesalahan saya, ternyata hubungan kami sudah terikat dengan tali pertunangan.

Semua alasan yang salah itu menyeret saya dalam arus yang dalam. Pertunangan bagi orang Indonesia bukan sekedar ikatan dari dua insan, tetapi dua keluarga. Sehingga apabila pertunangan ini dibatalkan, dampaknya adalah nama baik keluarga. Itulah juga yang terjadi pada saya.

Baca Juga: Tak Ingin Terjebak dalam Penyesalan karena Salah Pilih Pasangan Hidup? Renungkan 3 Nasihat Ini!


2. Tergesa-gesa dalam mengambil keputusan

Sewaktu kedua orangtua saya mengenalkan saya dengan mantan tunangan saya ini, saya mengira bahwa ia pastilah pria yang baik karena pria ini pilihan kedua orangtua saya. Di sinilah kesalahan terbesar saya yang kedua, saya terlalu tergesa-gesa membuat keputusan. Tanpa berusaha untuk mengenal pria ini lebih dalam, saya menyanggupi begitu saja lamarannya. Dan ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan, saya pun menjadi kecewa.

Awalnya saya mengira bahwa saya bisa menerima pria ini apa pun kondisinya, mungkin ia bisa berubah sesuai dengan harapan saya. Rupanya saya salah.

Manusia tidak mungkin diubah. Sikapnya, kepribadiannya, masa lalunya, tak satu pun sesuai dengan harapan saya. Sekali lagi saya merasa kecewa. Hati saya mulai bertanya-tanya, mungkinkah saya bisa menjalani pernikahan dengannya jika belum memulai saja saya sudah merasa kecewa?


3. Hubungan yang tidak sehat

Mantan tunangan saya adalah pria yang posesif. Ia melarang saya melakukan ini dan itu. Curiga pada saya akan hal-hal sepele. Membatasi pergaulan saya. Pada akhirnya, ia mulai bertindak kasar. Pada satu titik, saya merasa sangat depresi dan menganggap bahwa mungkin saya pantas diperlakukan seperti itu. Tentu saja saya salah. Tidak satu pun wanita pantas diperlakukan seperti itu oleh pria. Hati saya kembali bertanya-tanya, benarkah pria ini yang saya pilih untuk menjadi pendamping hidup saya?

Bisakah saya bahagia jika tetap bertahan? Ataukah saya harus mengambil risiko untuk mempermalukan keluarga dan menyelamatkan diri saya?

Sungguh, masa ini bukanlah masa yang mudah bagi saya.

Baca Juga: Perempuan, Inilah 5 Ciri Pria yang Berpotensi Melakukan Kekerasan dalam Relasi


Menemukan Pria yang Tepat

Jujur saja, ketika berjumpa pertama kali dengan suami saya saat ini, status saya masih bertunangan dengan pria lain. Tentu saja awalnya saya tidak langsung begitu saja menganggapnya sebagai pria yang tepat. Saya menyadari kesalahan-kesalahan saya di masa lalu, yaitu terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan, dan saya berusaha untuk tidak mengulanginya. Apalagi saat itu saya masih belum dapat mengambil keputusan dalam hubungan saya dengan mantan tunangan yang makin membuat saya tertekan.

[image: Neil van Niekerk]

Sahabat saya berkali-kali berkata, "Do something! You have to do something! Kalau kamu tidak berani, saya yang akan mengatakannya pada orangtuamu."

Tentu saja saya tidak mengizinkan teman saya berbuat sesuatu, karena ia sendiri seorang pria. Saya tidak ingin membuat masalah makin runyam karena salah paham.

Sewaktu saya makin galau, teman saya meyakinkan saya. "You don't deserve this, look around you! Kamu pilih malu sesaat tapi bahagia selamanya, atau memilih aman tapi tersiksa selamanya?"

Diam-diam saya menjawab dalam hati, tentu saja saya memilih bahagia selamanya. Namun, apa yang harus saya lakukan? Saya tidak bisa membayangkan betapa marahnya kedua orangtua saya jika saya memutuskan hubungan begitu saja.

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa teman saya benar. Ada pria lain yang lebih baik untuk saya. Pria yang bisa membahagiakan saya, memperlakukan saya dengan baik, dan menghargai saya. Hati saya makin lama makin menjerit karena tidak tahan dengan situasi yang saya hadapi.

Itulah yang membuat saya mengumpulkan keberanian untuk memutuskan hubungan pertunangan tersebut.


Malu sesaat, bahagia kemudian

Saya membayangkan, jika saya tidak mengambil keputusan ini, mungkin keluarga saya tidak malu dan kami tidak harus mengalami keributan sesaat karena batalnya pertunangan saya. Mungkin orangtua saya tidak merasa kecewa pada keputusan saya. Mungkin kami tidak akan menderita kerugian materi yang cukup besar karena harus membatalkan beberapa tenant yang sudah di-booking sebelumnya.

Namun, bila demikian, apa yang akan terjadi pada saya?

Mungkin saja pernikahan saya justru gagal dan hanya seumur jagung. Mungkin saya bisa bertahan, tetapi pernikahan saya terasa seperti film horor yang terus-menerus memberikan trauma dan rasa takut.

Saya akan menderita dalam pernikahan saya, dan pada akhirnya mungkin saya menjadi makin tidak keruan.

[image: Blend of sentiments]

Malu sesaat, bahagia kemudian. Saya merasa yakin pada pilihan saya. Memang saya mengecewakan banyak pihak. Memang saya memberi luka yang dalam pada kedua orangtua saya. Mungkin ini adalah keputusan paling egois yang pernah saya buat. Akan tetapi, saya terlalu mencintai diri saya, sehingga saya tidak rela harus menderita seumur hidup saya. Saya hanya ingin bahagia. Itu saja.


Bagaimana dengan Anda?

Jika Anda menyadari bahwa hubungan Anda diawali dengan alasan yang salah, segera luruskan. Jangan terburu-buru dalam membuat keputusan. Kenalilah pasanganmu lebih dalam sebelum memutuskan untuk menikah.

Lebih baik putus sewaktu masih berpacaran, dibandingkan putus ketika sudah bertunangan. Bahkan, putus setelah bertunangan pun jauh lebih baik daripada bercerai ketika sudah menikah.

Jika pasangan Anda membuat Anda merasa tertekan, jangan abaikan. Itu salah satu tanda bila ia bukan pasangan yang tepat untuk Anda.

Segera buat keputusan sebelum masalah makin berlarut-larut. Ingatlah, Anda tidak bisa mengubah seseorang, jadi jangan berharap pasangan Anda bisa berubah menjadi seperti yang Anda mau setelah menikah. Pernikahan Anda taruhannya.

Jika sudah terlanjur bertunangan seperti saya, silahkan evaluasi lagi hubungan Anda sebelum masuk dalam pernikahan. Berat memang beban yang harus ditanggung ketika memutuskan pertunangan. Namun jauh lebih baik daripada harus bertahan sekarang dan akhirnya memutuskan untuk bercerai setelah menikah. Ingatlah, status janda atau duda masih berkonotasi negatif dalam budaya kita.

Pada akhirnya, saya yakin semua orang berhak untuk bahagia. Saya menyadari bahwa rasa malu dan kekecewaan orangtua saya adalah akibat dari kesalahan saya juga. Sekarang, semua itu telah menjadi bagian dari masa lalu saya. Saya tidak malu mengakuinya, karena kini saya bahagia dengan keputusan saya. Saya pun sudah bisa berdamai dengan perasaan saya.



Baca juga:

Kamu yang Masih Menunggu Jodoh yang Tepat, Ini Penting Untukmu!

Jangan Sampai Salah Pilih Jodoh, Jangan Juga Terlalu Pilah-Pilih. Pertimbangkan 3 Hal ini Saja!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Memutuskan Pertunangan Memang Berat, tetapi Saya Melakukannya. Ini Kisahnya!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Beatrice Fella | @Beatricefella

A wife and a mother of two beautiful daughters. -I'll feed you love and I hope that's enough to inspire you through suffering, holding you up-

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar