Mau Mengalahkan Pelakor dan Pebinor? Mudah, Ini Caranya

Remah Renyah

mataketiga

12.8K
Masalah yang muncul pertama kali dan berpotensi memicu terjadinya perselingkuhan adalah masalah komunikasi.

Mendapat tantangan menulis dengan tema selingkuh, membuat saya jadi baper pengen ndusel-ndusel di bawah ketiak suami. Haha...

Memang tema ini bisa kita lihat dari beberapa sudut pandang: dari sisi pelaku, korban atau penontonnya. Eh... maap saya berusaha tidak serius-serius banget dalam membahasnya, karena takut terbawa perasaan. Tapi setidaknya saya ingin Anda semua bisa memetik beberapa pelajaran di akhir tulisan ini.

Tema selingkuh sedang "booming" dengan menampilkan deretan cerita tentang pelakor atau pebinor. Saya pernah sampai tidak bisa tidur karena terlalu parno memikirkan soal selingkuh ini.

Jika kita perhatikan lebih dalam, masalah yang muncul pertama kali dan berpotensi memicu terjadinya perselingkuhan adalah masalah komunikasi.

Bagi setiap pasangan menjalin komunikasi yang baik di antara satu sama lain itu sangat penting agar masing-masing pihak memahami keinginan pasangannya. Komunikasi dilakukan secara terbuka, apa adanya dan dibicarakan dengan menggunakan hati. Saya ingat beberapa waktu lalu, saya pernah mengikuti seminar yang membicarakan tentang komunikasi, baik dengan anak, pasangan, mitra kerja, orang-orang lain atau bahkan dengan diri sendiri. Pembicara seminar (yaitu Ibu Tuti) mengatakan bahwa kita semua perlu menggunakan hati agar apa yang kita ucapkan sampai kepada pendengarnya.


Baca juga: Bu Dendy Melakukan Salah Satu dari 3 Tindakan Keliru Istri setelah Mengetahui Perselingkuhan Suami


Dalam seminar itu, Bu Tuti membahas juga tentang selingkuh. Kata beliau, sebagai istri, perempuan tidak boleh bersikap terlalu galak kepada suami. Misalnya, jika suami berpamitan baik-baik ketika hendak ke luar rumah, janganlah isteri memelototkan matanya. Selain jangan memelototkan mata, jangan pula isteri memberi peringatan keras sambil mengepalkan tinjunya, “Jangan malam-malam pulangnya! Jangan selingkuh lho, Pak! Awas!” Kalau dilarang dengan gaya seram begitu, yang ada di pikiran suami bisa-bisa malah sebaliknya, “Selingkuho Pak, selingkuho!”

liputan 6

Jika ingin membicarakan sesuatu dengan suami haruslah istri melakukannya dengan hati, dan di saat yang tepat. Bagaimana istri bisa mengetahui saat yang tepat itu? Yang tahu tentu pasangan itu sendiri karena apa yang ada di dalam sebuah rumah-tangga itu yang tahu sedalam-dalamnya hanyalah yang menjalaninya, dan bukan tetangganya atau orang lain.

Jika suami berpamitan lewat telepon kepada istri, “Bu, Bapak ada meeting ya nanti jam tujuh malam. Pulangnya telat.” Sebaiknya istri menJawabnya denga manis, “Iya Pak, emang meeting di mana? Sama siapa?” Jika ada rasa ikhlas dari istri terhadap pekerjaan suami, maka akan ada berkah yang berlimpah.

Sebaliknya, suami juga harus bisa bersikap manis kepada istrinya, misalnya seperti yang tercermin dalam percakapan ini:

“Bu, sudah makan belum?”

“Belum, kan nunggu Bapak pulang.”

“Ibu makan dulu saja kalau sudah lapar. Bapak ada meeting. Bapak pulang telat ya Bu.”

“Oh ya sudah Pak. Bapak juga kalau sudah lapar makan di kantor gak papa.”

“Ya Bu. Ya sudah Bapak tak sholat dulu ya Bu. I love you Bu. I realy love you pokoke Bu.”

“Ah Bapak ini lho. I love you too lah Pak.”

Nah, enak kan. Romantis menggelitik.

Setelah suami pulang bekerja, istri akan menyambut gembira dengan senyum yang lebar dan pipi yang masih sedikit memerah karena ucapan I love you tadi. Hehe... Setelah itu, bisa saja suami mengatakan bahwa dia lapar dan hal ini membuat wajah istri mendadak pucat, Suami pun menjadi bingung. Ternyata nasi dan lauk pauk di rumah sudah habis dimakan si istri dengan lahap saking gembiranya tadi mendapat kata-kata manis. Sekarang wajah suami yang menjadi pucat. Wkwk... Meskipun begitu, hal ini tidak boleh menjadi alasan untuk berselingkuh, bukan?

tempo wanita

Berpikirlah berkali-kali jika godaan untuk berselingkuh itu datang. Berselingkuh itu nikmatnya sementara. Adrenalin yang mengalir deras karena perselingkuhan mungkin terasa cetar membahana. Bayangkan: mencuri-curi waktu untuk mrmbuka ponsel untuk chatting dengan "si dia", kemudian berupaya menghapus semua chat tersebut setiap hari pasti sangat menegangkan. Ketika lupa melakukan semua ini, tentu kepanikan datang tanpa ampun; wajah pun menjadi pucat pasi seperti orang mau mati. Sebaliknyanya, adrenalin juga muncul ketika bertemu dengan "si dia" akibat rasa senang. Tidak heran jika momen seperti ini membuat suami atau istri lupa kepada anak dan pasangannya. Astaghfirullah! Ini tentu akhirnya ada efek buruk untuk keluarga dan harga diri sendiri.

Baca juga: Satu Kebiasaan 'Kecil' yang Paling Merusak Hubungan, Selain Perselingkuhan

Lantas, untuk yang belum menikah bagaimana?

Kalau belum menikah jagalah juga komunikasi dengan calon suami atau istri dengan baik-baik. Yakinkan pasangan untuk memantapkan hati melangkah ke jenjang yang lebih serius. Seperti ini nih contohnya:

Dek, aku padamu.”

“Ah kangmas, emangnya aku ini apa bagimu, mas?” (senyum-senyum sumringah).

“Kamu itu jiwa ragaku, dek.”

“Ah masa sih! Gombal!” (mukul dada kangmas, tapi ga niat mukulnya).

“Iya Dek, aku ini pendukungmu, sedia berkorban untukmu.”

“Aah, kangmas!”

Setelah itu mereka berdua ikut paduan suara. Wkwk…

Sudah ada yang bisa dipetik? Intinya selingkuh itu berat. Berat tanggung jawabnya. Perbaiki komunikasi dengan pasangan mulai sekarang. Manis-manis lah dengan pasangan, komunikasikan semua hal dengan hati. Semoga kita semua (para istri sah) terhindar dari badai pelakor. Semoga kalian (para suami sah) tidak ada sedikitpun niat menyakiti hati pasangan.

Dan yang paling penting semoga kita tidak menjadi pemicu munculnya badai di rumah-tangga orang lain dengan menjadi pelakor atau pebinor. Apalagi jika kita sudah mempunyai anak. Hati anak akan lebih sakit berkali lipat sakitnya ketika melihat ibu atau bapaknya menangis.

Percaya deh!


Klik di bawah ini jika Anda ingin membaca tulisan menarik lainnya:

Perselingkuhan di Depan Mata: Diam, Tegur, atau Masa Bodoh?

Perlawanan terhadap Pelakor dari Bu Dendy, Terduga Dulunya Pelakor Juga. 500 Juta Dilempar ke Muka Nyla, Biar Apa?

Bukan Hanya Pelakor yang Perlu Diwaspadai, tetapi juga Pebinor dan Pepacor. Lebih Baik Sih Jadi Pembekor




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mau Mengalahkan Pelakor dan Pebinor? Mudah, Ini Caranya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ayu Candra Giniarti | @marthalenabutikbajuk

Menulis dengan hati dan merasakan dengan kata. Ketika aku menggabungkan kedua unsur tersebut, ada rasa bahagia yang mencuat dari otak kemudian menjalar ke hati.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar