Lontong Balap: Asal-Usul Nama dan Filosofinya yang Banyak Orang Belum Tahu

Remah Renyah

405
Beban yang berat tak harus selalu menjadi halangan, namun justru menjadi tantangan bagi kita untuk menghadapinya. Para pedagang lontong balap sukses melakukannya. Bagaimana dengan Anda?

Selain sebagai Kota Pahlawan, menurut saya Surabaya pantas diberi julukan sebagai Kota Kuliner. Entah berapa banyak jenis makanan enak dan sudah dikenal secara nasional di kota ini, mulai dari makanan khas yang selalu berbaur dengan petis (olahan udang/ikan laut), makanan peranakan yang sudah dibuat sesuai dengan lidah orang Indonesia dan makanan asing yang diolah agar lebih membumi lagi bagi selera orang Surabaya.

Dari sekian makanan enak yang sering mampir ke lidah saya, ada satu jenis makanan yang menurut saya yang paling menarik, yaitu: Lontong Balap. Mungkin di beberapa tempat ada makanan yang serupa dengan ini, namun yang membuat makanan ini berbeda--sekali lagi-- adalah petis yang dicampurkan sebagai bumbu.



Lontong Balap terdiri dari lontong yang telah dipotong kecil-kecil, kemudian disiram dengan kuah sayur yang berisi tauge yang masih hangat, dan tak lupa diberi potongan 'lento' yang memberik sensasi 'crunchy' ketika dinikmati. Tak lupa juga lontong yang disiram kuah tauge tadi diberi sesendok sambal dan sesendok petis (seperti yang tadi sudah saya singgung) di sisi piring. (Mengapa petis tak dicampur saja menjadi satu dengan kuah tauge? Karena tidak semua orang yang doyan petis, bahkan beberapa orang yang lain menunjukkan reaksi alergi terhadap olahan hasil laut).

baca juga: Buat Arek Suroboyo, Jatuh Cinta itu Mirip Makan Lontong Kupang. Ora Percoyo? Iki 5 Buktine

Selain itu, biasanya disediakan sate kerang sebagai pelengkap makan lontong balap. Tak lupa segelas es degan yang segar siap menyejukkan tenggorokan Anda seusai Anda menikmati sepiring lontong balap.

assets-a1.kompasiana

Ya, lontong balap, sate kerang dan es degan alias es kelapa muda biasanya tiga sekawan yang tak bisa dipisahkan.

Bagaimana cara makan lontong balap yang benar? Tak ada yang tahu pasti. Namun saya pasti dengan senang hati mencampur semua bahan yang sudah dimasukkan ke dalam piring saji. Rasanya? 'Maknyus', menurut almarhum Pak Bondan Winarno. Sensasi sayur tauge hangat bercampur dengan pedas dan rasa khas petis tak dapat digambarkan; belum lagi sensasi kriuk-kriuk lento yang tak sengaja tergigit saat saya menikmati lontong balap itu.

baca juga: Mencicipi 10 Makanan Ini Sama Saja dengan Bunuh Diri. Kamu Berani?

Mengapa makanan ini diberi nama Lontong Balap? Ternyata ada sejarahnya! Dahulu lontong balap belum dijual dengan menggunakan gerobak seperti saat ini, namun dipikul. Agar sayur tauge tetap hangat ketika dihidangkan, mau tidak mau, para penjual lontong balap menggunakan kuali yang terbuat dari tanah liat untuk membawa sayur taugenya dan di bawah kuali ditempatkan api arang.

c1.statucflickr

Para pedagang memanggul kuali yang berisi sayur tauge menggunakan pikulan bambu. Karena kuali yang masih berisikan sayur tauge itu tidak ringan, para pedagang ini harus sedikit berlari ketika memanggul dagangannya supaya mereka tidak merasa tidak terlalu lelah. Jika para pedagang itu memikul kuali sambil berjalan lenggang-kangkung pasti beratnya kuali yang penuh dengan kuah sayur tauge akan lebih terasa.

Karena cara penjual berdagang makanan ini unik seperti orang yang sedang berlari-lari kecil seolah sedang 'balapan', maka masyarakat menamai makanan ini dengan Lontong Balap.

jadi, apa filosofi di balik Lontong Balap ini?

Lontong balap ini memberikan sebuah teladan yang baik bagi kita. Ia mengajak kita untuk selalu berjuang dalam menjalani hidup yang ada. Beban berat seperti yang dianalogikan dengan kuali yang sarat isi tak harus selalu menjadi halangan, namun justru menjadi tantangan bagi kita untuk menghadapinya. Para pedagang lontong balap sukses melakukannya.

Bagaimana dengan Anda?


Ingin membaca artikel-artikel menarik lainnya?

Celetuk Khas Suroboyoan dari Anak Kami yang Menyegarkan Suasana

Miliki Anak dengan Autism Spectrum Disorder, Begini 3 Cara Agatha Suci Jadi Ibu Penuh Inspirasi

Parenting

Belajar Memuji dengan Tulus Namun Maknyus dari Pak Bondan


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Lontong Balap: Asal-Usul Nama dan Filosofinya yang Banyak Orang Belum Tahu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nicho Krisna | @nichokrisna

Auditor | Banker | Blogger

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar