Ketidaksetiaan dalam Masa Pacaran, Layakkah Relasi Dipertahankan? Sebuah Kisah Nyata

Ex & Broken Hearts

datingfox

9.1K
Melepaskan pacar yang berkhianat memang menyakitkan. Tapi jauh lebih menyakitkan bertahan dengan pacar yang telah mengkhianati kita.

Teman saya datang menemui saya dengan menceritakan kisah cintanya. Tentunya saya senang sekali mendengarnya karena di usianya yang sudah mendekati angka 40 ternyata dia masih bisa menjalin percintaan. Saya pikir dia sudah menyerah dan hendak hidup selibat.

Namun kisah cintanya ini lain dari kisah cinta biasa yang sering dialami orang karena ternyata pacar teman saya ini 12 tahun lebih muda. Sebenarnya tak ada hukum yang melarang hubungan mereka. Toh mereka sama-sama masih lajang. Akan tetapi entah mengapa sejak awal saya sudah merasa hubungan ini tak akan langgeng.

Lebih dari sekedar perbedaan usia, saya bisa membaca kalau laki-laki ini tak serius dengan teman saya.

Namun berhubung teman saya ini sedang berbunga-bunga hatinya, maka saya juga tak mau langsung begitu saja mematahkan hatinya. Lagipula, saya pikir bisa saja intuisi saya salah.


Baca juga: Cinta Terhalang Restu Orangtua, Aku Patah Hati di Usia 35


Seiring berjalannya waktu saya mendapati bahwa teman saya memang mencintai pria itu, tetapi dia tak menikmati kisah cinta mereka. Hubungan mereka dirahasiakan dari siapa pun (kecuali saya) sehingga kalau pun mereka ingin berkencan, mereka harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Pada bagian ini saya sudah merasa ada yang aneh. Pria ini benar-benar takut kalau hubungan mereka terekspos dan saya pikir mungkin ada yang disembunyikannya.

techgirl

Benar saja, suatu hari teman saya bercerita tentang rekan kerjanya (seorang perempuan). Rekan kerjanya ini curhat bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan seorang pria. Usia mereka kira-kira sepantaran. Yang mengagetkan pria yang dimaksud oleh rekan kerja teman saya ini adalah pacar dari teman saya. Buktinya sangat jelas: foto mereka berdua yang begitu mesra ada di laptop rekan kerjanya. Teman saya berkata: "Dengan saya, dia tidak pernah mau berfoto berdua. Dia juga tidak juga mau difoto. Ternyata, oh ternyata!"


Apakah teman saya lantas memutuskan pacarnya? Ternyata tidak! Dengan alasan cinta, maka dia berharap bisa memerjuangkan cinta itu dan dia pun tetap menjalani hubungan segitiga itu.


Sayangnya, hanya dia yang merasakan sakitnya karena si pacar dan rekan kerjanya tak tahu bahwa pada kenyataannya teman saya ini mengetahui soal hubungan mereka. Sementara, setiap hari rekan kerja teman saya ini terus saja bercerita tentang manisnya hubungannya dengan pacarnya, yang notabene adalah pacar teman saya juga.


Dari kisah ini, saya mengambil kesimpulan bahwa kadang-kadang cinta bisa saja membuat kita menjadi bodoh. Kita tahu bahwa kita disakiti tetapi karena takut sakit jika berpisah, maka kita lebih memilih menikmati sakit dan membiarkan diri tetap dikhianati.


Saya mencoba memberikan masukan buat teman saya berdasarkan pengalaman patah hati saya sendiri sebelumnya. Namun teman saya berkeras untuk bertahan dalam hubungan itu. Mungkin benar kata orang kalau cinta itu buta. Tetapi yang saya sayangkan adalah teman saya ini mau saja dibutakan oleh cinta.


Baca juga: Istrinya Lebih Tua 24 Tahun. Dari Kisah Cinta Beda Usia Presiden Perancis Emmanuel Macron, Ini Pelajaran Pentingnya


Saya berkata kepadanya, "Mintalah petunjuk Tuhan. Jika dia jodohmu, dia akan menjadi milikmu. Tetapi jika bukan, mintalah Tuhan membawanya pergi dari hidupmu."

Teman saya selalu beralasan, "Takut sakit kalau melepasnya". Saya tidak ingin mengatakan bahwa itu adalah alasan yang bodoh. Sebaliknya saya hanya selalu berkata, "Dia pergi atau tidak, tetap saja kamu sudah merasakan sakitnya. Kadang-kadang bertahan justru jauh lebih sakit daripada melepaskan. Sakit karena melepaskan ada masanya ketika rasa sakit itu berhenti. Tetapi, kalau sakit karena bertahan—apalagi ini baru pacaran—maka sakit itu tak akan pernah habis sengatannya kecuali kamu menyerah dan melepaskan."


Baca juga: Usia Menua? Waspada, 5 Bahaya Ini Mengancam Kita! Anda Mengalami yang Mana?


Jawab teman saya, "Kamu bukan hanya melukai hatiku; kamu sudah melukai harga diriku juga." Karena teman saya memilih untuk tidak menuruti keinginannya, maka itu menjadi alasan bagi pria tersebut untuk meninggalkannya. Teman saya jauh lebih tegar setelahnya. Dia menyesal mengapa tidak dari dulu dia melakukannya.


Saya hanya berkata, "Masing-masing orang punya waktunya sendiri untuk berproses dengan Tuhan sampai menemukan apa yang menjadi kehendak-Nya."


Hubungan antara pria dan wanita (pacaran) memang punya keunikan ceritanya sendiri. Teman saya, dengan alasan cinta dan takut ditinggalkan dari awal setuju untuk menyembunyikan hubungan mereka. Ternyata, itu hanya akal-akalan pacarnya saja supaya bisa menjalin hubungan dengan perempuan lain.

thoughtcatalog

Untunglah, yang namanya bau busuk mau disembunyikan seperti apa pun tetap saja bisa ketahuan.


Walau demikian, mengetahui pengkhianatan pasangan (pacar) tak selalu menjamin orang akan dengan cepat bertindak untuk memutuskan pacarnya dengan alasan masih cinta dan takut sakit jika melepaskan. Padahal bertahan juga jauh lebih menyakitkan. Dibutuhkan petunjuk dari Tuhan dan kekuatan dari-Nya untuk tahu bagaimana bertindak dan melepaskan diri dari jeratan cinta.

Pada kasus teman saya, dia berdoa dan meminta petunjuk Tuhan, dan Tuhan menjawabnya dengan kenyataan bahwa pacarnya datang dengan permintaan yang sangat melukai harga dirinya. Hanya Tuhan yang bisa menolong kita dengan memberikan kemampuan sehingga kita bisa mengambil keputusan yang benar di saat rasa cinta menguasai tetapi kenyataan menyakitkan. Dengan pertolongan Tuhan, teman saya sadar kalau dia dibodohi, pacarnya egois dan dia memang harus melepaskan pria tersebut. Proses selanjutnya jadi lebih bisa dijalani oleh teman saya karena kesadarannya sudah muncul dan dia pun bisa menerima kenyataan. Hari ini dia sudah merdeka dan berbahagia dengan cinta yang baru.

Melepaskan pacar yang berkhianat memang menyakitkan. Tapi jauh lebih menyakitkan bertahan dengan pacar yang telah mengkhianati kita.


Artikel-artikel menarik ini hanya sejauh satu klik saja:

Untuk Perempuan 24 Tahun ke Atas, Inilah Pilihan-Pilihan yang Menuntut Keputusan. Jangan Salah Memilih!

Gelisah karena Jodoh Tak Kunjung Datang? Saya Pernah Mengalaminya. Inilah Kisah Saya: Menemukan Pasangan Hidup di Usia Lebih dari 30 Tahun


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketidaksetiaan dalam Masa Pacaran, Layakkah Relasi Dipertahankan? Sebuah Kisah Nyata". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yvonny Nainupu | @abigaildivani

Seorang Pelayan Tuhan, Istri yang bersyukur dan Mama yang berbahagia

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar