Keluarga Tinggal di Kota Terjadinya Teror Bom. Jauh di Perantauan, Apa yang Bisa Saya Lakukan?

Reflections & Inspirations

[Photo credit: andreagccc]

617
Pergi merantau, tak banyak yang bisa saya lakukan bagi kota tercinta. Inilah yang setidaknya bisa saya perbuat di tengah jarak yang kini terasa kian jauh membentang.

Ponsel saya tak hentinya bergetar Minggu pagi, 13 Mei 2018 lalu. Ketika saya periksa, ternyata banyak sekali notifikasi yang masuk. Semua membahas hal yang sama: pengeboman tiga gereja di Surabaya.

Saya langsung kehilangan konsentrasi beribadah. Entah apa yang dikhotbahkan pagi itu, saya tidak lagi menyimak sama sekali.

Syukurlah keluarga saya aman. Meskipun demikian, tidak bisa saya gambarkan bagaimana ketar-ketirnya hati saya memikirkan nasib mereka kala itu. Lewat WhatsApp beredar kabar, masih banyak titik-titik bom yang belum diketahui. Masih adakah kemungkinan gereja-gereja lain yang akan dijadikan target pengeboman selanjutnya? Kekhawatiran semacam itu terus menerus berkelebat di benak saya.

Rasa sedih, takut, bahkan amarah bercampur aduk di dalam hati hingga malam menjelang tidur. Meskipun demikian, saya bersyukur keluarga saya baik-baik saja.

Ketika terbangun pada Senin pagi, 14 Mei 2018, perasaan cemas kembali datang. Terjadi ledakan di sebuah rusun di Sidoarjo. Kabarnya, ledakan itu berasal dari sebuah bom yang tadinya sedang dirakit. Senjata makan tuan.

Saya berangkat kerja dengan risau. Masih akan ada bom yang meledak lagi, pikir saya.

Benar saja.

Pukul 08.50 hari itu, bom meledak lagi, di Polrestabes Surabaya. Sepanjang hari itu, saya tidak fokus bekerja. Tubuh saya memang ada di Palembang, tempat saya merantau. Namun hati dan pikiran saya melayang-layang, tengah terbang ke Surabaya sejak Minggu pagi lalu.

Pergi merantau, tak banyak yang bisa saya lakukan bagi kota tercinta. Inilah yang setidaknya bisa saya perbuat di tengah jarak yang kini terasa kian jauh membentang.



Tinggal tenang dan percaya

Panik karena khawatir dan takut terjadi sesuatu dengan keluarga justru bisa menambah masalah baru. Melihat dan mendengar berbagai berita yang menggelisahkan, kita perlu untuk tetap tinggal tenang dan percaya.

Tuhan memegang kendali penuh atas segala sesuatu.

Saya percaya, Dia sanggup memberikan hikmat dan menolong aparat yang bertugas serta pemerintah untuk mengambil tindakan yang bijaksana dan tegas terkait dengan teror ini.

Pulang ke kota tempat keluarga berada pada saat situasi gawat seperti ini malah akan membuat mereka makin takut dan resah.

Orang tua justru bersyukur anak mereka jauh dari bahaya ketika kerusuhan terjadi, bukan? Evakuasi mungkin diperlukan, mungkin juga tidak. Yang pasti, kita tak boleh gegabah.

Jangan sampai kita dilumpuhkan ketakutan, itulah yang memang diharapkan oleh para teroris.

Di dalam tinggal tenang dan percaya, terletaklah kekuatan kita. Baik untuk bertahan, maupun untuk mengambil tindakan dengan bijak.

Baca Juga: Teror Bom di Surabaya: Bagaimana Semestinya Kita Menyikapinya?



Waspada dan bijak dalam menerima serta membagikan informasi

Ratusan pesan dan berita beredar terkait dengan teror tersebut. Jangan gegabah, sebaliknya tetaplah waspada dan bijak ketika menerima broadcast maupun pesan-pesan peringatan.

Jangan lupa,
ketika kebenaran diberitakan, hoaks pun turut disebarkan.

Oleh karena itu, penting untuk tetap mewaspadai setiap informasi yang kita terima. Pastikan sumbernya terpercaya. Jika belum yakin, jangan buru-buru berbagi informasi.

Jangan sampai kita juga menjadi teroris dengan turut menyebarkan berita hoaks dan rasa takut di masyarakat.

Baca Juga: Mengapa Kita Tidak Perlu Ikut Menyebarkan Foto-Foto Vulgar Korban Kekerasan melalui Media Sosial? Ini 3 Alasannya



Senantiasa Berkomunikasi dengan Keluarga

Menelepon keluarga adalah hal pertama yang saya lakukan, selesai beribadah di hari Minggu lalu. Teleponlah orang tua maupun saudara.

Pastikan kita berada dalam kondisi siap mengetahui, mendengarkan, bahkan menolong jika memang dibutuhkan. Jangan ikut panik ketika mereka mengungkapkan ketakutan mereka. Sebaliknya, dengarkan dengan tenang dan dukung keluarga untuk tetap waspada dan bertindak bijak dalam situasi yang mencekam.



Mendukung dengan uang

Tentu kita tidak berharap akan ada sesuatu yang buruk terjadi lagi. Meskipun demikian, kita juga perlu senantiasa berjaga-jaga, bukan?

Minggu sore lalu, saya membuka dan menghitung tabungan. Siap-siap kalau dibutuhkan oleh keluarga. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok.

Meskipun tidak punya saudara atau teman di Surabaya, uluran kasih melalui dana juga tetap bisa dilakukan. Jika hatimu tergerak, berilah dengan sukarela. Berapa pun jumlahnya, akan besar artinya jika diberikan dengan tulus.

Baca Juga: Adakah yang Bisa Kita Syukuri dari Peristiwa Teror Bom Surabaya?



Doa, melampaui batas ruang dan waktu

Hal termudah dan tercepat yang dapat dilakukan adalah doa. Dalam hati, tak henti-hentinya saya naikkan doa pada Tuhan. Memohon belas kasihan-Nya, campur tangan-Nya, perlindungan-Nya, hikmat-Nya bagi aparat yang bertugas mengamankan Kota Pahlawan, serta pengampunan-Nya bagi bangsa dan negara kita.

Hanya doa yang berkuasa melampaui batasan ruang dan waktu. Saya meyakini,

[Photo credit: Sean Kong]

tangan Tuhan tidak kurang panjang
untuk menyelamatkan,
dan telinga-Nya tidak kurang tajam
untuk mendengar.

Tuhan sungguh hanya sejauh doa.


Kiranya damai turun atas Surabaya, lebih-lebih Indonesia.





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Keluarga Tinggal di Kota Terjadinya Teror Bom. Jauh di Perantauan, Apa yang Bisa Saya Lakukan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Novi Kurniadi | @novikurniadi

A kindergarten teacher who loves to write and soon to be someone's wife

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar