Jennifer Dunn dan Kasus Narkoba Lagi. Mengapa Sebuah Kesalahan Berulang?

Reflections & Inspirations

532
Kini di penghujung tahun 2017, lagi-lagi Jennifer Dunn terciduk hendak melakukan pesta narkoba. Apa sebenarnya yang membuat seseorang bisa berkali-kali melakukan kesalahan yang sama dan tidak merasa jera?

Masih ramai diperbincangkan nama Jennifer Dunn yang disebut-sebut telah menikah siri dengan suami orang lain yaitu Faisal Harris, kini Jennifer Dunn lagi-lagi menjadi sorotan setelah diberitakan bahwa ia tertangkap tangan sedang memesan narkoba berjenis sabu-sabu. Yang menjadi sorotan tentu saja karena hal ini bukanlah yang pertama bagi Jennifer Dunn, melainkan kali ketiga. Yang pertama, ia tertangkap pada tahun 2005 ketika usianya masih 15 tahun, kemudian kali kedua ia tertangkap ketika sedang berpesta narkoba dan seks pada tahun 2009. Kini di penghujung tahun 2017, lagi-lagi Jennifer Dunn terciduk hendak melakukan pesta narkoba. Apa sebenarnya yang membuat seseorang bisa berkali-kali melakukan kesalahan yang sama dan tidak merasa jera?


1. Narkoba menjadi pelarian

photo credit: Sayangi

Bisa jadi seseorang yang tidak bisa lepas dari narkoba ini adalah seseorang yang memiliki masalah pribadi tapi tidak mengetahui cara mengatasinya sehingga akhirnya narkoba menjadi pelarian. Selama masalahnya belum kelar maka orang ini akan lagi dan lagi terjebak dalam lingkaran setan yang sama. Orang seperti ini sekalipun diberi hukuman berkali-kali tidak akan bisa jera, karena begitu keluar penjara, masalahnya masih tetap ada dan akhirnya ia akan kembali pada pelariannya semula yaitu narkoba. Yang ia butuhkan adalah jalan keluar dari masalahnya.


2. Faktor lingkungan

photo credit: Livestrong

Ayah saya dahulu adalah seorang perokok. Ia berhenti merokok ketika memutuskan untuk menikah dengan Ibu saya. Namun ketika berjumpa dengan rekan-rekan kerjanya yang merokok, Ayah saya bisa merokok sebatang atau dua batang bersama rekan-rekannya, sekedar untuk sosialisasi saja.

Faktor lingkungan bisa membawa seseorang yang sudah memutuskan untuk berhenti merokok kembali merokok sekalipun tidak lagi membuatnya menjadi seorang perokok. Sama halnya dengan narkoba, bisa saja ia memang benar-benar sudah jera ketika menerima hukuman di penjara, namun ketika kembali pada komunitasnya yang mengajaknya kembali untuk menggunakan narkoba, didorong dengan keinginannya untuk diterima kembali oleh komunitasnya, akhirnya ia kembali menggunakan narkoba.

Baca juga: Kisah Nyata: Ketika Kelembutan Hati Ibu Membebaskan Anak dari Jerat Narkoba


3. Attention seeker

Seseorang bisa saja dengan sengaja menggunakan obat-obatan terlarang atau melakukan tindakan-tindakan kriminal hanya karena ia membutuhkan perhatian. Ketika namanya mulai dibicarakan oleh khalayak ramai, ia merasa bangga. Padahal tindakannya tidak bisa disebut membanggakan. Itulah yang disebut attention seeker. Dan para attention seeker ini bisa melakukan hal-hal ekstrem demi memuaskan kebutuhannya untuk diperhatikan masyarakat.


What to do?

Para pecandu narkoba pada umumnya adalah pribadi yang memiliki masalah dalam hidupnya. Sekalipun telah berkali-kali diberi hukuman, tidak bisa membuat mereka menjadi jera, malah menjadi terbiasa dan menganggap remeh makna dari hukuman itu. Selain diberi hukuman sebaiknya pemerintah juga menyiapkan bimbingan untuk membantunya menyelesaikan permasalahan dan benar-benar mementaskan dari jeratan narkoba.

Baca juga: Kesepian Menghantui di Awal Tahun? Tiga Cara Ini Bisa Mengusirnya

Ibaratnya orang yang sedang sakit, perlu diketahui terlebih dahulu apa penyebab dari penyakit tersebut agar dapat diberi obat yang sesuai. Jika obat yang diberikan tidak sesuai maka penyakit justru menjadi berkepanjangan.


1. Pencegahan

photo credit: Merdeka

Untuk memutuskan rantai jual beli narkoba, akan lebih baik jika dimulai dari para penggunanya juga. Jika sudah tidak ada lagi yang membeli, maka otomatis tidak ada lagi yang menjual. Umumnya para penjual tetap nekat karena masih banyak orang yang mencari dan membutuhkan.

Salah satu cara yang bisa diberikan oleh pemerintah adalah dengan mengedukasi masyarakat mengenai bahaya narkoba sejak dini. Sewaktu saya masih sekolah dulu, ada edukasi semacam ini, namun penyampaiannya tidak menarik sehingga para siswa justru menjadi gelisah dan tidak menyimak. Mungkin edukasi mengenai bahaya narkoba bisa dikemas dengan lebih baik dan menarik sehingga lebih mengena pada generasi muda karena mereka adalah masa depan bangsa kita.

Selain itu, keluarga adalah lembaga pertama yang dapat melindungi anak dari bahaya narkoba. Itulah pentingnya orang tua senantiasa meluangkan waktu bagi anak-anak agar anak-anak dapat menceritakan permasalahan mereka kepada orang tua dan bukannya mencari penyelesaian lain melalui narkoba.


2. Pengobatan

photo credit: Merdeka

Jika anggota keluarga sudah terlanjur menggunakan narkoba, maka bimbinglah ia untuk menemukan jalan keluar dari masalahnya. Berikan pengertian bahwa kita tidak bisa terus-menerus lari dari masalah melainkan harus menghadapinya dan menyelesaikannya. Jika memang pergaulannya yang bermasalah, bila perlu jauhkan orang-orang yang memberi pengaruh negatif ini sejauh mungkin.

Tumbuhkan rasa percaya dirinya bahwa ia sesungguhnya berhak memperoleh teman atau komunitas yang jauh lebih baik daripada itu, bahwa banyak orang lain yang bisa menerimanya tanpa ia harus menggunakan obat-obatan terlarang. Dan banyak orang yang mencintainya yang sesungguhnya peduli padanya sehingga ia tak harus takut menghadapi masalahnya seorang diri.

Baca juga: Orangtua, Lakukan 4 Hal Ini untuk Menyelamatkan Anak-Anak dari Godaan Narkoba

Kesadaran untuk pulih dari jeratan narkoba harus berasal dari dalam hati orang itu sendiri.

"Addiction is the only prison where the locks are on the inside"



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jennifer Dunn dan Kasus Narkoba Lagi. Mengapa Sebuah Kesalahan Berulang?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Beatrice Fella | @Beatricefella

A wife and a mother of two beautiful daughters. -I'll feed you love and I hope that's enough to inspire you through suffering, holding you up-

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar