Jangan Sampai Anak Kita Jadi Buaya! Begini Caranya

Parenting

[Photo credit: Samuel Scrimshaw]

2.4K
Kok bisa-bisanya anak sekecil itu menikmati pemandangan yang demikian mengerikan?

Antara kaget dan tidak ketika saya melihat video yang viral minggu ini. Seorang bocah laki-laki tampak berlari-lari membawa seekor anak anjing ke sebuah kolam. Begitu tiba di kolam, dia lemparkan anak anjing yang masih imut itu. Tentu saja anak anjing itu berusaha berenang untuk menepi agar tidak tenggelam. Namun, dalam hitungan detik, seekor buaya besar menyambarnya.

Saya yang melihatnya begitu kasihan terhadap si little puppy, namun bocah itu malah tertawa happy.

Kok bisa-bisanya anak sekecil itu
menikmati pemandangan yang demikian mengerikan?

Dari komentar orang yang menyaksikan video itu, saya ‘mendengar’ suara protes yang nyaring. Iswanto Yan, berkomentar: “kenapa bkn yg lempar anjing saja yg d kasih makan buaya.”

Kelompok pencinta binatang pun langsung bereaksi untuk mencari tahu peristiwa itu.

Saat merenungkan video viral yang mengerikan itu, saya merasa jika sampai bocah sekecil itu melemparkan binatang peliharaan yang biasa dimanja itu ke mulut buaya lapar, pasti ada sebab sebelumnya. Ketika mencoba menelusuri hal ini, saya mencoba menjawab pertanyaan saya sendiri.



1. Setiap tindakan pasti ada penyebabnya.

“Ah, paling itu bocah nakal yang iseng.” Bisa jadi ada yang nyeletuk begitu.

Paling tidak ada dua unsur di sini:

Pertama, ‘bocah nakal’. Sejauh mana tindakan anak dianggap nakal dan mana yang tidak? Menurut saya, melemparkan makhluk tak berdaya untuk dijadikan tontonan bukan sekadar kenakalan, melainkan tanda-tanda psikopat sejak dini.

Kedua, kata ‘iseng’ sungguh memprihatinkan. Bagaimana jika - seperti komentar netizen di atas - anak itu sendiri yang ganti dilemparkan dan anak-anak anjing menyaksikannya saat bergumul antara hidup dan mati melawan buaya?

Saya ingat kisah dongeng anak-anak yang pernah saya baca dulu. Seorang anak suka sekali mengadu jangkrik. Orangtuanya tidak suka. Namun mereka gagal menasihati anaknya. Malam harinya, si bocah bermimpi. Dia ditangkap jangkrik raksasa dan dipaksa berkelahi dengan teman bermainnya. Bocah itu berteriak-teriak karena mimpi buruknya. Sejak hari itu dia tidak lagi mengadu jangkrik. Pelajaran moral yang begitu indah, disampaikan dalam bentuk dongeng.

Bukankah apa yang kita tabur
suatu kali akan kita tuai?

Baca Juga: Pelajaran Soal Investasi yang Pasti Membuahkan Hasil dari Seorang Bocah Lelaki Usil



2. Jika kita membiarkan anak-anak kita bersikap kejam terhadap binatang kecil,

suatu kali kelak dia bisa saja berlaku kejam
terhadap sesama manusia.

[Photo credit: Deva Darshan]

Bahkan terhadap keluarganya sendiri.


Kita perlu senantiasa mengingatkan diri kita terus-menerus

bahwa jika kesalahan dan pelanggaran kecil kita biarkan, suatu kali akan berbuah menjadi dosa yang besar.

Jika hati nuraninya tidak lagi berbicara saat dia melakukan pembunuhan yang menurutnya sepele, suatu kali saat dia melakukan pembunuhan besar pun jangan-jangan matanya tidak berkedip. Bocah yang dianggap iseng dan nakal telah berubah menjadi kriminal yang sangat berbahaya bagi lingkungan.



3. Lingkungan dan asupan peristiwa yang terekam dalam seluruh pancaindera

bisa backfire dan menghanguskan kita sendiri.

Saya belum dapat data siapa nama anak itu serta bagaimana kelompok pencinta binatang memperlakukan anak itu. Bagaimana pula orangtua, masyarakat, dan aparat menangani kasus ini?

Yang saya tahu,

pengaruh asupan yang tidak sehat membuat anak sakit sejak dini. Tindakannya pun menjadi penyakit bagi lingkungan.

Baca Juga: Membiarkan [Bahkan Mengajak] Anak Menonton Film Horor? Ini 10 Bahayanya



Dari ketiga pertanyaan ke dalam diri yang saya jawab untuk mencari solusi terdini, saya percaya semuanya berpulang kepada kita: para orangtua, guru, dan masyarakat.

Apakah kita membiarkan atau malah ikut andil membentuk anak-anak generasi zaman sekarang yang menganggap kematian hewan sebagai hiburan?

Jika kita tidak mau anak-anak kita saat besar nanti menjadi buaya-buaya yang memangsa orang lain, sudah saatnya bagi kita untuk menjaga rumah tangga masing-masing. Kiranya ke depan tidak lagi orang menjadikan penderitaan dan kematian sebagai tontonan.

Ingat, kita bukan penonton gladiator. Kita adalah mentor.

[Photo credit: capturedbyheidiphoto]

Mari bersinergi untuk menjadi motivator yang baik bagi anak-anak kita!




Baca Juga:

Awas! 9 Perilaku Orangtua yang Terlihat Sepele Ini Ternyata Dapat Memicu Kenakalan dan Bahkan Kejahatan Anak

Cegah Anak dan Remaja Anda Berbuat Mesum dengan 5 Langkah Efektif dan Teruji Ini!

Lagu adalah Guru Tanpa Sosok yang Turut Membentuk Karakter Anak. Orangtua, Ini 5 Cara Mencegah Pengaruh Buruknya





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Sampai Anak Kita Jadi Buaya! Begini Caranya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar