Inilah 4 Motivasi Salah dalam Memilih Pasangan Hidup. Waspadalah!

Love & Friendship

[image credit: Oktopost]

5K
Menimbang-nimbang apakah ia seorang “Penolong” yang tepat ataukah seorang “Perusak” hidupmu sebelum menjalani relasi adalah hal yang perlu dilakukan. Hal itu ditentukan oleh pilihanmu: siapa yang pantas berada di sampingmu!

“Memilih pasangan hidup bukanlah perkara mudah.

Lebih baik menjomblo lama, daripada buru-buru nikah tapi salah pilih orang.”

Kalimat sederhana ini dilontarkan oleh seorang sahabat yang baru saja putus dari pacarnya sebulan yang lalu. Dia mengatakan kalau tidak menyesal dengan apa yang menjadi keputusannya itu. Mereka memang berpacaran selama setahun, tetapi setiap hari rasanya seperti di “neraka”. Dia mengakui bahwa itu bukan kesalahan mantannya. Ini kesalahan dirinya sendiri. Waktu itu, ia terlalu cepat menetapkan keputusan untuk menjalin hubungan dengan pria tersebut, tanpa menimbang banyak hal. Akhirnya, itulah yang terjadi. Satu tahun mereka menjalin hubungan dan ternyata tidak harmonis.

Memilih pasangan hidup memang perlu dicermati secara serius. Seorang teman pernah mengejek temannya yang sudah lama menjomlo, padahal banyak pelamar yang datang mendekat.

“Sok jual mahal loe! Makanya jomblo terus!”

Baginya, kita perlu membuka hati bagi siapa saja. Sebenarnya, ini juga masalah serius. Saya kira, sikap “jual mahal” perlu diterapkan sebagai bentuk kritis dalam memilih pasangan hidup. Orang yang terlalu mudah berelasi biasanya justru tidak serius melihat bagaimana suatu hubungan akan berjalan ke depannya.

Ingatlah bahwa pasangan hidup adalah tentang memilih orang yang tepat untuk berada di sisi kita sepanjang hidup kita.

Saya ingat dengan seorang teman yang menikahi seorang pria pecandu minuman keras. Baginya tidak penting seperti apa orang itu, asalkan dia cinta dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Itu sudah cukup. Akibatnya ia rasakan sekarang. Ketika mabuk, suaminya sering memukulinya.

Menimbang-nimbang apakah ia seorang “Penolong” yang tepat ataukah seorang “Perusak” hidupmu sebelum menjalani relasi adalah hal yang perlu dilakukan. Hal itu ditentukan oleh pilihanmu: siapa yang pantas berada di sampingmu!

Melalui pengalaman di lapangan, saya mengamati ada empat motivasi yang salah dalam memilih pasangan hidup :


1. Uangnya Banyak

Ini salah satu pemikiran yang sesat. Memilih pasangan hidup dari kriteria “kaya” atau “miskin” tidaklah benar. Saya setuju jika kriteria yang dipakai adalah “mapan”. Namun, kemapanan tidak hanya berbicara soal uang. Mapan juga berbicara soal mandiri. Baik dalam hal karakter diri yang sehat, maupun kemampuan untuk mencukupi dirinya dan orang lain.

Banyak orang bermimpi memiliki pasangan hidup yang kaya. Motivasinya hanya satu, yakni supaya hidupnya bisa mengalami peningkatan derajat, baik dalam hal materi maupun sosial.

[image: nagsh]

Namun, kebahagiaan sebuah relasi tidak ditentukan oleh kekayaan, tetapi oleh keseimbangan karakter untuk memahami satu dengan yang lainnya.

Baca Juga: Banyak Orang Berpikir Seperti Saya : Uang, Rumah dan Mobil adalah Syarat Terciptanya Keluarga Bahagia. Ternyata Saya Salah!


2. Tampan atau Cantik

Bercita-cita memiliki pasangan yang tampan atau cantik secara fisik tentu tidak salah. Namun, yang salah adalah jika hanya itulah kriterianya. Mengapa? Karena ketampanan atau kecantikan fisik tidak bisa menjamin kebahagiaan sebuah relasi. Kita perlu tahu bahwa ketampanan atau kecantikan fisik hanya bersifat sementara. Fisik akan semakin menurun seiring berjalannya waktu atau bertambahnya umur. Mereka yang tampan akan rontok giginya, mereka yang cantik akan berkerut wajahnya. Jika kita meletakkan kebahagiaan pada hal itu, kita pun hanya akan mendapatkan kekecewaan.

Hal yang lebih penting dari pada itu adalah ketampanan dan kecantikan hati.

Hal ini lebih penting untuk dipikirkan. Bisakah kita merasakan aura ketampanan dan kecantikan itu muncul dari seseorang yang sedang kita sukai.

Ketampanan atau kecantikan hati berbicara tentang karakter yang baik, lemah lembut, memiliki kasih, tanggung jawab, kesetiaan dan kepedulian.

Semua ini tidak akan termakan waktu atau usia. Ketampanan dan kecantikan hati bersifat abadi hingga akhir nanti.


3. Orang Terkenal

Akibat merebaknya film drama korea (drakor), banyak orang memimpikan memiliki pasangan hidup yang ideal seperti para artis korea yang mukanya kencang, hidungnya mancung, kulitnya bersih bersinar. Apalagi dia artis terkenal. Maka, muncullah pikiran yang mengatakan bahwa kebahagiaan relasi itu adalah ketika kita memiliki pasangan hidup artis. Karena banyak juga orang yang ternyata mencari pasangan orang terkenal agar dia bisa ikut menjadi populer.

[image: valet]

Orang terkenal tentu tidak berbicara tentang artis saja. Melainkan orang-orang yang memiliki karya yang kemudian membuatnya menjadi terkenal. Ini tentu tidak salah. Namun, perlu kita tahu bahwa cinta melebihi batasan itu.

Kita perlu kembali berpikir,

“Apakah aku mencintai karyanya ataukah orangnya?”

“Bagaimana jika seandainya ia tidak memiliki karya-karya itu? Masihkah aku mencintainya?”

Baca Juga: Habis Tepis Tangan Fans Terbitlah Hujatan Netizen. Yakin Kamu Mau Jadi Orang Terkenal?


4. Dari Etnis/Suku Apa

Saya lahir di dalam keluarga campuran. Ibu saya berasal dari etnis Tionghoa yang menikah dengan pria non-Tionghoa. Bagi Oma saya, hal itu adalah kesalahan besar anak-anaknya. Termasuk anaknya yang kini menjadi ibu saya. Agar tidak mengulangi kesalahan itu, dia pun mendoktrinasi cucu-cucunya agar mencari pasangan hidup dari etnis Tionghoa. Semangatnya adalah “Kembalikan keturunan kami!” Tanpa kami sadari, kami telah dididik untuk mencari pasangan hidup dari etnis Tionghoa saja.

Tentu ini kesalahan besar. Lambat laun saya menyadari kekeliruan ini. Semangat “Kembalikan keturunan kami!” itu telah membuat kami berpikir bahwa etnis non-Tionghoa adalah etnis nomor dua. Hal ini melahirkan sikap etnosentrisme saat kami memandang orang dari etnis lain.

Yang menentukan kebahagiaan sebuah relasi bukanlah soal etnis, melainkan pribadi.

Baca Juga: Saya Batak Karo, Istri Tionghoa. 5 Rahasia Ini yang Membuat Perbedaan Tak Menjadi Hambatan dalam Tujuh Tahun Pernikahan Kami

Etnis bukanlah hal yang utama. Selama calon pasangan adalah seorang penolong yang sepadan dalam iman dan seimbang dalam karakter serta emosi, maka dia adalah pasangan yang baik untuk kita. Bagaimanapun, Tuhan menciptakan semua etnis sama baiknya.



Baca juga artikel-artikel inspiratif yang dapat membantumu memilih pasangan hidup ini:

Inilah 5 Kriteria Pasangan Hidup yang Tak Boleh Ditawar Lagi demi Kebahagiaan Pernikahanmu Kelak

Tak Ingin Terjebak dalam Penyesalan karena Salah Pilih Pasangan Hidup? Renungkan 3 Nasihat Ini!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah 4 Motivasi Salah dalam Memilih Pasangan Hidup. Waspadalah!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar