Inilah 3 Makna Istimewa Natal yang Hanya Saya Temukan lewat Keluarga

Reflections & Inspirations

photo credit : got radio

4.5K
Kami belajar bahwa keluarga adalah hadiah yang sangat berharga. Kami tahu bahwa kami tak pernah sendiri, selalu ada keluarga yang siap untuk berjalan bersama kami. Kami mengalami Natal, kami mengalami kasih.

Banyak orang memaknai dan menilai Natal sebagai sebuah masa untuk bersenang-senang dan berpesta ria. Tidak salah! Namun, bagi saya, Natal memiliki beberapa makna istimewa; makna yang saya pelajari dari keluarga selama bertahun-tahun.


1. Natal adalah kesempatan untuk berjumpa yang tercinta

photo credit : digital joy

Entah kapan dimulainya dan siapa pencetus idenya, keluarga kami selalu menjadwalkan reuni bersama merayakan Natal. Ingatan saya yang paling awal akan Natal keluarga ini membawa saya ke ruang tamu Engkong dan Emak yang kecil nan sederhana. Sebuah pohon Natal kecil berdiri di sudut ruangan, di atas tumpukan barang. Kami berkumpul, duduk di lantai, bahu menyentuh bahu, sangat akrab. Hanya Engkong, Emak, dan beberapa tante akan duduk di beberapa kursi yang ada.

Baca Juga : Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya

Makanan! Selalu ada makanan. Meja ruang tamu akan dipenuhi makanan yang dimasak dan dipersiapkan oleh Emak, Mama, dan para Tante. Tidak mewah, namun jangan diragukan rasanya! Saya tak ingat apa saja menu yang ada hari itu, tapi saya tak pernah melupakan kepala ayam goreng. Ya, kepalanya! Melihat betapa nikmatnya Om dan Tante makan kepala ayam, saya pun mencobanya. Pemakan kepala ayam amatir, tak sehebat Om dan Tante. Tapi kepala ayam itu menjadi yang pertama dari sekian banyak selanjutnya.

Pertemuan malam itu, Natal keluarga kami yang pertama dan kepala ayam yang pertama bagi saya.

Selalu ada waktu yang pertama, sebuah titik awal yang membentuk sebuah tradisi baru.


2. Natal adalah kesempatan untuk mengalami dan mensyukuri cinta

Sejak tahun itu, acara tahunan kami ini menjadi lebih berwarna. Tak hanya makan malam dan berkumpul bersama, kami menyanyi bersama dan saling mendoakan. Sering kali pertemuan kami diadakan di penghujung tahun atau bahkan di awal tahun baru, sehingga kami juga belajar untuk mensyukuri segala berkat dan rahmat Tuhan di tahun yang sudah kami lewati dan memohon perlindungan-Nya di tahun yang akan dijalani di depan.

Kami belajar, bahwa waktu itu tak akan berhenti karena kesulitan, juga tak akan lebih cepat karena kesuksesan.

Kami belajar bersama, hidup menjadi bermakna ketika kita menemukan ada banyak hal yang patut disyukuri dan selalu ada pengharapan di masa depan.

photo credit : Natal 2007, dokumentasi pribadi penulis

Tak hanya proses pemaknaan yang kami alami bersama, kami pun diberkati dengan proses perkembangan jumlah. Awalnya "hanya" ada Engkong, Emak, keenam putra dan putri mereka dan tiga menantu, serta beberapa cucu. Tahun 2015 lalu, jumlah kami berlipat ganda: Emak, enam anak dan lima menantu, lima belas cucu dan dua cucu menantu, serta satu cicit! Pertambahan jumlah, juga pengurangan (Engkong dan Papa telah berpulang dahulu), menjadi sebuah proses di mana kami boleh menghargai setiap kehidupan yang Tuhan tambahkan dalam keluarga kami.

Setiap orang memiliki tempat khusus dalam keluarga ini, dan kehadirannya tak boleh diabaikan.

Kami berproses bersama untuk saling mengasihi dan menjadi tempat untuk setiap anggota keluarga untuk dikasihi tanpa syarat dan didukung penuh untuk bertumbuh.

Baca Juga : How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini


3. Natal adalah kesempatan untuk mensyukuri warisan kehidupan

Awal tahun ini, Emak telah berpulang. Natal keluarga tahun ini pasti tak akan sama tanpa kehadiran beliau sebagai sesepuh panutan di keluarga kami. Namun, dalam persiapan untuk acara tahun ini, saya belajar bahwa pertemuan tahunan kami ini menjadi sebuah warisan kasih yang tak dapat digantikan dengan hal lain. Ada banyak nilai-nilai yang diwariskan oleh mendiang Engkong dan Emak kepada kami semua melalui Natal keluarga ini.

photo cretdit : Natal 2014, dokumentasi pribadi penulis

Kami bukan sekedar makan dan berpesta pora, tapi kami belajar berbagi. Biasanya setiap keluarga akan membawa makanan, baik yang dimasak sendiri ataupun dipesan khusus. Saat makan pun kami boleh merasakan eratnya persekutuan di sekitar meja makan.

Kami bukan sekedar membawa kado untuk dibagikan, tapi kami belajar mengasihi dan dikasihi. Tak ada yang menuntut atau merengut, namun setiap hadiah diterima dengan mata yang berbinar sama seperti pohon Natal yang bersinar.

Kami belajar bahwa keluarga adalah hadiah yang sangat berharga. Sekalipun beberapa dari antara kami berada di luar kota Surabaya, dan memang selama beberapa tahun terakhir tak pernah pertemuan kami dihadiri secara lengkap oleh semua anggota keluarga, kami selalu merayakan warisan kasih.

Baca Juga : 30 Tahun Pernikahan Orangtua, 5 Pelajaran Berharga ini Tak Saya Temukan dari Tempat Lain

Kami tahu bahwa kami tak pernah sendiri, selalu ada keluarga yang siap untuk berjalan bersama kami. Kami mengalami Natal, kami mengalami kasih.

Selamat Natal! Selamat merayakan kasih bersama yang tercinta!



Buat kamu yang merayakan Natal, selamat menikmati dan berbagi keindahan Natal lewat tulisan-tulisan ini :

Jangan Lupakan 3 Hal Penting Ini Saat Merayakan Natal

Bagi yang Merayakan Natal, Inilah 5 Kreativitas yang Membuat Natal Makin Ceria dan Berwarna

3 Hal yang Saya Syukuri karena Bisa Merayakan Natal di Tengah Keluarga Besar yang Berbeda Keyakinan


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah 3 Makna Istimewa Natal yang Hanya Saya Temukan lewat Keluarga". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar