Inilah 3 Jalan Menuju Hidup yang Bermakna. Apakah Kamu Sedang Menjalaninya?

Reflections & Inspirations

643
Apakah selama kita hidup, kita menjadi berkat bagi sesama kita?

Di pelataran kantor kami, tumbuh sebatang pohon kekar nan mekar dengan bunga berwarna kuning. Kami begitu menikmati keindahan bunga-bunganya di kala mekar. Di hari-hari tertentu, bunga-bunga itu kemudian berguguran dan menjadikan halaman taman kami bagaikan karpet kuning begitu cantik rupawan. Pohon Tabebuia Argentea itulah namanya, adalah tanaman penghijauan spesies asli dari Amerika Selatan (Paraguay) atau sering dikenal dengan nama Pohon Terompet Kuning karena bentuknya yang seperti trompet. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membagikan foto pohon yang sedang berbunga lebat dan saya posting di Instagram saya.

Namun rupanya, kita tak pernah tahu berapa lama kita hidup. Minggu pagi, ketika kami keluar rumah, kami terkejut ternyata pohon kesayangan kami ini roboh, tak ada angin tak ada badai karena semalam kami tidak mendengar suara apa pun. Pohon itu tumbang.

Apa yang kemudian muncul di benak saya adalah pentingnya kita memikirkan tentang makna hidup kita. Sama seperti pohon itu, suatu saat tentu kita juga akan meninggalkan dunia ini, namun pertanyaan yang paling penting adalah, "Bagaimana memiliki hidup yang bermakna hingga kita meninggalkan dunia ini?"


1. Penting membangun akar yang dalam dan kokoh selama kita hidup

photo credit: chinadaily

Di tengah-tengah kehidupan yang nampak mekar dan indah di luar biduk hidup kita, jauh tersembunyi di bawah tanah, fondasi atau akar hidup kita yang setiap hari berjuang untuk menyerap sari-sari makanan dan air untuk memompa pertumbuhan dan metabolisme kehidupan kita di atas tanah. Akar adalah bagian yang tidak terlihat dan ada di dalam. Penting untuk membangun "akar" hidup kita yang ada di dalam jati diri, kehidupan interior yang mampu mengairi jiwa dan batin kita yang paling dalam.

Barangkali doa adalah sarana untuk memperoleh nafas hidup yang sangat penting. Sejauh mana kita sungguh-sungguh membangun akar hidup kita dengan kokoh setiap hari?


2. Bertumbuh subur, memberi rahmat sesama

photo credit: voxspace

Pelajaran yang saya petik dari keberadaan pohon Terompet Kuning adalah bahwa selama ia hidup, ia sungguh-sungguh dapat memberikan keindahan dan merahmati lingkungan kantor kami. Banyak orang yang datang dan pergi, begitu kagum dengan pohon ini, pun ketika bunga-bunganya gugur, dapat memberikan kesenangan batin yang tiada terkira. Daun-daun yang gugur pun tidak terlalu menyusahkan orang untuk membersihkannya setiap hari. Selama ia hidup, ia membawa kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya bahkan burung-burung suka bertengger di dahan-dahannya.

Baca juga: Berpulang, Merry Menang Melawan Kanker dengan Senyum Ketabahan

Teringat akan perkataan Sang Guru, "Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh , sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan seperti pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."

Apakah selama kita hidup, kita menjadi berkat bagi sesama kita?


3. Hidup sejatinya bukan tentang seberapa lama, tapi seberapa makna

photo credit: VideoBlocks

Hari-hari ini saya memikirkan tentang waktu. Di tengah-tengah berita begitu banyaknya rekan-rekan atau anggota keluarga yang berpulang, saya senantiasa memikirkan betapa hidup itu seperti uap, begitu singkat. Hari ini ada, besok tiada. Kita boleh memiliki seribu satu rencana, namun jangan pernah lupa, kita tidak pernah tahu kapan akan berpulang.

Sekali lagi, belajar dari peristiwa pohon yang tumbang ini, saya diingatkan bahwa, "Tidak penting berapa lama kita hidup, namun sejauh mana hidup kita membawa makna, menjadi berkat, atau membawa dampak yang positif selama kita hidup?"

"Untuk apa kita memperoleh seluruh isi dunia ini, namun kita kehilangan makna hidup?"

Baca juga: Inilah Cara Meraih Kesuksesan tanpa Mengorbankan Kebahagiaan

Seminggu yang lalu, salah satu rekan kerja kami, seorang kepala sekolah dan guru TK kami dipanggil Tuhan. Ia berusia 38 tahun. Selama kurang lebih 9 tahun lamanya, ia berjuang, berjibaku, mendidik anak-anak TK di sebuah perumahan di Sidoarjo. Ia mau menyerahkan dirinya, mengabdikan dirinya untuk mendidik anak-anak tersebut untuk belajar membaca dan menulis. Ia telah mendedikasikan hidupnya untuk memberikan secercah harapan bagi banyak orang. Ketika ia berpulang, ratusan orang, anak-anak, dan keluarga yang selama ini telah tersentuh hidupnya datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Ya, tempat bersemayam itu penuh, mereka kehilangan seseorang yang selama ini menjadi bunga yang semerbak bagi mereka. Ia telah meninggalkan warisan bagi banyak orang. Inilah hidup yang bermakna, membawa kebahagiaan bagi banyak orang, merahmati sesamanya.

Adakah yang lebih indah dari kehidupan yang demikian?

“A life well spent is a life well end.” ~ Andi O. Santoso


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah 3 Jalan Menuju Hidup yang Bermakna. Apakah Kamu Sedang Menjalaninya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Andi O. Santoso | @andiosville

Imperfect husband, imperfect father. Love God, love family, love people, love life. Living in Semarang Indonesia #leaderseed #thechiandiosunited www.andiosville.wordpress.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar