Hidup Damai dengan Mertua di Tahun Baru? Bukan Mustahil, Ini 3 Rahasianya

Marriage

[image: glamour]

1.1K
Mertua dan Menantu, bisakah Rukun?

"Siapa perempuan yang paling beruntung di bumi?"

"Hawa, dong!"

"Kok bisa Hawa yang paling beruntung?"

"Iya, soalnya dia tidak pernah memiliki mertua!"

Penulis Andar Ismail menuliskan dialog imajiner ini sebagai sebuah lelucon sekaligus ironi. Kehadiran seorang menantu dan mertua tentunya menambah dinamika ribut-rukun dalam sebuah keluarga. Dapat dipastikan, hot topic dari sekian banyak curcol kaum hawa didominasi oleh relasi antara mertua dan menantu. Pastinya, masing-masing dari dua kubu yang berseberangan ini merasa lebih benar. Bahkan, dalam beberapa kasus, hubungan ini memicu perang dingin dalam keluarga.

Dari sudut pandang seorang menantu perempuan, membicarakan tentang ibu mertua serasa tidak ada habisnya. Namun saya percaya,

tentunya tidak ada mertua dan menantu yang ingin mengobarkan sinyal perang berkepanjangan dalam keluarga, bukan?

Untuk menata hubungan yang lebih indah bersama mertua, ada baiknya kita belajar melakukan 3 hal penting berikut ini:



1. Menanamkan kesadaran bahwa ibu mertua tidak bermaksud jahat

[image: Pflege Aus Polen]

Ketika saya baru saja menikah, mama mertua sering sekali memberikan pesan tentang "aturan main" di dapur. Seperti jangan memakai bumbu botol (misal: saus tiram, minyak wijen), wajib mencuci buah dengan air matang, hingga harus memakai gula batu yang sudah dicairkan sebagai pengganti gula pasir putih yang dijual di supermarket.

Bagaimana respons saya saat itu? Tentu saja saya melongo dan kaget. Usai masa kaget lewat, saya berusaha mencerna maksud dan tujuan dari titah sang mama mertua.

Tak bisa dipungkiri, jika mertua hendak mengenalkan kebiasaan yang telah mendarah daging dalam keluarganya, pihak menantu perempuan bisa jadi memasang defense. Alasannya? Kemungkinan besar karena adanya rasa tidak nyaman atas "campur tangan" mertua.

Karena itulah, sebelum pikiran negatif berkembang pesat, perlu digarisbawahi terlebih dahulu bahwa kemungkinan besar pihak mertua hanya ingin menyampaikan informasi yang bermanfaat. Bisa jadi segala pesan tersebut mengandung tujuan agar menantunya mengerti kebiasaan dari suaminya.

Terima saja aneka "titipan" tersebut dengan hati yang riang dan santai. Siapa tahu, ternyata suami mudah sakit tenggorokan kalau Anda memakai salah satu bumbu botol. Tentunya info dari ibu mertua akan sangat menolong seorang istri dalam menghadapi berbagai hal dalam rumah tangga.

Baca Juga: Ketika Hubungan Mertua dan Menantu Tak Seindah Bayangan, 4 Hal Ini Jadikan Pegangan



2. Berusahalah membangun jembatan alih-alih tembok

Karena perbedaan pola pikir yang bersifat lintas generasi, pikiran mertua dan menantu tidak selalu bisa sejalan.

[image: LifeCare Advantage]

Daripada sibuk memperuncing perbedaan yang ada, cobalah berusaha belajar dengan rendah hati, bahwa kita memerlukan seorang mertua untuk membantu kita berproses menjadi pribadi yang lebih baik.

Bila ada konflik, jangan ragu untuk dapat menyelesaikannya secara baik-baik. Bila harus berterus terang atas ketidaknyamanan yang terjadi, mintalah pertolongan Tuhan agar Dia menjamah mulut bibir kita dalam berkata-kata. Bagaimana jika mertua memilih untuk tetap pada pendiriannya dan tidak mau berubah? Tetaplah menghormati beliau, tidak perlu berdebat. Namun beri jarak dan batasan yang tegas. Biarkan ada keterbukaan untuk sama-sama mengetahui hal-hal apa saja yang dapat disepakati bersama.

Baca Juga: 6 Perisai Pertahanan Ketika Tinggal di Pondok Mertua Indah



3. Penguasaan diri melalui perkataan

Kebanyakan konflik terjadi karena banyaknya perkataan tidak membangun yang terlontar begitu saja. Perlu sekali untuk bertanya ulang pada diri sendiri, apakah perkataan yang akan diucapkan nanti akan membuat relasi menjadi bertambah baik? Pantaskah kata-kata itu dikembalikan kepada kita? Perlukah kata-kata tersebut diucapkan?

[image: hiamag]

PIlihlah untuk berkata-kata dalam kasih. Jangan biarkan perasaan terlalu memegang kendali atas diri kita. Apapun yang terjadi, mari belajar memutuskan bahwa kasih akan menjadi penuntun kita dalam memperlakukan ibu mertua. Tidak perlu memaksakan hubungan dengan mertua menjadi langsung dekat. Bukankah segala sesuatu itu memerlukan waktu?

Penguasaan diri dalam perkataan hanya akan terlatih dengan baik jika kita mau menyediakan diri untuk berdoa. Mulailah mendoakan ibu mertua.

Menjadi pendoa akan melatih kita untuk berfokus pada kasih kita terhadap seseorang, alih-alih menjadi kritikus wahid yang siap menunjukkan aneka letak kesalahan yang harus diperbaiki olehnya.

Ingatlah, kita bukan bertugas menjadi jaksa penuntut umum, melainkan menjadi partner yang mendemonstrasikan kasih kepada setiap anggota keluarga.

Baca Juga: Demonstrasi Kasih: 10 Cara Menunjukkan Rasa Cinta demi Kelanggengan Relasi



***


Wahai para isteri, ingatlah bahwa satu hari kelak, akan tiba masa bagi kita untuk menjadi seorang ibu mertua. Dengan belajar memahami sudut pandang seorang mertua, sesungguhnya kita akan bertumbuh menjadi lebih bijak.

Dalam bahasa Inggris, ibu mertua disebut sebagai mother-in-law. Namun, dengan mempraktikkan kasih, ibu mertua tidak hanya akan menjadi mother-in-law semata, melainkan bertransformasi menjadi mother in love.

Selamat menikmati peran sebagai seorang menantu perempuan yang bijak.


Baca juga:

Tinggal Serumah dengan Mom[ster] in Law? Inilah 8 Rahasia Saya untuk Bertahan dan Lulus Sebagai Menantu Perempuan Kesayangan Mama Mertua

Relasi Harmonis Mertua dengan Menantu: Mustahil? Inilah Rahasia yang Terkuak dari Mertua yang Berhasil Menjadikan Menantu-menantunya bak Malaikat






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hidup Damai dengan Mertua di Tahun Baru? Bukan Mustahil, Ini 3 Rahasianya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Jessica ValentinaAnanta | @jessicavalentinaanan

Seorang ibu dengan dua calon kepala keluarga masa depan. Selalu ingin menebar manfaat lewat tulisan dan karya-karyanya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar