Guru Tewas Dianiaya Siswa. Menanamkan 6 Nilai Ini pada Anak Bisa Mencegahnya Terulang

Parenting

806
Mendidik anak menjadi pintar itu baik. Tapi menjadikan mereka memiliki penguasaan diri dan menghargai orang lain, itu lain cerita.

Sedih dan benar-benar prihatin ketika saya membaca berita tentang tewasnya seorang guru yang dipukuli muridnya. Guru musik yang hanya menerima honor empat ratus ribu sebulan itu meregang nyawa meninggalkan istri yang baru setahun dinikahi dengan jabang bayi dalam kandungannya.

Betapa tragis dan merobek hati. Hanya karena ditegur, murid yang karena tidak mampu mengendalikan emosinya akhirnya menghilangkan nyawa seorang tenaga pendidik yang seharusnya dihormati.

Sebagai orangtua, tentu kita tidak ingin anak-anak kita suatu saat menjadi pembawa penderitaan bagi orang lain. Apalagi melakukan tindakan yang tidak terpuji pada orang yang lebih tua. Lalu apa yang bisa kita lakukan supaya anak-anak kita bisa tumbuh dengan penuh rasa hormat serta memiliki kontrol diri yang baik?


1. Ajarlah anak kita sejak kecil, bahwa ada otoritas yang harus dia taati dalam kehidupan ini

photo credit: Mani Karthik

Nomor satu adalah Tuhan, tentunya. Kedua, orangtua sebagai wakil Tuhan di dunia. Guru adalah orangtua di sekolah. Artinya, guru pun harus dihormati karena memiliki otoritas yang sama dengan orangtua sebagai wakil Tuhan. Percayalah jika ini terus diajarkan kepada anak terus-menerus, maka ia akan tumbuh dengan konsep berpikir bahwa ia harus taat pada otoritas.


2. Ajarkan bahwa otoritas pun ada tingkatanya

Bukan hal aneh lagi kalau di dunia timur ini, kakek nenek sering lebih memanjakan cucu daripada orangtua. Oleh karena itu kita perlu juga menanamkan bahwa yang bertanggungjawab penuh atas kehidupan anak, tentu saja orangtuanya. Bukan kakek neneknya. Jadi meskipun anak-anak kita wajib menghormati kakek-nenek, paman-bibi dan kakak-kakaknya, namun ia harus tetap sadar bahwa otoritas utama adalah kedua orangtuanya.


3. Jika ada masalah antara kita dan anak-anak, hendaklah diselesaikan dan diakhiri dengan baik

Jangan sampai karena kita marahi dan tidak diselesaikan, anak kita jadi sakit hati dan menganggap orang lain (biasanya kakek nenek) lebih sayang kepadanya. Sudah sering kita baca juga ada anak remaja yang menyakiti orangtuanya karena dendam dan marah. Sekedar tips, ketika kita habis memarahi atau menegur anak, bicaralah hingga selesai sampai dia mengerti, akhiri dengan pelukan dan ungkapan sayang. Saya cukup berhasil melakukan hal ini. Ketika menegur anak dan dia menangis, kakeknya memarahi saya dan hendak menarik tangannya menjauh dari saya. Namun karena anak sudah sering diajarkan tentang otoritas, sambil menangis ia tetap berdiri menunggu saya “selesai” dengan dia. Setelah itu baru dia ikut kakeknya, tanpa menyisakan kemarahan atau kebencian kepada saya yang menghukum dia.


4. Membuka wawasan bahwa pihak yang berotoritas atas anak, dalam hal ini orangtua atau guru, bisa saja melakukan kesalahan

photo credit: GradeSlam

Anak-anak boleh kritis, namun bukan berarti menghilangkan sikap hormatnya. Ajari anak-anak bagaimana cara menyampaikan ketidaksetujuannya. Ajari juga cara ia mengekspresikan perasaan kecewa atau marah tanpa melakukan hal-hal yang merusak atau menyakiti orang lain.


5. Terutama dan penting, jadilah teladan yang baik bagi anak-anak kita

Anak akan melihat bagaimana kita menghormati orang lain. Anak akan melihat bagaimana kita mengekspresikan perasaan marah atau kecewa pada orang lain. Jangan berharap anak menghormati orangtua atau gurunya, kalau kita saja sering menunjukkan sikap tidak hormat pada orangtua kita. Atau kita ikut menjelek-jelekkan gurunya.


6. Senantiasa doakan anak-anak kita

photo credit: lagoinha

Percayalah bahwa semua usaha yang kita lakukan dalam mendidik anak kita, tak lepas dari kedaulatan Tuhan. Lakukan bagian kita sebagai orangtua, dan memohon Tuhan akan melakukan menjaga anak-anak kita.

Baca juga: 4 Kesalahan Orangtua yang Terulang Lintas Generasi. Hentikanlah!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Guru Tewas Dianiaya Siswa. Menanamkan 6 Nilai Ini pada Anak Bisa Mencegahnya Terulang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


KopiSuperGaruda Biak | @niningtan

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar