Ditumpuk Bersama Mayat karena Sudah Dianggap Mati, Begini Arti 'Hidup' Menurut Seorang Pramugari yang Pernah Mengalami Hampir Mati

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Mario Azzi]

1.6K
“Saya sudah dianggap mati sehingga ditumpuk bersama mayat-mayat yang lain,” ujar Laura Lazarus, “untung ada seorang bapak mendengar teriakan saya minta tolong, sehingga saya dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit.”

Saya baru tiba di kantor saya ketika kedatangan tamu ‘istimewa', Laura Lazarus, mantan pramugari yang lolos dari maut ketika pesawatnya jatuh. Penulis buku national best seller, Unbroken Wings itu baru saja meluncurkan buku terbarunya, Unbroken Spirit dan menyerahkannya secara langsung di kantor saya.

[Dokumentasi pribadi penulis]

Dari kesaksian dan bincang-bincang akrab kami, ada tiga pelajaran penting darinya, cara untuk bukan sekadar bertahan hidup melainkan justru mengejar impian sukses masa kecilnya.

Inilah tiga pelajaran penting dari pramugari yang hampir wafat saat pesawatnya jatuh.



1. Tetap Beriman

Karena mengalami patah tulang dan berbagai luka serius, Laura diterbangkan ke Singapura untuk menjalani operasi demi operasi. Bahkan setelah 14 tahun sejak peristiwa itu terjadi, gadis cantik blasteran Tionghoa, Manado, Ambon, dan Belanda ini harus memakai tongkat lagi karena ada tulangnya yang retak kembali.

“Meskipun begitu, saya tetap berkata, ‘Tuhan itu baik,’” ujarnya dengan mata berlinangan tapi senyum di wajah.

Baca Juga: Dari Lumpuh, Pneumonia, ke Kanker Stadium 4. Ini tentang Yo dan 3 Sakitnya



2. Tetap Kuat

Karena sakit bertahun-tahun, pihak perusahaan akhirnya ‘bosan’ juga sehingga dia ‘dianjurkan’ untuk bekerja. Dalam situasi kondisi seperti ini dia merasa hidupnya serba berat. Seorang pengusaha menjanjikan membantu perawatannya. “Jika ada apa-apa, hubungi saya saja,” ujar pengusaha itu.

Atas tawaran itu Laura memberanikan diri untuk menemui bos itu. Untuk Itu pun dia harus berjuang. Menerobos sana sini sampai akhirnya bisa ke lantai atas kantor megah itu, meski harus menunggu dari pukul empat sampai delapan malam. Begitu ketemu, bos itu dengan enteng berkata, “Hai Laura, maaf besok saja, ya, karena saya ada reuni.”

Hati Laura jauh lebih sakit ketimbang fisiknya. Sambil menahan air mata, Laura kembali ke lantai bawah. Karena kalut, dia berteriak di dalam mobil. Dia sampai lupa menyalakan lampu mobil saat menyetir pulang, sehingga ketika berada di perempatan jalan, seorang polisi meminggirkan mobilnya.

“Saya sudah tidak tahan lagi. Saya menangis sejadi-jadinya,” ujar Laura dengan mata membasah lagi. “Begitu polisi tahu saya menangis, dia minta izin untuk duduk di samping saya karena saya tidak mau keluar dari mobil. Saya ceritakan semua masalah saya, mulai dari pesawat yang jatuh sampai mengalami kesulitan saat mengambil gaji. Begitu mendengar kisah saya, polisi itu pun curhat bahwa selama 14 tahun mengabdi, dia juga masih berat hidupnya. Jadilah kami saling curhat satu sama lain.”

Ketika kita berada di posisi bawah, ternyata ada lagi orang yang mempunyai masalah yang hampir sama atau bisa jadi lebih berat ketimbang yang kita alami. Tuhan izinkan kita untuk bertemu dengan orang-orang yang bisa saling menguatkan dan saling mendukung.

Baca Juga: Saya Juga Tak Menyangka, Ternyata Begini Cara Hati Menyembuhkan Luka



3. Tetap Belajar

“Sejak buku pertama saya terbit dan diundang ke acara Kick Andy, banyak orang yang mendorong saya untuk terus menulis, termasuk Pak Xavier,” ujarnya sambil memandang saya dengan senyum lebar. “Sejak itu saya belajar terus untuk berbagi. Dari menulis buku kini saya kembangkan diri menjadi penerbit. Bahkan belakangan ini saya membuat akademi untuk melatih orang meningkatkan kemampuan mereka.”

Baca Juga: Rahasia Sukses Sejati: Ringan Tangan, Ringan Hati



Cermin Bagi Kita.

Jika Laura Lazarus saja yang ‘bangkit dari kematian’ bisa tetap beriman, tetap kuat, dan tetap belajar, marilah kita bangunkan diri kita sendiri untuk tidak gampang menyerah terhadap keadaan.

[Dokumentasi pribadi penulis]

Mari bangkit dan menjadi terang bagi sesama!




Baca Juga:

Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini

12 Tahun Hidup dengan Satu Ginjal, Anak Ini Mengajarkan Apa Arti Menjadi Kuat. Sebuah Kisah Nyata

Tak Perlu Sempurna untuk Bisa Bahagia. Hidup Bahagia, Satu Ini Saja Rahasianya





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ditumpuk Bersama Mayat karena Sudah Dianggap Mati, Begini Arti 'Hidup' Menurut Seorang Pramugari yang Pernah Mengalami Hampir Mati". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar