Diceraikan Sepihak atau Ditinggal Berpulang oleh Suami, Istri Cerdas Melakukan 5 Hal Ini

Marriage

[Photo credit: Abi Ismail]

10.6K
Sedia payung sebelum hujan jangan hanya jadi teori.

“Pak Xavier, Pak Anwar dan Bu Ani bercerai juga,” ujar seseorang.

“Lho, bukannya mereka sudah punya cucu dan tinggal menikmati hidup, mengapa bercerai?” tanya saya.

“Sebenarnya, mereka sudah tidak cocok sejak dulu. Baru sekarang saja puncaknya.”


Di saat yang hampir bersamaan, seorang sahabat lama mengirimkan cerita seorang istri yang diceraikan suaminya pada usia senja.

Saat merenungkan fenomena ini - cerai di usia senja atau ditinggal meninggal dunia oleh sang suami - saya menemukan lima hal yang seharusnya dipersiapkan oleh istri jika peristiwa yang menyedihkan ini terjadi.



1. Jangan Mengganti Kesederhanaan dengan Kepongahan

Saya banyak bertemu dengan gadis sederhana yang begitu menikah dengan pria kaya hidupnya berubah 180 derajat. Jika selama ini dia oke-oke saja pakai pakaian yang sederhana dan naik sepeda motor, begitu menikah tiba-tiba saja semua jadi serba gemerlap.

Tidak masalah jika perubahan itu hanya menyangkut penampilan. Bisa saja suaminya yang membelikan atau ‘mendadaninya’ demikian. Namun, jika sifat rendah hatinya berubah menjadi arogan, wanita semacam ini bukannya menimbulkan simpati malah memuakkan bagi lingkungannya. “Ah dia seperti kere munggah bale!” sorotan tajam teman-temannya.

Ingat,

Anda tidak selalu berada di atas. Roda kehidupan kadang bisa meluncur ke bawah.

Saat Anda diceraikan, misalnya, maka modal Anda untuk tetap bergaya tidak ada lagi. Bagaimana Anda bisa tetap pongah jika bedak terakhir pun sudah tumpah ke tanah?

Baca Juga: Terus Meremehkan Masalah Penting Ini, Pertengkaran, Perselingkuhan dan Akhirnya Perceraian yang Terjadi. Jangan Terulang Lagi, Temukan Solusi di Sini!



2. Tetaplah Bekerja

Bekerja di sini bukan berarti Anda mati-matian mempertahankan pekerjaan tetap Anda. Misalnya Anda sebagai karyawan, bukan berarti Anda memaksakan diri untuk tetap ngantor meskipun suami Anda sanggup membiayai Anda dan meminta Anda untuk tetap di rumah dan fokus pada keluarga. Yang saya maksudkan adalah

usahakan agar Anda tetap punya penghasilan dari hasil keringat dan kreativitas Anda sendiri. Di luar uang bulanan, mingguan, atau harian yang suami Anda berikan.

Saya tidak mengatakan bahwa Anda sudah bersiap-siap untuk bercerai atau diceraikan. Saya tidak happy dengan perceraian. Namun, tanpa perceraian pun jika tiba-tiba suami Anda berhalangan tetap - karena sakit penyakit atau kecelakaan - maka Anda masih bisa meneruskan hidup dan anak-anak.

Sahabat saya, Magdalena Sukartono, setelah ditinggalkan suami yang mencintai dan dicintainya untuk selama-lamanya, tetap bisa melanjutkan hidup dengan produktif sebagai pembicara publik, bahkan sampai nenek-nenek seperti sekarang ini.

[Photo credit: UNY]

Julukannya:

- singkatan dari Enerjik, Dinamis, Antusias dan Nasionalis.


[Photo credit: HR Excellency]

Saya salut dengan beliau. Bahkan sering saya jadikan contoh positif saat saya sendiri memberikan ceramah atau seminar.



3. Jangan ‘Buang’ Komunitas Anda

Kepada calon pasangan suami-istri yang konseling ke saya, saya biasanya mengimbau agar mereka memberi ruang dan waktu bagi pasangan untuk tetap bersosialiasi dengan teman-teman masing-masing. Jangan sampai penikahan membuat kita terpisah dari geng masa kecil kita, teman-teman hang out atau rekan-rekan sekerja dan bisnis kita.

“If were are not networked, we are not working,” begitu nasihat yang sering saya berikan khususnya kepada anak muda atau pasangan suami-istri baru.

Para sahabat itulah
yang bisa menjadi penopang
di saat tiang Anda goyang.

Komunitas itulah yang sering kali bisa menolong Anda saat Anda membutuhkan penghasilan untuk menopang kehidupan Anda yang tiba-tiba berubah 180 derajat setelah diceraikan suami.



4. Mengerti dan Memahami Pekerjaan Suami

Bukan berati Anda harus mencampuri setiap urusan pekerjaan suami, namun paling tidak Anda tahu apa yang suami kerjakan. Sesekali kunjungi kantor suami Anda.

Dengan mengenal pekerjaan suami, toh Anda bisa ikut mendukungnya. Paling tidak dalam doa.

Saya mengenal seorang istri kontraktor yang aktif terlibat membantu pekerjaan suaminya dengan mencarikan klien. Saat kumpul dengan teman-teman sesama istri, jika ada yang ingin membangun rumah atau pabrik, dia menawarkan kontraktor milik suaminya.

Baca Juga: Sampai Maut Memisahkan, bahkan Melampauinya. Sebuah Kisah Nyata



5. Membantunya dalam Administrasi dan Keuangan

Jika suami mengizinkan, tawarkan diri Anda untuk membantunya di bidang administrasi atau keuangan, atau apa pun yang Anda kuasai. Bisa jadi suami Anda menolak karena menganggap bahwa urusan Anda adalah urusan domestik sedangkan dialah yang bertanggung jawab menafkahi keluarga. Namun, jika Anda tulus ingin membantunya, apalagi jika terbukti Anda kredibel atau mumpuni, bisa jadi suami Anda malah bersyukur karena memiliki pasangan yang bisa mem-back up pekerjaannya.

Jangan sampai kita ‘nol putol’ alias tidak tahu apa-apa soal pekerjaan dan bisnis suami.

Saya mengenal seorang ibu yang saat ditinggal meninggal dunia oleh suami, kebingungan luar biasa soal aset dan utang piutang karena sama sekali berjarak dengan pekerjaan suaminya. Saya dengar banyak aset yang akhirnya berpindah tangan karena ketidakmengertian sang istri. Sebaliknya, ada seorang istri yang tetap bisa melanjutkan pekerjaan suaminya sebagai supplier peralatan pabrik karena selama suaminya bekerja, dia ikut membantu.

Baca Juga: Suami Diperiksa KPK, Dian Sastro Lakukan Ini. Bisa Jadi Pelajaran untuk Para Istri, Nih!


Saya juga mengenal seorang pemilik pabrik yang istrinya suka membuat kue. Karena merasa punya waktu cukup - karena kedua anak mereka kuliah di luar negeri - sang istri mempunyai bisnis sendiri di bidang kue tart. Alih-alih merasa tersinggung karena teman saya ini lebih dari cukup untuk membiayai keluarga mereka, sang suami justru menolong istrinya secara aktif. Sepulangnya dari kantor, dia ikut membantu mendesain kue-kue yang hendak dibuat istrinya. Mereka rajin meng-update diri mereka dengan perkembangan kue tart kontemporer. Sampai hari ini rumah tangga mereka tetap solid dan eksis.

Jadi, jika tidak terjadi perceraian, toh penghasilan ganda semacam ini bisa menjadi benteng yang kuat bagi istana pernikahan mereka.


Sedia payung sebelum hujan jangan hanya jadi teori dan saat hujan tiba ternyata payungnya tidak bisa dibuka karena rusak. Oleh sebab itu, bukan hanya sedia payung sebelum hujan, jika memungkinkan sediakan jas hujan atau bahkan mobil sehingga tidak perlu kehujanan.

[Photo credit: I.B, Wiradyatmika]

Bukankah begitu?




Baca Juga:

Saat Hamil Tua, Saya Ditinggal Pergi oleh Suami

Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja

Ingin Cinta Manis Sepanjang Usia? Begini Caranya





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Diceraikan Sepihak atau Ditinggal Berpulang oleh Suami, Istri Cerdas Melakukan 5 Hal Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar