Di Balik Nama 'Medan Elang', Julianto Tio, di HP Vero. Resmi Bercerai, Ini yang Tersisa dari Akhir Kisah Ahok dan Vero

Reflections & Inspirations

[Photo credit: tribunnews]

16.6K
Untuk mengelabui semua orang, termasuk Ahok, Vero menyamarkan nama Julianto Tio—good friend-nya—dengan ‘Medan Elang’.

Tiba-tiba saja frasa ‘Medan Elang’ jadi menjulang. Ahok-Vero resmi cerai.

Ada satu kalimat menarik dari hakim yang memutuskan perkara mereka: "Sedangkan untuk mengelabui banyak orang, dalam kontak dan nomor handphone dari good friend-nya disebut tanpa nama dan akhirnya ditulis nama Medan Elang saja," ucap Majelis Hakim. Dari ruang sidang, kita tahu bahwa untuk mengelabui semua orang, termasuk Ahok, Vero menyamarkan nama Julianto Tio—good friend-nya—dengan ‘Medan Elang’. Saat berkomunikasi dengan Julianto Tio, Vero memakai bahasa Hokkian yang tidak dimengerti Ahok.

Perceraian Ahok-Vero - yang menyita perhatian banyak orang - sudah terjadi. Para pencinta Ahok berharap kasus ini berakhir baik, yaitu Ahok-Vero berdamai. Fakta di pengadilan bicara lain. Lalu? Ya sudah. Selesai.

Menurut saya, ada yang jauh lebih penting lagi: pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa yang menyedihkan ini.


Mari belajar sifat-sifat elang atau rajawali yang ternyata luar biasa.


1. Rajawali punya standar hidup yang tinggi: tidak mau memakan bangkai.

Agar tetap fit, rajawali memilih daging yang segar dan benar-benar baru mati ketika hendak dia makan atau dimakan anak-anaknya.


2. Rajawali memilih tinggal di tempat yang tinggi.

Bukan untuk mengisolasi diri, melainkan karena kemampuan terbangnya yang di atas burung kebanyakan. Sarang dibuat di tempat tinggi juga untuk menghindari telur dan anak-anaknya dimakan predator utama, yaitu ular.

Rajawali membuat sarang di tebing yang tinggi dan sulit dijangkau dengan bahan-bahan yang luar biasa. Dimulai dari ranting berduri di bagian luar, untuk melindungi dari serangan ular, dilanjutkan dengan bahan-bahan yang lebih lembut mulai daun kering sampai bulunya yang paling halus. Artinya, garang di luar lembut di dalam. Anak-anak rajawali yang baru menetas merasa nyaman di dalam dan aman serangan dari luar.


3. Rajawali mendidik anaknya dengan keras.

Kitab Ulangan mencatat cara rajawali mendidik anaknya terbang:

“Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya.”

Pada minggu-minggu pertama, anak burung rajawali mendapat pasokan makanan dari induknya. Setelah dirasa bulu di sayapnya mulai tumbuh, tiba saatnya mereka harus keluar dari sarang. Artinya, sarang digoyang-goyang agar mereka keluar. Begitu mereka meluncur sampai hampir menimpa tanah, induknya menangkapnya di punggungnya dan membawanya terbang tinggi. Untuk dijatuhkan lagi. Kejam? Tidak! Inilah cara induk rajawali mengajar anaknya agar bisa terbang sendiri.

Saya pernah membaca bahwa anak-anak manusia mengalami jatuh bangun sekitar 200 kali baru bisa berjalan. Saya tidak tahu berapa kali dulu saya jatuh baru bisa berjalan. Wkwkwk.

Baca Juga: Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka


4. Rajawali memiliki mata yang sangat tajam.

Pandangan burung rajawali lima kali lebih tajam ketimbang manusia karena fotoreseptor di retinanya mencapai jumlah satu juta, sedangkan manusia hanya 200 ribu saja. Itulah sebabnya rajawali bisa melihat ikan yang berada jauh di tanah, bahkan di bawah permukaan air sekalipun.


5. Rajawali memiliki kesetiaan yang tinggi.

Dari literatur yang saya baca, rajawali mencari pasangan hidup dengan cara yang teliti. Ketika betina sudah memasuki usia kawin dan ada rajawali jantan yang PDKT, dia mengujinya. Caranya, rajawali betina ini mengambil carang, membawanya terbang tinggi, dan ‘melemparkan’ carang ini ke tanah dengan cakarnya yang kuat.

Rajawali jantan yang menaksirnya harus menukik tajam untuk mengejar ranting itu sebelum jatuh ke tanah. Jika gagal, gagal pula percintaan mereka. Rajawali betina akan mencari pejantan lain.

Kalau sukses, dia akan mengambil carang lain dan melakukan hal yang sama sebanyak paling tidak tiga kali, baru sang pejantan dianggap layak menjadi pendamping hidupnya.

Yang menarik dan mengharukan, begitu kawin, rajawali setia dengan pasangannya seumur hidupnya. Jika pasangannya mati, rajawali akan menghabiskan masa tuanya sendirian. Dulu setahu saya, merpati yang demikian. Ternyata kesetiaan rajawali sungguh teruji dan layak dipuji.

Baca Juga: Sampai Maut Memisahkan, Bahkan Melampauinya. Sebuah Kisah Nyata



Sekarang, bagaimana dengan karakter orang Medan?

Dulu, saya banyak mendengar bahwa karater orang Medan itu jelek dan negatif. Itu kata orang. Ternyata memang ada orang Medan yang seperti itu. Namun, bukankah di daerah lain pun selalu ada orang-orang yang punya karakter buruk? Jangan sampai nila satu atau dua titik dianggap merusak satu belanga bernama Medan. Ini Medan, Bung. Medan itu luas!

Setelah bergaul dengan orang-orang Medan, sebagian menjadi sahabat dekat saya dan keluarga, saya menemukan bahwa lebih banyak lagi orang Medan yang baik dan positif.

Dari pergaulan dengan mereka, saya mengamati tiga hal ini.


1. Orang Medan itu keras bicaranya tegas tindakannya.

Memang harus diakui orang Medan kalau bicara keras, namun apakah keras selalu identik dengan kekerasan? Tidak! Saya lebih senang memakai kata ‘tegas dalam berprinsip’ dan ini positif. Sahabat saya orang Medan memang terkenal kuat memegang prinsip. Seorang sahabat saya bahkan begitu keras sehingga tidak mau berkompromi melanggar hukum Tuhan maupun manusia.


2. Orang Medan itu sangat bangga dengan daerahnya dan punya solidaritas yang tinggi.

Setelah bertahun-tahun bergaul dengan orang Medan, setiap kali membicarakan tentang Medan, mereka senantiasa antusias. Teman-teman selalu saja mengiming-imingi saya untuk berkunjung ke Medan setiap ada hari libur. Dengan bangga dan mata bercahaya mereka menawarkan keindahan alam dan wisata kulinernya yang bikin ngiler. Percaya, deh!


3. Orang Medan bisa menjadi orang yang dermawan saat mereka sungguh-sungguh bertuhan.

Saya mengenal orang-orang Medan yang jauh dari kesan pelit. Mereka dengan murah hati dan ringan tangan selalu saja membawakan atau mengirimi oleh-oleh makanan khas Medan setiap kali mereka kembali ke Jawa setelah pulang kampung. Makanan mereka seperti yang mereka ceritakan, terbukti enak. Apalagi durian Bang Ucok-nya. Wkwkwk.


Nah, jangan karena Veronica Tan menyamarkan nama Julianto Tio dengan ‘Medan Elang’ kita langsung menyamakan elang dan Medan sebagai sesuatu yang negatif. Biarlah orang Medan dengan bangga berkata, “Ini Medan, Bung!” Horas!

Ahok dan Vero, saya bukannya tidak bisa move on, namun saya memilih untuk mengingat masa-masa indah yang kalian lalui saat masih bergandengan tangan membangun rumah tangga dan Jakarta. Biar Tuhan menuntun jalan kalian masing-masing. Saya masih berharap suatu kali kelak—entah kapan—saya mendengar kabar baik dari kalian dan ketiga buah cinta kalian. Itu doa saya.



Baca Juga:

Mengapa Vero Tega Berselingkuh? Simak Analisis Pakar Pernikahan Ini

Usulan Pasangan Baru untuk Ahok dan Vero. Siapa Tahu Cocok!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Di Balik Nama 'Medan Elang', Julianto Tio, di HP Vero. Resmi Bercerai, Ini yang Tersisa dari Akhir Kisah Ahok dan Vero". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar