Di Balik Kontroversi Gugatan Cerai Ahok: Anak-anak Bakal Menghadapi 3 Realita Menyedihkan Ini Ketika Perceraian Terjadi

Marriage

[image credit: Foto Keluarga Ahok]

928
Perceraian terkadang tampak menjadi jalan "terbaik" bagi pasangan yang bermasalah, tetapi setelah gugatan cerai berlangsung, apa dampaknya bagi anak?

Ahok dan Vero. Mereka adalah dua sejoli yang sukses memikat hati dari banyak masyarakat Indonesia. Cerita cinta ala Ahok dan Vero telah menjadi sebuah pemandangan yang indah dan menggetarkan hati. Drama Pilkada tahun lalu menjadi sebuah ujian sekaligus kesempatan bagi mereka untuk mendemonstrasikan kasih dan kesetiaan. Publik melihat mereka sebagai pasangan yang tahan uji.

Namun, di awal tahun ini, nada kasih itu mulai beralih menjadi sumbang. Indonesia dikejutkan oleh gugatan cerai yang dilayangkan Ahok kepada sang istri. Citra positif yang dimiliki Ahok dan Vero seolah menguap pasca pemberitaan gugatan cerai. Banyak pihak terkejut, bahkan menyayangkan keputusan ini. Opini mulai digaungkan. Asumsi bernada penghakiman mulai ditujukan kepada pasangan tersebut.

"Menurutmu apa yang bikin Ahok mantap menggugat Vero?" tanya suami saya sehari sebelum pemberitaan ini resmi dikonfirmasi kebenarannya.

"Nggak tahu. Jangan percaya dulu. Siapa tahu hoax," jawab saya kalem.

"Kalo menurutku, mungkin Vero selingkuh. Kan Ahok di penjara nggak mungkin aneh-aneh. Kok bisa mendadak dia gugat cerai istrinya?" tebak suami saya.

Berita tersebut sukses membuat saya tidak bisa tidur semalaman. Kesedihan mulai menyusup di hati. Tidak bisa dipungkiri, saya memang mengagumi pasangan ini. Ada keteladanan yang bisa dicontoh dari mereka berdua.

"Betulkah karena perselingkuhan? Bila iya, sayang sekali ..." pikir saya dalam hati.

Baca Juga: Ahok Gugat Cerai Veronica Tan? Renungkan 3 Hal Ini Sebelum Membuka Suara

[image: facebook]

Jika saya yang tidak termasuk dalam bagian keluarga Pak Ahok saja bisa merasa sedih, bagaimana dengan perasaan ketiga buah hatinya?

Yang jelas, gugatan cerai adalah sebuah keputusan yang tidak mungkin dapat dipahami langsung oleh anak-anak. Mereka akan selalu menjadi pihak yang paling dirugikan.

Bila permohonan cerai dikabulkan, inilah 3 kenyataan menyedihkan ini akan dihadapi anak-anak.



1. Perubahan yang tidak menyenangkan

Hidup anak yang menjadi korban perceraian tidak akan pernah sama lagi. Perlu waktu bagi mereka untuk memahami, mengapa sekarang orangtua mereka tidak tinggal seatap lagi. Jika pihak yang bercerai bisa merasa kosong dan asing akibat perceraian, apalagi anak-anak. Belum lagi jika mereka terpaksa harus tinggal terpisah dengan saudara kandung akibat keputusan mengenai hak asuh.

Tidak jarang, anak akan berperan menjadi penyampai pesan jika hubungan antara pihak yang bercerai masih belum membaik.

Sungguh merupakan sebuah kesalahan besar jika anak harus menjadi penyampai pesan bagi orangtua yang bercerai. Anak akan didera perasaan sedih dan bersalah, bahkan merasa diabaikan.



2. Tidak menjadi diri sendiri

Ibarat seperti bayi belum cukup umur yang terpaksa dilahirkan prematur oleh alasan tertentu, perceraian membuat anak terpaksa menjadi dewasa lebih cepat dari waktunya. Tentunya ini bukan hal menggembirakan bagi anak. Tidak jarang mereka dituntut untuk mampu memahami situasi yang dirasakan oleh orangtuanya. Bahkan dalam beberapa kasus, anak mengalami trauma berkepanjangan.

Ketika perceraian menjadi sebuah keputusan final, sebagian dari diri anak-anak akan hilang. Mereka merasakan kegetiran karena harta milik yang paling berharga dirampas begitu saja. Keceriaan berganti menjadi dukacita, sehingga anak menjadi berbeda.



3. Takut berkomitmen dalam sebuah hubungan

Di masa dewasa, anak korban perceraian akan memandang pernikahan sebagai sebuah neraka. Ketika komitmen dan kesakralan dalam pernikahan ternoda, anak akan beranggapan bahwa pernikahan dibangun atas komitmen yang bernilai nol besar.

Tentunya hal tersebut bukanlah sebuah harga mati, tetapi setidaknya banyak anak yang merasa takut mengalami kegagalan dalam pernikahan.

Baca Juga: Benarkah Gugatan Cerai Ahok Disebabkan karena Perselingkuhan?

Pada anak perempuan, perceraian cenderung menimbulkan efek trauma yang lebih besar. Mereka mulai memasang tembok pertahanan berlebih terhadap lawan jenis, bahkan cenderung apatis terhadap sebuah hubungan. Adanya ketakutan untuk ditolak dan ditinggalkan oleh orang terkasih membuat anak menjadi paranoid, bahkan posesif terhadap pasangan.


***


Perceraian memang berdampak buruk terhadap anak. Namun, pernikahan yang "sakit" pun memainkan peran antagonis yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

[image: power of speech]

Sebuah pernikahan yang diwarnai oleh pertengkaran, agresi verbal dan fisik mampu membuat anak merasa lelah secara emosi. Hal-hal tersebut mampu mencederai mental anak, sehingga menyebabkan rasa frustrasi sekaligus perubahan kepribadian.

Pada akhirnya, pernikahan yang hanya dipaksakan bertahan demi anak-- tetapi sudah tidak ada kasih sayang antar suami-istri pun tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan sukacita. Oleh karena itu, diperlukan kedewasaan dari dua belah pihak untuk mau memperbaiki keadaan. Jika perceraian adalah sebuah hal yang tidak bisa ditawar, pastikan pihak yang berseteru tetap mau bekerja sama menciptakan suasana tumbuh kembang yang lebih baik bagi anak.



Baca juga pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari berita seputar Ahok-Veronica ini:

Dari Kisah Ahok Gugat Cerai Veronica, Tersingkaplah 3 Perspektif Hidup Ini

Ahok Gugat Cerai Veronica Tan. Gak Mungkin? Bisa Saja? Ketimbang Ngurusi Itu, Ini Lebih Penting

Yang Terlewatkan dari Riuhnya Gugatan Cerai Ahok kepada Veronica Tan





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Di Balik Kontroversi Gugatan Cerai Ahok: Anak-anak Bakal Menghadapi 3 Realita Menyedihkan Ini Ketika Perceraian Terjadi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Jessica ValentinaAnanta | @jessicavalentinaanan

Seorang ibu dengan dua calon kepala keluarga masa depan. Selalu ingin menebar manfaat lewat tulisan dan karya-karyanya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar