12 Tahun Hidup dengan Satu Ginjal, Anak ini Mengajarkan Apa Arti Menjadi Kuat. Sebuah Kisah Nyata

Reflections & Inspirations

[image: sohu]

677
Sejatinya, kuat itu bukan menjadi senantiasa bahagia di tengah masalah, bukan pula soal berpikir positif yang berlebihan, sehingga melakukan penyangkalan bahwa memang ada sesuatu yang tak enak terjadi. Kuat berbicara jauh lebih indah dari itu.

Di sudut ruangan, saya duduk bersama dua murid perempuan. Tiba-tiba, salah satu di antara mereka mengangkat kaus menunjukkan area perut. Saya kaget. Walau sama-sama perempuan, tetapi tindakan tanpa komando itu sempat membuat saya terperanjat.

“Miss, aku lho udah ngerasain operasi,” katanya seraya menunjukkan bekas jahitan yang sudah mengering. Remaja berambut semi keriting itu lantas melanjutkan penjelasan. Ternyata sejak usia dua tahun, salah satu ginjalnya harus diangkat. Dengan beberapa alasan medis yang tidak dia perinci, saya menyimpulkan fakta bahwa sudah sekitar 12 tahun dia menjali hari demi hari hanya dengan satu ginjal.

Sampai di situ, perasaan saya bercampur. Lebih tepatnya saya kebingungan memilih respons yang tepat dan pantas.

Ada banyak sekali sebenarnya ketidakberuntungan yang bisa dialami setiap insan. Ketika sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, harus singgah, dan memberikan sebuah dampak yang seringnya tak nikmat. Entah itu perkara kondisi fisik, finansial, relasi yang retak, dan berbagai hal lain. Apa yang murid saya alami hanyalah satu di antara jutaan kasus lain.

Ketidaksempurnaan hidup adalah keniscayaan dan mungkin hal itulah yang membuat konsep “harus kuat” menjadi begitu populer.

Dengan gentar saya mengajukan pertanyaan bagaimana kondisinya saat ini dan apakah pernah dia minder karena bekas jahitan yang tidak kecil itu.

“Semua normal, Miss,” katanya lugas.

Ternyata, walau hanya dengan satu ginjal, belasan tahun dapat dia jalani dengan kondisi fisik prima, atau setidaknya tidak jauh berbeda dengan orang-orang lain. Setahun sekali dia memang masih harus menjalani check-up, tetapi selebihnya, gadis yang kini sudah mengenakan seragam putih abu-abu ini, menjalani berbagai aktifitas tanpa pantangan apa pun.

“Tapi soal minder ... ya pernah, Miss,” begitu responnya menimpali tanda tanya saya yang kedua. “Dulu waktu SD, saat ganti baju olahraga, kan, bareng temen-temen cewek, sering ditanyain itu luka apa.”

Saya kira jawabannya hanya sampai di situ. Namun, lanjutan pernyataannya membuat hati saya bergetar.

“Tapi lho, Miss, Tuhan uda baik banget sama aku. Operasinya pas kecil, jadi aku ga ngerasain apa-apa dan aku sehat-sehat aja sampai sekarang. Jadi kebangetan aku, Miss, kalau ga bersyukur.”

Exactly! That kind of attitude is just adorable.

Baca Juga: Tiga Kekuatan Rasa Syukur yang Mengubah Kehidupan Kita



Arti Kuat yang Sesungguhnya

Bagi saya, itu adalah cerminan “kuat” yang sesungguhnya. Sejatinya, kuat itu bukan menjadi senantiasa bahagia di tengah masalah, bukan pula soal berpikir positif yang berlebihan, sehingga melakukan penyangkalan bahwa memang ada sesuatu yang tak enak terjadi.

Kuat berbicara jauh lebih indah dari itu.

[image: radziny]

Kita jelas tahu tokoh Nick Vujicic dan lusinan orang lain dengan keterbatasan fisik, tetapi mampu menggoreskan karya luar biasa. Mereka semua adalah orang-orang yang begitu kuat menjalani hidup.

Kesamaan murid saya dan mereka adalah sebuah attitude yang tepat ketika nasib seakan tak berpihak. Kedua, mereka fokus pada karunia lain yang Pencipta berikan.

Alih-alih menyangkali kenyataan, mereka justru menerima utuh ketidakberuntungan mereka, tetapi tidak membiarkan diri terjebak di sana. Mereka tidak fokus pada apa yang tidak mereka miliki, tetapi fokus kepada segala berkat lain yang Pencipta sediakan.

Baca juga: Kejujuran, Satu-satunya Jalan Penyembuhan. Inilah 7 Pengakuan yang Akan Membebaskan Diri dari Rasa Sakit karena Menyimpan Luka Batin


Tiba-tiba saya teringat tentang sosok Morrie, yang ditulis dengan apik oleh Mitch Albom, melalui buku "Tuesday with Morrie".

“Morrie tahu ia jadi korban nasib yang tak ada alasannya, tetapi Morrie tak memilih menjadi marah. Dia memberitahu kita, masih ada orang yang berbuat baik dalam kekalahannya.”

Kalimat ini adalah refleksi yang menggambarkan attitude yang tepat dalam menghadapi sesuatu.

Mungkin kita tidak terbatas secara fisik, tetapi saya yakin, dalam segala hal yang kita miliki, selalu ada ketidaksempurnaan yang terselip. Levelnya berbeda tergantung kebijakan prerogatif Pencipta, tetapi yang jelas kita selalu dapat mencoba menjadi pribadi yang kuat.

Kuat untuk bersyukur, kuat untuk menjalani sesuatu dengan legowo, dan kuat untuk mampu menginsafi sesuatu yang buruk, membuat kita tetap dapat berprasangka baik kepada Sang Sutradara Agung.

Sudah kuatkah kita hari ini?


Baca juga artikel-artikel inspiratif ini:

Junita Herlambang, Tunarungu yang Sukses menjadi Ahli Kecantikan Bereputasi Nasional. Ini 3 Rahasia Kesuksesannya

Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar Sebagai Pemenang

5 Jalan Mengubah Kekurangan Menjadi Bekal Kesuksesan





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "12 Tahun Hidup dengan Satu Ginjal, Anak ini Mengajarkan Apa Arti Menjadi Kuat. Sebuah Kisah Nyata". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adiss_cte

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar