Bukti-Bukti Tak Terbantahkan Mengapa Kami Akan Selalu Membutuhkanmu, Ibu

Parenting

[Photo credit: David Engledow]

490
Karena tidak ada kitab suci tentang bagaimana menjadi ayah yang baik.

Para ibu yang sedang menjalani proses kehamilan pertama mungkin akan tertarik untuk membeli buku "What to Expect When You’re Expecting". Hingga tahun 2016, buku itu telah dicetak ulang hingga 5 kali. Buku ini sering disebut juga sebagai kitab sucinya para ibu hamil.

Buku tersebut memberikan panduan langkah demi langkah untuk bukan saja menenangkan hati para ibu tetapi juga untuk mengarahkan para ibu untuk melakukan persiapan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang kerap terjadi. Lebih dari 18 juta calon ibu telah membeli dan membaca buku ini. Mereka mendapatkan rasa aman dan damai dalam menjalani proses kehamilan mereka karena menemukan berbagai penjelasan terkait berbagai keanehan yang terjadi di dalam tubuh mereka.

Kemudian lahirlah Si Bayi.

Sebagai ayah hanya menjadi pemandu sorak sepanjang kehamilan istri, inilah saatnya untuk menunjukkan bahwa kita pun mampu menjadi ayah yang baik.

Maka kita pun pergi ke toko buku, berharap untuk menemukan sebuah kitab suci yang bisa membantu kita menjalankan peran ayah dengan baik. Anehnya, di tengah begitu banyak buku parenting yang terus bermunculan setiap tahun, kitab suci untuk para ayah rasanya masih belum ada hingga kini.

Dengan sifat anak yang begitu unik dan beragam, kita tidak akan siap untuk menjadi orangtua hingga kita turun-tangan sendiri dan menjalankan peran menjadi orangtua. Kegagalan, kesuksesan, ditambah dengan rasa frustrasi silih berganti menjadi pendamping setia di sepanjang jalan kita sebagai orangtua.

Saat ini, lewat berbagai kegagalan yang sudah saya alami sebagai ayah, saya ingin membagikan 6 hal yang TIDAK BOLEH dilakukan oleh seorang ayah [ibu juga, sih] bila ingin menjadi orangtua yang baik.



1. Multitasking ketika Menjaga Anak

Kita sering menganggap bahwa menjaga anak adalah salah satu dari banyak pekerjaan yang harus kita lakukan. Sama seperti membersihkan rumah, misalnya. Itulah sebabnya sering terlihat banyak orangtua yang menjaga anak mereka sambil bermain HP atau menonton TV. Banyak juga orangtua yang, sambil menemani anak mereka bermain, bergosip dengan orangtua lain.

Sampai batas tertentu, hal-hal seperti itu masih bisa diterima. Namun, ada beberapa hal yang benar-benar tak boleh dilakukan oleh orangtua ketika menjaga anak.

Jangan memasak sambil menjaga anak!

[Photo credit: David Engledow]


Apalagi, yang seperti ini:

[Photo credit: David Engledow]

Jangan sekali-kali mencuci anak seperti ini!

Bukankah para ayah sering kali gagap menjalankan tugas menjaga anak, sehingga bisa saja mereka melakukan hal-hal gila seperti itu.



2. Memperkenalkan Gaya Hidup Sehat Sejak Kecil jika Caranya Seperti Ini

Di tengah banyaknya penyakit yang bermunculan, tentunya kita sebagai orangtua ingin memastikan anak-anak kita terlindungi dari sakit penyakit. Kita ingin agar anak-anak kita bisa tetap sehat agar bisa menikmati berbagai hal yang ada.

Salah satu caranya adalah dengan memperkenalkan olahraga kepada anak-anak kita sejak mereka kecil. Bagi anak-anak, semua hal adalah hal yang baru, sehingga mereka memiliki ketertarikan untuk mencoba segala sesuatu. Itulah sebabnya banyak orangtua yang menggunakan momentum ini untuk memperkenalkan aktivitas berenang, bersepeda, dan berbagai olahraga yang lain kepada anak-anak mereka.

Tapi ingat, walau olahraga itu sehat,

jangan mengajarkan olahraga seperti ini

[Photo credit: David Engledow]

walau kita menamai anak kita 'Clark Kent' sekalipun.

Maksud saya, secara serius, carilah tahu dahulu olahraga apa yang cocok untuk anak-anak kita sesuai dengan umur mereka.



3. Melakukan Penghematan yang Berlebihan

Harus diakui, dengan adanya anak maka pengeluaran rumah-tangga pasti akan bertambah. Sebagai orangtua yang bijak, kita tentu akan melakukan berbagai penghematan untuk hal-hal yang tidak perlu.

Tidak berganti HP setiap ada kesempatan, tidak membeli sepatu setiap kali ada sale [walau harus diakui harganya jadi jauh lebih murah), atau tidak keluar makan setiap hari, misalnya.

Tapi ingat,

jangan sampai meminta anak untuk berbagi susu seperti ini!

[Photo credit: David Engledow]

Tentu ini guyonan, tetapi maksud saya,

melakukan penghematan juga ada batasnya.

Jangan kita menghemat-hemat asupan makanan bergizi untuk anak. Gizi untuk pertumbuhan anak bukan hal yang bisa ditunda.



4. Menghemat Secara Berlebihan jika Berurusan dengan Peralatan yang Dibutuhkan Anak

Pilihlah peralatan untuk anak-anak dengan kualitas yang baik dan aman untuk kesehatan mereka, walau harganya mungkin lebih mahal.

[Photo credit: David Engledow]

Jangan sampai piring makannya sama dengan si kucing, ya.



4. Mencetak 'Mini-Me'

Ketika seorang anak lahir, salah satu kalimat yang paling sering didengar para orangtua baru adalah: "Wah, mirip sekali, ya, dengan kamu!" Para tamu yang datang berkunjung akan memuji kecantikan atau kegantengan bayi yang baru lahir itu. Mereka akan berusaha mencari kemiripan si bayi dengan orangtuanya. Terus terang, saya tidak memiliki kemampuan ini jika harus menilai bayi orang.

Sambil menuntun anak-anak bertumbuh besar, kita sebagai orangtua akan menularkan berbagai sifat dan kebiasaan yang kita miliki.

[Photo credit: David Engledow]

Bila kita suka masak, maka kita akan mengajar anak kita untuk memasak. Bila kita memiliki kendaraan, maka kita akan memberikan mereka waktu untuk mengemudikan motor atau mobil kita ketika waktunya sudah tiba. Dan bila kita suka menonton film, maka kita akan meminta anak kita untuk menemani setiap kali kita pergi ke studio XXI terdekat jika memang filmnya cocok untuk usianya.

Baca juga: Membiarkan [Bahkan Mengajak] Anak Menonton Film Horor? Ini 10 Bahayanya

Tapi ingat, di antara berbagai kebiasaan yang ditularkan, kita sebaiknya

jangan mengajarkan anak-anak makan junk food setiap hari,

[Photo credit: David Englebow]

walaupun kita sendiri sangat menyukai junk food.

Baca Juga: Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal Ini!



5. Lupa Memberikan Masa Kecil yang Penuh Kenangan

Masa kecil tidak akan terulang lagi. Sambil anak-anak beranjak dewasa, kita ingin mereka memiliki kenangan yang bisa dibawa di dalam kehidupan mereka. Harapan kita, kenangan-kenangan ini akan mengingatkan mereka tentang keindahan keluarga kita.

Foto, tempat, dan cerita merupakan beberapa hal yang bisa menjadi bentuk kenangan terhadap keluarga. Kemudahan untuk mengambil foto dari handphone memungkinkan kita untuk setiap saat mengabadikan saat-saat indah bersama anak. Tempat tinggal, tempat jalan, bahkan sekolah juga akan meninggalkan kesan yang indah dalam diri anak kita. Cerita yang sering kita bagikan di meja makan atau di waktu hendak tidur akan menguatkan pembelajaran yang hendak kita berikan kepada anak-anak.

[Photo credit: David Engledow]

Abadikan saat indah bersama anak. Ber-sa-ma.



6. Mendisiplinkan Anak secara Tidak Rasional

Salah satu hal yang paling berat bagi kita sebagai orangtua adalah hal pendisiplinan anak.

Setelah melewati masa-masa lucu, anak-anak kita akan memasuki fase nakal. Mereka mulai belajar melanggar dan melawan. Di saat-saat seperti itu, kita sebagai orangtua juga akan melewati berbagai fase emosi.

[Photo credit: David Engledow]

Kemampuan kita untuk berbicara dengan jelas, tegas namun lembut serta kreativitas kita dalam memberikan hukuman juga akan terus diuji. Belum lagi, tekanan darah kita juga ikut-ikutan mengalami pengujian agar tetap berada pada level normal.

Bila Anda seperti saya yang sering mengalami masa-masa sulit dengan anak, tidak jarang kita ingin memberikan hukuman seperti yang diberikan Alice terhadap Dave, ayahnya ini:

[Photo credit: David Engledow]

Sangat menggoda, bukan?

Namun, seingin-inginnya, tetap saja kita tidak boleh melakukannya. Jika nekat, bisa-bisa kita dianggap melakukan penyiksaan terhadap anak.

Baca Juga: Menghukum Anak untuk Mendisiplinkan Mereka? Mayoritas Orangtua Melakukan Satu Kesalahan Fatal Ini



Jadi, begitulah...

Tugas kita sebagai orangtua secara umum dan sebagai ayah secara khusus, sangatlah tidak ringan. Akan tetapi, anak adalah titipan Tuhan. Kita harus merawat mereka sekuat tenaga.




Baca Juga:

Nasihat Terbaik yang Pernah Saya Dengar tentang Menjadi Seorang Ayah

Menjadi Ayah yang Lebih Baik: 3 Pelajaran Penting dari Seorang Ayah yang Gagal





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bukti-Bukti Tak Terbantahkan Mengapa Kami Akan Selalu Membutuhkanmu, Ibu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar