Bukan Sekadar Tagar, Ini Jiwa Kami yang Bersama Bergetar: #SuroboyoWani

Reflections & Inspirations

[Photo credit: merahputih.com]

3K
#SuroboyoWani bukan lagi sekadar tagar atau slogan belaka. Asap dan api tak menyurutkan nyali untuk bahu-membahu menolong sesama.

Pagi ini, ketika bom meledak, saya berada tak jauh dari Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Sawahan. Gereja saya letaknya berseberangan dengan GPPS, kurang dari 300 meter jaraknya.

Saya sedang berada di mimbar, baru saja selesai membacakan ayat Alkitab, ketika kami semua mendengar ledakan yang cukup keras dan merasakan getaran susulan. Tak butuh waktu banyak, kami membubarkan diri atas anjuran polisi yang berjaga di depan gereja kami. Jalan Arjuno diblokir dan diamankan. Kepulan asap masih terlihat, sisa-sisa getaran meruntuhkan sebagian kecil dari gedung gereja, beberapa umat tertahan di gereja, tak bisa bergerak pulang.

Di situasi yang begitu mencekam, saya mendengar dan melihat nyali arek-arek Suroboyo. #SuroboyoWani bukan lagi sekadar tagar atau slogan belaka. Asap dan api tak menyurutkan nyali untuk bahu-membahu menolong sesama.



Wani, bukan Kepo

Adik saya melintas tepat di seberang GPPS ketika ledakan terjadi. Ia luput dari celaka. Keterkejutan membuatnya menghentikan motor dan ia masih berusaha menenangkan diri. Melihat api membakar gedung gereja, ia juga melihat belas kasih yang membakar orang-orang, tanpa peduli batasan ras dan agama, untuk bersama-sama melakukan pertolongan bagi yang membutuhkan.

Ia ikut serta dalam kerumunan, bukan sekedar kepo dan ingin tahu saja. Pagi tadi, ia mengalami nyali arek Suroboyo yang tak segan menolong yang membutuhkan.

Baca Juga: Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini



Wani, tapi Kasih

Melintasi jalan dalam perjalanan pulang, saya melihat seorang pemuda membawa sekantong makanan untuk polisi yang berjaga. Kantor PMI diserbu ratusan orang yang rela menyumbangkan darah sebagai dukungan nyata bagi korban yang menbutuhkan. Di ruang chat teman kuliah seangkatan, saya membaca kata-kata yang mewakili empati yang begitu besar.

Kami berduka, karena kota kami dilukai. Akan tetapi, duka itu tak mampu mengalahkan solidaritas dan kecintaan kami akan kota ini dan kepada saudara kami.

Ledakan yang bertujuan meluluhlantakkan, malah menyulut kecintaan yang tak terbendung dalam sanubari arek-arek Suroboyo.

"... kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan." -St. John



Wani, kami satu!

Surabaya strikes back! Dalam kemarahan dan kedukaan, Surabaya serempak menyerang lewat segala lini yang mungkin. Di radio, seruan belasungkawa dan dukungan terus digaungkan. Media sosial didominasi oleh seruan untuk bersatu dan untuk tidak takut.

Al-Fatihah didengungkan lewat corong masjid di berbagai lokasi. Doa dinaikkan di berbagai gereja. Walaupun berbagai kebaktian harus dibatalkan karena alasan keamanan, doa melampaui batasan dinding gereja. Berbagai pemuka agama memimpin doa bagi kota tercinta.

Ledakan itu sudah menghancurkan. Tetapi pecahan-pecahan hati ini kembali direkatkan dan berdetak bersama: untuk cinta pada kota dan negara ini.

#SuroboyoWani #KamiTidakTakut


[Photo credit: merahputih.com]


"Kita harus bersatu melawan terorisme."
- Presiden Joko Widodo




Baca Juga:

Teror Bom di Surabaya: Bagaimana Semestinya Kita Menyikapinya?

Ternyata Kita Semua adalah Teroris! Inilah 3 Rahasia yang Terungkap dalam Kisah Teror Sarinah





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bukan Sekadar Tagar, Ini Jiwa Kami yang Bersama Bergetar: #SuroboyoWani". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar