Berubah demi Suami dan Tak Sulit Kok, Satu Hal Ini Kuncinya dari Pengalaman Saya

Marriage

ianslive.in

6.1K
Kunci dari penyelesaian masalah dalam rumah-tangga bukanlah menemukan siapa yang salah dan siapa yang benar,

Tahun ini usia pernikahan kami memasuki 8 tahun. Masih sangat muda mungkin, tetapi pengalaman sebagai istri adalah pengalaman yang indah menurut saya.

Sebelum menikah, kami telah berpacaran selama 6 tahun lamanya. Namun, sampai hari ini masih selalu saja ada hal-hal baru yang saya pelajari dari suami saya.

Pelajaran utama buat saya adalah pelajaran menundukkan diri kepada suami.


Ada banyak faktor yang membuat saya awalnya sangat sulit menundukkan diri. Lebih sering saya “menanduk” suami saya. Saya menyadari betul akan hal itu. Perbedaan temperamen adalah salah satu penyebabnya. Saya terbiasa dengan pola hidup yang serba cepat dalam memutuskan, sementara suami saya membutuhkan waktu untuk membuat banyak pertimbangan sebelum memutuskan. Awal-awal pernikahan saya sering membuat keputusan tanpa terlebih dahulu bertanya kepada suami. Senjatanya, kalau suami tidak setuju ya saya mengamuk.


Perbedaan suku dan latar belakang keluarga adalah penyebab lainnya.


Saya berasal dari Kupang dan suami saya Jawa tulen. Dari nada bicara saja kami sudah berbeda, apalagi gaya bicara. Seringkali suami saya merasa saya sedang mengamuk ketika saya berbicara dengan nada suara yang biasa saja menurut saya.

Baca juga: 10 Tahun Menikah Tanpa Kehadiran Anak, 3 Hal Inilah yang Membawa Kebahagiaan dalam Pernikahan Kami

Hal lainnya adalah karena saya adalah seorang hamba Tuhan di gereja yang dilatih untuk memimpin jemaat sehingga suami pun kadang hendak saya pimpin.

Hal-hal inilah yang seringkali menjadi pemicu perdebatan dan konflik di dalam rumah tangga kami. Awalnya, suami saya masih bersabar dan mengalah. Hal itu membuat saya merasa berada di atas angin untuk semakin dominan. Tetapi suatu ketika, suami sudah tidak sabar lagi dan dengan tegas dia berbicara kepada saya.

scarrymommy

Pernyataannya menjadi titik balik kesadaran saya. Dia tidak menyinggung sedikit pun tentang panggilan saya sebagai hamba Tuhan. Dia juga tidak memandang negatif kepada saya. Tetapi dia berusaha menjadi suami yang lebih baik. Daripada mengubah saya, dia mulai dengan mengubah dirinya sendiri. Dia berusaha keras menelandankan diri sebagai seorang suami, papa dan pemimpin bagi saya serta bagi anak kami secara khusus dalam hal rohani.

Baca juga: Sudah Siap Menikah? Uji Diri dan Pasangan dengan 3 Pertanyaan Ini

Saya terhenyak dengan perubahannya. Dulu dia memilih jalan aman, daripada berdebat lebih baik mengalah. Sekarang, dia mengatakan pandangannya dan mengajak saya berdiskusi. Dia menghargai jika pendapat saya memang benar, dan tanpa malu atau gengsi menyatakannya. Itu menunjukkan bahwa dia suami yang hebat.

Perubahan suami menyadarkan saya. Melihat usahanya berubah, saya pun berusaha lebih keras untuk berubah. Melihat usahanya menjadi suami yang baik, saya pun bertekad memainkan peran saya sebagai penolongnya dan meminta maaf karena selama ini lebih sering “merongrong”nya.

soompi

Saya belajar menghargai keputusannya dan belajar menyampaikan pendapat tanpa marah jika sekiranya dia punya pendapat yang berbeda.

Saya belajar menghargai usahanya untuk memimpin kami secara rohani (memimpin kami berdoa dan mengajarkan kebenaran) di rumah kepada saya dan anak saya.

Saya berterimakasih kepadanya ketika dia dengan sukarela membantu saya menyelesaikan pekerjaan rumah dan menahan diri untuk tidak mencela sama sekali seandainyapun tidak sesuai dengan standar saya. Pikir saya, "Dia mau membantu saja sudah lebih dari cukup, mengapa harus menuntut lebih?"

Hubungan kami sampai hari ini belum sempurna. Konflik terkadang masih ada. Tapi kami selalu punya waktu jeda untuk pada akhirnya mendiskusikan dan menyelesaikan masalah di antara kami.

Kami mengutarakan bagaimana pandangan kami masing-masing dan mencoba melihat dari sudut pandang pasangan. Hal ini menolong kami lebih cepat dan tepat dalam menangani masalah-masalah yang terjadi di dalam rumah tangga kami.

Kunci dari penyelesaian masalah dalam rumah tangga menurut saya bukanlah menemukan siapa yang salah dan siapa yang benar, tetapi mengusahakan secara maksimal agar kita menjadi pasangan yang terbaik tanpa banyak keluhan seandainya pasangan kita belum berubah.

Perubahan itu menular, kok. Saat suami saya berubah menjadi lebih baik maka dia menularkan dukungan kepada saya juga agar saya menjadi penolong yang lebih baik. Ini benar-benar sebuah anugerah!


Di bawah ini adalah tulisan-tulisan menarik lainnya:

Merasa Gagal karena Pernikahan Bubar? Tak Perlu, Begini Caranya

Kisah Meta: Ketika Pernikahan Kedua Tak Seindah Angan

Kenali Tiga Penyebab Hancurnya Pernikahan yang Sering Terjadi Tanpa Disadari



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Berubah demi Suami dan Tak Sulit Kok, Satu Hal Ini Kuncinya dari Pengalaman Saya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yvonny Nainupu | @abigaildivani

Seorang Pelayan Tuhan, Istri yang bersyukur dan Mama yang berbahagia

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar