Belajar, karena dalam Soal Memberi Penghargaan Ternyata Kita Tidak Pintar

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Bruno Nascimento]

1.1K
Kenyataan membuka mata, betapa kita tidak pintar dalam memberi dan menerima penghargaan.

Pada tanggal 11 Februari 2018 lalu Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, meraih Penghargaan Menteri Terbaik di Dunia [Best Minister in the World Award] di World Government Summit.

[Photo credit: m.gulfnews.com]

World Government Summit adalah sebuah pertemuan tahunan yang diadakan di Dubai dengan tujuan untuk mengumpulkan para pemimpin yang melayani dalam dunia pemerintahan untuk melakukan diskusi bersama demi masa depan dunia yang lebih baik. Berfungsi sebagai pusat pertukaran informasi antara orang-orang pemerintahan, para pemimpin dari sektor swasta, pembuat peraturan, dan para pemikir menyangkut tantangan hari esok, summit ini dihadiri oleh lebih dari 150 negara dengan lebih dari 4000 peserta.

Penghargaan Menteri Terbaik sendiri merupakan penghargaan tingkat dunia tahunan yang diberikan kepada satu orang menteri dari semua negara di dunia dan dimulai pada tahun 2016. Adapun proses seleksi dan penentuan pemenangnya dilakukan oleh lembaga independen Ernst & Young.

Sebagai penerima pertama dari benua Asia, penghargaan yang diterima Ibu Sri Mulyani ini tentu membawa kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari keluarga dengan anggota tidak kurang dari 257 juta orang, kita patut berbangga dan ikut merayakan diterimanya penghargaan bergengsi ini. Penghargaan Menteri Terbaik mengingatkan kita bahwa dunia juga mengapresiasi kinerja Kementerian Keuangan yang telah bekerja keras mengelola keuangan negara dengan integritas dan komitmen tinggi untuk menciptakan kesejahteraan rakyat yang merata dan berkeadilan.



Bicara tentang penghargaan dan apresiasi,

saat ini saya ingin mengajak kita melihat dari kacamata kita sebagai orang tua, sebagai teman, atau sebagai rekan kerja. Secara khusus, saya ingin mengajak kita memikirkan tentang manfaat yang akan timbul ketika kita memberikan penghargaan dan apresiasi kepada orang lain.


Mengapa hal ini penting?


Kebanyakan kita hidup dan bertumbuh dalam budaya yang lebih mengutamakan kesopanan. Kita akan dengan mudah meminta maaf dan juga dengan mudah mengambil sikap 'merendah' ketika dipuji.

Jika kepada kita ditanyakan, kapan terakhir kali mendapat penghargaan atas sesuatu yang telah dilakukan, maka kebanyakan kita akan melihat ke belakang. Jauh ke belakang. Ke masa ketika lagu Cerita Cinta-nya Kahitna sedang bergelora di dada. Ke masa-masa pembagian rapor di sekolah.

Akan tetapi, sayangnya, masa-masa tersebut bukanlah masa yang indah.

Selain dari ketiga anak yang menjadi juara 1, 2, dan 3, kita semua cenderung merasa kecewa dengan hasil kerja kita. Kebanyakan 'penghargaan' yang kita terima adalah kalimat-kalimat bernada kritik dan disampaikan dengan negatif. Baik itu dari keluarga maupun dari guru-guru.

Adapun kalimat-kalimat pujian yang terucap sering kali disertai tambahan,

"Seandainya dia lebih rajin lagi, maka ..."

"Sedikit lagi, maka ia bisa juara."

"Hanya tolong perhatikan bagian ini ..."

yang menjadikan pujian itu terasa tidak tulus diberikan.

Saya sempat berpikir, apakah itu alasan mengapa saat ini banyak sekolah mulai menghilangkan sistem ranking sebagai dasar penilaian prestasi belajar?

Kenyataan itu membuka mata,
kita tidak pintar dalam memberi dan menerima penghargaan.

Budaya yang sudah begitu kental telah menutup mata kita terhadap keuntungan yang bisa muncul ketika kita memberikan penghargaan dan apresiasi.

Menggunakan momentum penghargaan yang diterima oleh Ibu Sri Mulyani, saya ingin memperlihatkan kepada kita 3 manfaat yang bisa didapatkan oleh sebuah institusi yang memberikan penghargaan dan apresiasi kepada anggota-anggotanya. Baik sebagai keluarga, perusahaan, atau masyarakat, kita semua bisa menarik keuntungan dari budaya menghargai tanpa embel-embel ini.

Ada 3 keuntungan yang bisa didapatkan dari budaya menghargai ini:



1. Memberi Energi Baru

Salah satu argumen yang sering kita dengar ketika seseorang menolak untuk menunjukkan penghargaan kepada orang lain - anak atau bawahan terutama - adalah karena pujian akan membuat mereka besar kepala dan menjadi malas.

Benarkah demikian?

Menurut saya argumen tersebut dibangun di atas dasar yang sangat rapuh. Satu-satunya kondisi yang terpikirkan yang membuat argumen itu bisa menjadi kenyataan adalah ketika kita memberikan pujian dan penghargaan kepada orang yang tidak pantas menerimanya. Mereka yang pada dasarnya sudah malas dan tidak bertanggung jawab.

Akan tetapi, jika pujian itu diberikan seturut dengan kerja keras dan usaha yang telah dilakukan [walau terkadang tidak membuahkan hasil yang memuaskan], maka efeknya adalah positif.

[Photo credit: RibutRukun dari instagram @smindrawati]
Mereka yang memang layak menerima apresiasi tidak akan menganggap pujian dan penghargaan itu sebagai bukti bahwa mereka sudah sempurna. Sebaliknya, pujian dan penghargaan itu akan memacu mereka untuk bekerja lebih keras lagi.

Saya percaya, penghargaan yang diberikan kepada Ibu Sri Mulyani akan memacu beliau dan 78.164 orang yang menjadi bagian dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk bekerja dengan lebih baik lagi.



2. Membuat Hidup Berarti

Seorang penulis bernama Evan Moffic mengingatkan kita bahwa satu-satunya yang berharga di dunia ini adalah waktu.

Kita semua bisa membuat lebih banyak uang dan mendapatkan lebih banyak barang, tetapi kita tidak bisa membuat lebih banyak waktu.

Jadi, bagaimanakah kita membuat waktu itu berharga?

[Photo credit: metrotvnews]

Salah satunya adalah lewat perayaan.

Moffic menuturkan,

ketika kita melakukan perayaan, kita mengambil waktu yang biasa-biasa saja dan mengubahnya menjadi luar biasa. Perayaan membuat hidup menjadi berarti. Perayaan memperkaya hidup.

Bukankah hari kita menjadi sedikit lebih cerah ketika mendengar berita kemenangan atlet Indonesia di ajang pertandingan internasional? Sama rasanya sewaktu mengetahui perihal penghargaan yang diterima Ibu Sri Mulyani, bukan?

Sobatku, kita memiliki kemampuan untuk membuat hidup anak-anak kita, hidup rekan-rekan kita, menjadi lebih indah dengan 'merayakan' usaha dan kerja keras yang sudah mereka tunjukkan. Dan bagian yang paling menarik adalah, perayaan itu tidak perlu menggunakan dana yang besar.



3. Mendorong Terjadinya Pengulangan

Ketika menghargai upaya terbaik orang lain telah menjadi sebuah budaya, maka kebiasaan yang sama juga akan terbentuk dalam diri anak-anak dan karyawan kita. Mereka juga akan mulai memberikan penghargaan kepada orang-orang di sekitar mereka.

Bisakah kita bayangkan riak dari kebiasaan satu ini? Bisakah kita bayangkan sebuah lingkungan di mana anggotanya saling menghargai usaha serta kerja keras satu dan yang lain?

Mungkinkah bahwa dalam lingkungan di mana dukungan semacam itu terus diberikan, maka hasil yang keluar juga akan menjadi lebih baik?

Di negara kita sendiri, daerah-daerah yang pernah memenangkan penghargaan sering kali memenangkan penghargaan kembali. Mengapa? Karena penghargaan akan membuat kebiasaan baru menjadi budaya. Budaya yang sehat ini akan memicu kerja keras yang bisa mendatangkan penghargaan baru di kemudian hari.

[Photo credit: RibutRukun dari GNFI]


Soal perayaan, penghargaan, dan apresiasi adalah sesuatu yang baru buat saya. Saya menyadari, sering kali saya cenderung bersikap seperti salah seorang pemimpin negara ini, memilih untuk mempermasalahkan kekurangan Sri Mulyani daripada memberikan ucapan selamat dari hati. Saya masih perlu banyak belajar.

Bagaimana dengan Anda?

Bila Anda sudah melakukan semuanya, selamat! Teruslah membangun kebiasaan ini. Akan tetapi, bila Anda masih meragukan konsep penghargaan yang mungkin terasa asing ini, maukah Anda memikirkan kembali apa yang Anda rasakan terakhir kalinya seseorang memberikan penghargaan dan apresiasi kepada Anda?




Baca Juga:

Pujian: Tulus, Basa-basi atau Akal Bulus? Inilah Cara Membedakannya

Memuji Anak Bukanlah Cara Tepat Membangun Percaya Dirinya. Bukan Pujian, Melainkan Satu Ini, Pembangun Percaya Diri Anak Sejati






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Belajar, karena dalam Soal Memberi Penghargaan Ternyata Kita Tidak Pintar". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar