Jangan Ada Sianida di antara Kita: 3 Cara Sehat Mengelola Persahabatan

Love & Friendship

[Image: dashingdate.com]

4.8K
Perasaan menyayangi yang sangat kuat punya potensi untuk berbalik menjadi rasa benci yang kekuatannya sama dengan rasa menyayangi yang sebelumnya dimiliki.

Tidak terbayang rasanya jika seorang sahabat yang selama ini begitu dekat dalam hidup kita tiba-tiba berbalik menjadi seseorang yang sangat jahat, yang bahkan ingin menghabisi nyawa kita, sahabatnya. Itulah mungkin yang ada di benak seluruh masyarakat Indonesia saat kasus Mirna mulai menjadi pembicaraan publik dan menjadi topik berkala yang disiarkan di semua televisi di Indonesia. Publik seakan digiring kepada dugaan bahwa pelaku pembunuhan itu adalah Jessica, sahabat korban, apalagi kemudian akhirnya Jessica ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

Kalau kita ikuti kasus ini dari awal, maka kita tahu bahwa persahabatan Mirna dengan Jessica sudah terjalin lama, yaitu sejak mereka berkuliah di universitas yang sama. Katanya mereka punya hobi yang sama, sering hang-out bersama, dan kelihatannya persahabatan mereka masih tetap terjalin bahkan setelah mereka selesai kuliah. Waktu yang cukup lama untuk menguji sebuah hubungan persahabatan. Pastinya mereka berdua sudah melewati begitu banyak hal bersama, baik suka maupun duka.

Apakah yang terjadi sehingga akhirnya, apabila benar, seseorang sampai bisa membunuh sahabatnya sendiri? Pasti ada perasaan marah, kecewa, atau sakit hati yang pada akhirnya (jika benar terbukti) mengantar kepada rencana pembunuhan ini. Sesuatu yang mungkin kita tidak akan pernah bisa bayangkan. Seseorang yang sebelumnya begitu dekat dengan kita, sekarang menjadi seseorang yang ingin melenyapkan kita dari muka bumi.

Begitu banyak peristiwa pembunuhan dilakukan oleh orang-orang yang dekat dalam kehidupan korban. Mengapa bisa demikian? Tentunya mengerikan sekali jika justru orang-orang yang katanya sayang dan perhatian dengan kita pada suatu saat bisa berbalik menjadi sedemikian jahat dan bencinya kepada kita.

Kita semua adalah manusia yang punya hati dan rasa. Selama kita masih sehat secara mental, kita tidak mungkin bisa secara tiba-tiba merasakan sesuatu. Harus ada stimulus yang timbul yang akhirnya menggerakkan munculnya perasaan tertentu. Entah itu perasaan senang, sedih, kecewa, marah, dan lain sebagainya. Stimulus yang saya maksudkan ini bisa sangat beragam, yang pasti adalah suatu kejadian atau peristiwa yang kita dengar, lihat atau pikirkan, semua itu bisa jadi hanya merupakan persepsi kita saja atau memang realita yang kita hadapi sesungguhnya. Perasaan yang kita miliki juga bisa muncul sekali lalu hilang, tapi juga bisa berakumulasi dan semakin bertambah kekuatannya.

Kembali ke kasus pembunuhan Mirna, jika benar Jessica adalah pembunuh Mirna, maka perasaan apa yang Jessica miliki terhadap Mirna sehingga ia sampai sebegitu tega dan kejamnya membunuh sahabatnya sendiri? Bencikah atau dendamkah? Apakah sedemikian mudahnya perasaan benci atau dendam itu muncul, berbalik 180 derajat dengan perasaan care dan sayang yang pasti sebelumnya ada di dalam sebuah persahabatan?


[Image: www.female.com]

Sejak kasus ini muncul, mungkin pernah terbersit dalam pikiran kita apakah sahabat-sahabat kita sekarang suatu hari juga bisa berbalik membenci kita dan membunuh kita? Jangan-jangan kita tidak menyadarinya, bahwa sebenarnya saat ini sahabat kita sudah marah dengan kita dan berakumulasi menjadi dendam. Jangan-jangan kita pernah tanpa sengaja menyakiti hatinya tanpa tahu betapa terlukanya sahabat kita. Jangan-jangan begini, dan jangan-jangan begitu. Kita mungkin jadi sedikit paranoid, mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Menurut pendapat saya, kekhawatiran ini wajar-wajar saja terjadi, karena memang perasaan menyayangi yang sangat kuat punya potensi untuk berbalik menjadi rasa benci yang kekuatannya sama dengan rasa menyayangi yang sebelumnya dimiliki. Ada pepatah mengatakan “Do not expect too much from people, the less you expect, the less disappointed you when they let you down”. Sebaliknya, makin besar harapan kita, maka kemungkinan kecewa pun akan semakin besar ketika harapan itu tak terwujud.

Bukan berarti kita tidak boleh berharap sesuatu dari sahabat kita. Karena tanpa kita sadari semakin dalam dan kuat hubungan suatu relasi itu, maka semakin besar harapan yang muncul dari masing-masing pihak.

Dalam semua relasi, termasuk dalam relasi persahabatan, harapan-harapan yang muncul itu harus ‘dikelola’, tidak bisa dibiarkan berkembang seadanya atau sejadinya. It’s all about managing the expectations.

Dari pengalaman dan pengamatan saya selama ini, ada 3 sikap yang harus kita miliki dalam persahabatan untuk berhasil mengelola harapan kita dan sahabat kita, yaitu :


1. Saling Terbuka dalam Menyampaikan Harapan

[Image: flickr.com]

Dalam relasi yang sehat, kedua belah pihak pasti berusaha saling menguntungkan, win-win relationship, mutual relationship, atau apapun itu namanya. Dalam semua bentuk relasi, tidak bisa dihindari munculnya harapan-harapan dari masing-masing pihak terhadap relasinya itu. Dari harapan yang bentuknya sederhana, misalnya menepati janji, sampai harapan yang membutuhkan komitmen tinggi, misalnya menyimpan rahasia.

Kita perlu jujur pada diri kita sendiri dan pada sahabat kita, apa yang kita harapkan darinya. Tidak cukup kita tahu, tapi kita harus menyampaikannya pada sahabat kita. Tentunya tidak perlu sekaligus dalam sebuah daftar yang panjang, tapi setiap kali ada hal-hal yang kita harapkan darinya, segeralah sampaikan itu dengan tulus.

Harapan yang kita miliki haruslah harapan yang masuk akal dan sesuai dengan keberadaan sahabat kita. Jangan membuat sahabat kita mengalami kesulitan untuk memenuhi harapan kita dan akhirnya tidak berhasil memenuhinya. Karena yang akan menjadi kecewa sebenarnya bukan hanya kita, tapi juga sahabat kita karena tidak berhasil menyenangkan sahabatnya.

Kalau ada harapan yang diinginkan sahabat kita namun kita tahu tidak bisa kita penuhi karena di luar batas kemampuan kita, maka sampaikan itu sedini mungkin sehingga kita tidak memberikan harapan kosong pada sahabat kita. Jika perlu berdebat, berdebatlah dengan sehat, sampai akhirnya disepakati harapan yang kita dapat penuhi.

Tanyakan dan dengarkan juga harapan sahabat kita terhadap kita. Jangan egois hanya memikirkan apa yang kita harapkan. Kalau hanya salah satu pihak yang dipenuhi harapannya, suatu saat tetap akan timbul masalah. Semua orang dalam persahabatan itu harus menyampaikan harapannya satu sama lain. Ini kelihatannya sederhana, tapi believe me, it’s all worth it!


2. Melakukan Check and Recheck untuk Terus Menyelaraskan Harapan

[Image: www,simon-und-partner.de]

Tidak ada seorang pun di antara kita yang menginginkan persahabatannya suatu hari akan berakhir. Semua orang berharap persahabatannya langgeng, forever and ever. Kurun waktu yang panjang dalam persahabatan seharusnya akan membuat kita semakin tahu apa yang menjadi harapan sahabat kita dan sahabat kita pun semakin tahu apa yang menjadi harapan kita. Namun inipun sebenarnya adalah harapan kita. Kita BERHARAP sahabat kita seharusnya tahu apa yang menjadi harapan kita.

Inilah mengapa penting sekali secara berkala kita melakukan check and recheck dengan menanyakan ulang apa yang diharapkan sahabat kita dari kita dan juga menyampaikan kembali apa yang kita harapkan dari sahabat kita. Tentunya tidak menanyakannya seperti seorang anak kecil menanyakan pertanyaan yang sama beberapa kali dengan kalimat tanya yang sama. Karena itu pasti menjengkelkan dan terkesan kita tidak mengerti apa yang diharapkan sahabat kita.

Berhati-hatilah dengan apa yang menjadi pendapat atau perkiraan kita tentang harapan dari sahabat kita. Jangan menggunakan pendapat atau perkiraan kita saja. Sangatlah penting untuk mengonfirmasikan ulang kepada sahabat kita.

Dari pengalaman saya selama ini, semua sahabat saya selalu senang jika saya memastikan ulang harapannya kepada saya. Artinya kita care kepadanya dan kita sedang berusaha memenuhi harapannya.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah melakukan check and recheck terhadap pemenuhan harapan kita. Sudahkan harapan kita pada sahabat kita terpenuhi? Kita perlu menyampaikan secara terbuka apabila kita belum mendapatkan apa yang kita harapkan. Jangan hanya disimpan di dalam hati dengan harapan sahabat kita ‘tahu diri’ atau ‘sadar sendiri’. Jika belum terpenuhi, sampaikan saja secara apa adanya, dengan jujur dan tulus. Jangan sampai kita tidak menyampaikannya karena ‘kuatir menyinggung perasaannya’. Be open!

Kita juga perlu secara berkala menanyakan apakah kita sudah memenuhi harapan sahabat kita. Tidak semua sahabat dengan jujur dan lugas dapat menyampaikannya pada kita. Kitalah yang perlu menanyakannya lebih dulu.


3. Positif dalam Menyikapi Harapan yang Tidak Terpenuhi

[Image: youtube.com]

Tidak selamanya persahabatan akan berjalan dengan mulus, pasti ada saat-saat di mana kita tidak dapat memenuhi harapan dari sahabat kita, meskipun kita sudah berusaha mengelolanya sedemikian rupa. Harapan yang berbeda dengan kenyataan adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan.

Jika kita menghadapi kenyataan tidak dapat memenuhi harapan dari sahabat kita, kita perlu mengambil sikap berikut :

  • Mintalah Maaf

Sikap yang pertama dan utama adalah minta maaf kepada sahabat kita karena kita tidak dapat memenuhi harapannya, karena kita telah membuatnya kecewa, sakit hati atau perasaan-perasaan negatif lainnya.

  • Jelaskan Alasannya

Bukan mencari pembenaran, tapi ceritakanlah apa adanya kendala dan kesulitan yang kita hadapi sehingga kita tidak dapat memenuhi harapannya. Ceritakan juga usaha apa yang telah kita lakukan yang akhirnya tetap tidak membawa hasil sesuai dengan yang diharapkannya.

  • Tuntaskan Pembicaraan

Selesaikan pembicaraan mengenai masalah tersebut hingga tuntas. Jangan meninggalkan rasa kecewa di dalam diri kita atau sahabat kita. Jika sahabat kita sedih, hiburlah. Jika ia marah, biarkan ia menyampaikannya pada kita dengan caranya. Selama kemarahannya masih wajar, tentunya kita bisa memakluminya, bukan? Jangan biarkan matahari terbenam sebelum kemarahan reda. Berbaikanlah setelah semuanya tenang.

  • Perbaharuilah Komitmen

Tidak ada manusia yang sempurna. Kita dan sahabat kita adalah manusia yang juga punya kekurangan dan kelemahan. Selama kita ingin tetap mempertahankan persahabatan, pasti selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya. Berusahalah menjadi sahabat yang lebih baik baginya. Yakinkanlah itu padanya.


Saya yakin, setiap saat dan setiap hari kita akan terus semakin dapat menyelaraskan apa yang menjadi harapan sahabat kita. Demikian juga dengan sahabat kita. Sahabat kita juga akan merefleksikan apa yang ia lihat dari diri kita, seperti apa kita memperlakukannya sebagai sahabat. Semakin hari kita juga akan semakin mengetahui dan mengerti harapan-harapan sahabat kita, demikian pula sebaliknya.

Tidak perlu khawatir apalagi sampai menjadi paranoid, khawatir bahwa orang-orang yang dekat dengan kita akan melukai atau menyakiti kita, apalagi sampai membunuh kita. Sebuah kalimat bijak mengatakan, "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran". Jadi percayalah, sahabat-sahabat kita menyayangi dan care kepada kita, sama seperti kita terhadap mereka. Kita hanya tinggal me-manage expectations yang ada di antara kita dan sahabat-sahabat kita. So, don’t worry and enjoy your friendship!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Ada Sianida di antara Kita: 3 Cara Sehat Mengelola Persahabatan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Herlina Permatasari | @herlinapermatasari

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar