Bagi Kamu yang Berusia 20-30 Tahun dan Belum Punya Pasangan, Inilah 7 Alasan untuk Tetap Single di 2016

Singleness & Dating

It's okay being single. Jangan biarkan seorang pun membuat anda berpikir sebaliknya!

70.2K
Apa betul saya ini termasuk ‘nggak laku’? Apa yang salah dengan diri saya? Bagaimana bila saya memang ditakdirkan untuk menjadi single seumur hidup? Bila anda pernah (atau bahkan sering) mempertanyakan hal-hal ini dalam hati, maka artikel ini sangat tepat

Let’s admit it. Being single is not easy. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Saya tahu persis bagaimana rasanya menjalani kehidupan mid-20s tanpa pasangan.. Setiap kali saya menemani orangtua menghadiri acara-acara tertentu di mana mereka berjumpa dengan kenalan mereka, hampir pasti pertanyaan sejenis ini ditanyakan kepada orangtua saya, ‘Pak, kapan tambah cucu perempuan?’ Dan hampir pasti pula orangtua saya melirik ke arah saya dan berkata, ‘Kalau cucu perempuan bagian dia’, sambil tersenyum penuh makna. Mendengar jawaban demikian dari orangtua, biasanya saya hanya tersenyum kecil lalu pura-pura sibuk dengan HP. Begitu juga dalam pergaulan. Teman-teman yang dulu sering diajak nongkrong bareng malam mingguan, kini sibuk dengan pasangan masing-masing. Timeline Facebook penuh dengan undangan pernikahan, foto couple, bahkan tidak jarang terpampang foto teman seperjuangan sesama jomblo yang kini sudah menggendong anak kedua. Mungkin euforia selepas kuliah dan awal-awal memasuki dunia kerja pada waktu itu begitu membanjiri kehidupan saya, hingga tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saya sudah menginjak usia 25, kemudian 26 … 27 …. 28 dan saya pun tersadar, the clock is ticking and I am definitely not getting any younger! Pada saat itulah muncul paranoia dan rasa panik menjadi jomblo.


To be fair, mungkin tidak semua orang mengalami hal yang sama. Beberapa teman saya tampak begitu enteng menjalani hari sebagai single person, walau tentu bisa jadi itu hanya tampak luar, di dalamnya, who knows? Dalam artikel ini saya ingin berbagi tentang apa yang saya dan cukup banyak orang rasakan dan alami. Kebutuhan untuk mengasihi dan dikasihi, ditambah dengan tekanan dari lingkungan, membuat saya cemas. Mengapa saya sulit mencari pacar? Mengapa teman-teman saya bisa, sedangkan saya tidak? Bagaimana bila pasangan hidup yang ditakdirkan Tuhan bagi saya sudah berlalu dan saya kehilangan kesempatan untuk bersamanya? Apa betul saya ini termasuk ‘nggak laku’? Apa yang salah dengan diri saya? Bagaimana bila saya memang ditakdirkan untuk menjadi single seumur hidup? Bila anda pernah (atau bahkan sering) mempertanyakan hal-hal ini dalam hati, maka artikel ini sangat tepat untuk anda baca dan renungkan.


Awalnya. saya berusaha keras untuk mencari pasangan. Mulai dari diet, berolahraga, berusaha tampil semodis dan semenarik mungkin, membaca buku-buku tentang relationship, sampai menghafalkan tips-tips untuk flirting dan picking up girls. Bahkan, saya pernah menekuni buku ‘The Game’ karya Neill Strauss (untuk Anda yang asing dengan buku ini, bayangkan saja The Playbook dari serial How I Met Your Mother) dan mempraktikkan petunjuk-petunjuk di dalam buku itu, hanya demi mencari pasangan. Yes, I’m THAT desperate. Tapi entah mengapa, seberapa keras pun saya mencoba, hasilnya nihil! Memang usaha saya sempat membuahkan beberapa kali kencan, namun tidak ada yang sampai pada komitmen. Akhirnya, saat menginjak akhir usia 29 tahun, saya menyerah. Untuk apa terus berusaha tanpa hasil? Dan sepertinya (entah ini fakta atau hanya perasaan semata), semakin banyak saya bergaul semakin sedikit kehadiran lawan jenis yang bisa dijadikan pilihan. Sungguh rasanya tidak mengenakkan dan tidak nyaman menjadi single di usia menjelang 30 tahun.


Tetapi, saat sekarang saya menoleh ke belakang, saya justru amat bersyukur karena saya menjadi seorang single di usia 20-30 tahun. Dan inilah 7 alasannya:



1. Banyak Waktu untuk Mengenal Siapa Diri Anda dan Apa yang Anda Inginkan

1. Banyak Waktu Untuk Mengenal Siapa Diri Anda Dan Apa Yang Anda Inginkan - (foter.com)
(foter.com)

Mungkin ini terdengar klise, tapi saya sudah membuktikannya. Menjadi single berarti makin banyak waktu untuk ‘me time’. Makin banyak waktu untuk merenungkan segala kesalahan di masa lalu dan mensyukuri segala kebaikan yang telah saya alami. Saat-saat sendiri mungkin memang menyesakkan, namun saat-saat itu juga menjadi momen yang baik untuk merefleksikan siapa diri saya dan apa yang saya inginkan. Bisa jadi seandainya saya sudah berpasangan, waktu-waktu untuk diri saya sendiri akan jauh berkurang. Kini saya bisa melihat, waktu yang dijalani dalam masa-masa single sama sekali bukanlah waktu yang terbuang, sebaliknya justru waktu yang amat berharga. Paling tidak untuk mengenal lebih dalam diri sendiri.



2. Mencoba Sesuatu yang Baru

2. Mencoba Sesuatu Yang Baru - (canva.com)
(canva.com)

Satu hal yang mungkin akan sulit dilakukan seseorang yang sedang dalam sebuah hubungan adalah: eksperimen. Tentu seseorang bisa bereksperimen mencoba makanan baru, atau bioskop baru bersama pasangan, tapi bukan eksperimen seperti itu yang saya maksudkan. Maksud saya adalah mencoba sesuatu yang out of the box dan membutuhkan kebebasan penuh anda sebagai seorang single. Menulis, misalnya. Ya, semua orang bisa menulis, tapi menjadi penulis yang baik bukan hal yang mudah. Apalagi bila kita memiliki profesi lain, ditambah lagi harus membagi waktu dengan pasangan, keluarga. Kebebasan saya sebagai seorang lajang lah yang bisa membuat saya dengan leluasa mengalokasikan waktu untuk membaca referensi dan menulis. Tentu akan berbeda bila saya memiliki pasangan. Alokasi waktu untuk bereksperimen dengan hal-hal baru pasti akan jauh lebih berkurang.


By the way, tiap-tiap orang pasti bisa bereksperimen sesuai dengan kebutuhan dan minat masing-masing. Ada yang menekuni fotografi, ada yang memuaskan diri dengan kuliner, ada yang memulai belajar alat musik dengan serius, ada juga yang memulai bisnis dari nol. Temukan apa yang cocok dengan diri anda. Saya sendiri menggunakan masa lajang untuk melakukan sebuah lompatan besar. Saya berhenti dari pekerjaan, mengambil S2 penuh waktu di bidang yang amat sangat jauh sekali berbeda dari latar belakang S1 saya.



3. Memperhatikan Anggota Keluarga

3. Memperhatikan Anggota Keluarga - (Me and nephew, koleksi pribadi)
(Me and nephew, koleksi pribadi)

Kakak perempuan saya menikah dengan lelaki Amerika. Mereka memiliki dua anak laki-laki yang tampan. Sebagai pasangan yang menjalani long distance marriage, kakak dan ipar saya secara bergantian saling mengunjungi. Kadang kakak saya yang tinggal di Amerika selama beberapa tahun, kadang ipar saya yang menetap di Indonesia selama musim dingin. Ipar saya memiliki sebuah usaha kecil yang tidak bisa ditinggalkan, inilah yang membuatnya tidak bisa menetap di Indonesia walaupun ingin. Ketika krisis ekonomi melanda Amerika, bisnis ipar saya pun terkena dampaknya. Akibatnya, kakak dan ipar saya tidak lagi leluasa untuk saling mengunjungi. Mereka harus sering lama terpisah dan kakak saya harus merawat kedua anaknya sendirian. Di sinilah saya, sekali lagi, bersyukur tetap single. Saya bisa membantu kakak saya merawat kedua anaknya sedari bayi. Latihan parenting, kata beberapa teman. Tidak hanya itu, saya pun bisa mencurahkan perhatian pada kedua orang tua yang telah memasuki usia lanjut. Melalui hal-hal kecil seperti ikut membantu membayar tagihan, kemandirian, kehadiran, kesediaan mendengarkan saat ortu berkeluh kesah, sedikit demi sedikit saya membayar kembali cinta kasih orangtua.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagi Kamu yang Berusia 20-30 Tahun dan Belum Punya Pasangan, Inilah 7 Alasan untuk Tetap Single di 2016". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yosua Agung | @yosuaagung

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Ardi Fadli | @ardifadli

Mantap pak. Salam kenal. Saya laki2 27 th. Saya Ardi dari Pasuruan. Barangkali ini jawaban kerisauan ini. Mungkin saya manfaatkan kesendirian ini dengan menghadiri pengajian sembari menunggu datangnya jodoh.