Anaknya Dicekik di Sekolah, Apa yang Dilakukan Sang Ibu Benar-benar Membuat Saya Terpana

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Daria Shevtsova]

8K
Betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Kalau tak ditangani dengan benar, api kecil bisa menjadi api besar. Kalau sudah hangus, apa lagi yang tersisa selain kerusakan?

Sebuah email masuk pagi-pagi sekali.

Seorang ibu mengadu pada saya. Putrinya dicekik seorang siswa lain saat jam makan di sekolah. Mereka masih berusia lima tahun dan keduanya ada di kelas saya.

Dengan sopan ibu itu meminta saya untuk bicara pada putrinya dan siswa lain yang mencekik putrinya,

"Could you please talk with my daughter about it?

And please tell that boy don't do that again?"



Sejujurnya saya agak kesulitan. Saya tidak melihat kejadian itu. Sepanjang penglihatan saya, mereka tampak baik-baik saja. Berinteraksi dan bercanda layaknya anak-anak lain.

Lebih sulit lagi ketika kedua anak kecil itu saya tanyai. Si gadis kecil tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mengangguk atau menggeleng kalau ditanya. Sementara pengganggunya ketawa-ketiwi cengegesan saat ditanya ini itu, jawaban yang diberikannya juga tidak nyambung sama sekali.

Akhirnya, dengan jujur pria kecil itu mengaku kalau dia menyentuh leher teman perempuannya. Baginya, ia hanya sedang bercanda, menggelitiki temannya yang manis. Mencekik bukanlah maksudnya, walau memang itulah yang dilakukannya. Saya mengajaknya bicara, memberikan pengertian bahwa apa yang dilakukannya membuat temannya tidak nyaman. Dengan rela hati ia meminta maaf.

Saya katakan pada si gadis kecil, lain kali kalau ada kejadian seperti ini dia harus berani mengatakannya pada saya.



Saat jam pulang sekolah tiba, ibu dari sang putri yang dicekik datang menjemput. Ia meminta putrinya menunjukkan kepadanya teman laki-laki yang mencekiknya. Ia menanyai bagaimana saya telah berbicara pada mereka berdua, mendengarkan pendapat saya, lalu meminta waktu untuk bicara dengan pria kecil yang tak tahu apa yang sudah diperbuatnya.

"Saya ingin dia belajar percaya diri untuk bicara dan membela diri," tutur sang ibu. "Di rumah dia begitu berani. Saya harap di luar dia juga demikian."

Sedikit pun ia tidak memarahi bocah laki-laki yang mencekik putrinya. Pertama-tama, ia bertanya apa benar anak itu mencekik putrinya. Setelah si bocah mengiyakan dengan anggukannya, sang ibu dengan tegas meminta putrinya bicara, "Tell him, 'I don't like it! Please don't do it again!'"


[Photo credit: Rochelle Brown]

"I don't like it,"
tiru putrinya dengan suara lebih pelan,
"Please don't do it again!"


Singkat cerita, ibu itu berhasil memberi pelajaran kepada putrinya untuk bicara dan membela dirinya sendiri. Sementara si bocah kecil belajar menerima bahwa perbuatannya ternyata tidak menyenangkan bagi orang lain. Ia meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Baca Juga: Keberanian Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan adalah Bekal Kehidupan yang Penting. Mari Tanam dan Tumbuhkan Itu pada Anak Sejak Dini!

Dari kejadian ini, ada 3 hal yang saya pelajari.



Pertama,

Orang tua mana pun pasti tidak terima kalau anaknya terluka. Namun, bukan berarti harus main hakim sendiri.

Wajar sekali kalau orang tua tidak terima, bahkan marah saat anaknya terluka, baik karena sengaja maupun tidak.

Bukankah kalau anak terluka, hati orang tua terluka lebih pedih?

Anak-anak mungkin akan dengan segera melupakan rasa sakit mereka. Tidak demikian halnya dengan orang tua.

Oleh karenanya, saya sangat menghargai sikap ibu tersebut. Ia tidak main hakim sendiri. Menghormati posisi saya sebagai guru wali kelas, ia menyerahkan kasus ini untuk saya tangani. Tindakannya patut diacungi jempol, mengingat orang tua lain bisa dengan brutal melabrak siapa saja yang menciderai anak mereka - tanpa mempedulikan guru atau pihak lain yang berwenang.

Bukan hanya itu, ia berusaha mencari tahu duduk perkaranya dengan jelas. Apakah itu kecelakaan atau bukan? Sengaja atau tidak? Bagaimana hal ini dilihat dari sudut pandang lainnya? Ia tidak mau salah berespons dan bertindak, apalagi sampai main hakim sendiri.

Baca Juga: Anak Terluka Akibat Kesalahannya, Saya Mengajarkannya 4 Hal Ini



Kedua,

Membela anak bukan berarti membalas dendam.

Hari masih gelap ketika ibu ini mengirimi saya email. Ia tak menunggu lama untuk membela putrinya. Di tengah kesibukannya bekerja, ia memilih datang ke sekolah untuk menolong putrinya. Ia berharap pencekik putrinya ditegur dan peristiwa itu ditindaklanjuti, tetapi sedikit pun ia tidak mengharapkan bocah ini dihukum atau mendapat perlakuan keras sebagai balasan atas apa yang terjadi pada putrinya.

Tindakannya justru menjadi sebuah teladan bagi guru muda seperti saya, juga putrinya sendiri,

bahwa membela diri bukan berarti harus membalas dendam dengan melakukan sesuatu yang jahat pada orang lain.



Ketiga,

Masalah anak adalah masalah anak. Mengapa harus menjadikannya masalah orang tua? Apalagi masalah masyarakat.

Betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Kalau tak ditangani dengan benar, api kecil bisa menjadi api besar. Kalau sudah hangus, apa lagi yang tersisa selain kerusakan?

Jika permasalahannya memang antara anak dan anak, maka penyelesaiannya pun sebaiknya fokus antara anak dan anak.

Orang tua maupun guru adalah orang dewasa yang diharapkan dapat membimbing anak-anak menyelesaikan konflik mereka.

Saya bersyukur, ibu yang putrinya dicekik itu punya kebesaran hati untuk melihat dan memahami hal ini. Dalam kasusnya, dia bisa memahami seorang anak lain yang telah melukai putrinya tanpa mengerti apa yang telah dilakukannya. Walaupun tetap, sebagai orang tua, hal itu tentu sangat tidak menyenangkan hatinya.

Baca Juga: Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal Ini!


Sekarang, apinya sudah padam. Tidak perlu ada yang terbakar.




Baca Juga:

Kasus Ayah Tendang Bocah: Membela Anak, Sejauh Mana? Keteladanan Apa yang Hendak Kita Ajarkan kepada Anak-Anak Kita?

Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka

Demi Masa Depan Anak Perempuan Kita: Perhatikan Hal-Hal Ini





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anaknya Dicekik di Sekolah, Apa yang Dilakukan Sang Ibu Benar-benar Membuat Saya Terpana". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Novi Kurniadi | @novikurniadi

A kindergarten teacher who loves to write and soon to be someone's wife

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar