Anak Saya Merasa Harus Menonton Avengers karena Semua Temannya Menontonnya. Berhadapan dengan Peer Pressure, Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?

Parenting

[Photo credit: Shutterstock]

9.2K
Terus terang, saya menyesal telah mengizinkan anak-anak menonton film ini.

Kelelahan semalam masih terasa hingga pagi ini. Bukan hobi saya nonton film aliran Marvel dan sejenisnya. Saya lebih menyukai film-film bergenre roman seperti Serendipity, Notting Hill atau film ringan untuk keluarga. Namun, semalam saya dan suami mendampingi anak-anak kami nonton bareng dengan teman-teman sekolah mereka.



'Peer pressure'

Akhir-akhir ini dua kata itu sering muncul di pikiran saya.

Sewaktu kuliah dulu, saya sudah sering membaca dua kata ini. Peer pressure, salah satu faktor yang memengaruhi seseorang untuk bertindak atau melakukan sesuatu yang sebetulnya tidak dikehendakinya. 'Tekanan' yang datang dari lingkungan sekitar, itulah peer pressure.

Sekarang, saya jadi sangat paham arti kedua kata ini. Betul, memang betul, sering kali kita melakukan hal-hal yang kekinian hanya karena terbawa arus. Dan ini bisa terjadi pada siapa saja serta untuk hal apa saja.

Saya dan suami selalu melakukan cek dan ricek terhadap berbagai media yang akan dikonsumsi anak-anak kami. Baik itu berupa game, buku, atau film. Untuk film, biasanya kami akan cek temanya terlebih dahulu, kemudian ulasan dan rating-nya. Apakah film tersebut mengandung pesan-pesan positif juga jadi bahan pertimbangan untuk menentukan, apakah sebuah film layak ditonton oleh anak-anak kami.

Sudah sejak seminggu lalu anak-anak menyampaikan keinginan mereka untuk nonton bareng [nobar] film Avengers: Infinity War bersama teman-teman sekolah mereka. Saya sebetulnya enggan memberi izin. Selain karena saya sendiri tidak menikmati film–film seperti itu, menurut saya, usia anak-anak saya belum cukup untuk menonton film tersebut. Dengan ratingnya 13+, sudah dapat saya duga akan banyak adegan kekerasan dan bunuh membunuh di sana. Belum lagi sound effect yang menggelegar serta cerita yang tidak masuk akal.

Meskipun saya sudah menjelaskan keberatan saya untuk memberi izin pada anak-anak, mereka memiliki berbagai alasan untuk memperjuangakan keinginan mereka.

“Mah, teman-teman Nicho udah pada nonton yang sebelum-sebelumnya. Cuma Nicho aja yang belum nonton,” begitu pembelaan si sulung yang didukung dengan rengekan si bungsu.

Hingga akhirnya ketika ada tawaran nobar di grup WA orang tua di sekolah anak-anak, saya dan suami memutuskan untuk bergabung agar kami dapat turut mendampingi anak-anak.

Sejak awal film diputar, adegan kekerasan sudah disuguhkan. Bentuk dan rupa tokoh-tokoh di film tersebut pun banyak yang tidak normal. Soundtrack dan special effects bervolume keras di sepanjang film membuat jantung saya tak kalah keras bekerja. Sesekali saya harus menghela nafas dalam-dalam, mencuri lebih banyak oksigen untuk mengaliri otak saya. Saya pikir, mungkin faktor usia membuat saya sangat tegang.

Sepanjang film diputar, saya terus memikirkan bagaimana respons si kecil yang duduk sederet bersama kakak dan teman-temannya. Terus terang, saya menyesal telah mengizinkan anak-anak menonton film ini.

"Tahun-tahun lalu saya masih mampu melarang mereka. Mengapa kali ini saya melembek?" sesal saya dalam hati. Ah, rupanya saya juga telah terkena faktor‘peer pressure’.

Nasi sudah menjadi bubur.



Apa yang bisa kita lakukan sebagai orang tua?

Setelah film selesai, saya menanyakan pendapat anak-anak mengenai film tersebut. Tentunya dengan harapan mereka tidak menyukainya dan tidak akan menonton lanjutannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka menyukainya dan berniat untuk menonton lanjutannya!

Semalaman saya tidak bisa tidur. Ada kegelisahan yang mengganjal di hati. Meski banyak nilai-nilai yang dapat kita petik dari film ini, seperti yang telah dikupas oleh Pak Xavier di artikel ini. Akan tetapi, yang terekam dalam benak anak-anak tentunya sebatas adegan-adegan yang mereka lihat di layar lebar.

Kembali saya diingatkan,

bahwa sebaik-baiknya kita melindungi anak kita dari pengaruh pergaulan, suatu hari mereka akan terpapar juga.

Jika demikian, apakah yang dapat kita lakukan sebagai orang tua?



1. Isilah anak-anak kita dengan menaburkan nilai-nilai yang positif sejak dini

Hal ini dapat dilakukan dengan membacakan cerita atau membaca buku serta menonton film yang sarat dengan pendidikan moral, agama, dan tata krama.

Lakukanlah dengan tidak jemu-jemu.

Kapan pun dan dimana pun, selama kita masih bersama mereka, prinsip-prinsip hidup yang baik itu tanamkanlah dengan kuat. Hingga kelak mereka tidak terhanyut dalam pergaulan yang sesat.



2. Selalu sediakan waktu untuk menjawab pertanyaan anak-anak dengan benar, sesuai dengan usia mereka.

Sewaktu anak saya berusia 3 tahun, dia berpikir bahwa saya hamil akibat makan terlalu banyak. Saya hanya tertawa geli ketika mendengarnya. Saya tidak berusaha menjelaskan yang sesungguhnya mengingat usianya masih sangat kecil untuk menerima penjelasan lebih lanjut saat itu.

Jangan pernah anggap enteng setiap pertanyaan anak kita.

Jika tidak mendapatkan jawaban yang benar dari orang tua, mereka bisa dengan mudah mencari dan mendapatkan jawaban dari teman-temannya atau dari media sosial.



3. Sertai larangan dengan penjelasan yang dapat dimengerti sesuai usia anak.

Setelah telanjur menonton Avengers, saya jelaskan kembali alasan mengapa sejak awal saya melarang mereka menontonnya. Saya katakan kepada mereka, "Mama tidak mau kalian meniru adegan di film itu karena itu semua tidak benar-benar terjadi." Juga, soal kekerasan, "Mama tidak mau kalian meniru adegan tersebut dan mempraktikkannya dengan teman-teman kalian."

Saya merasa perlu menjelaskan hal tersebut berulang-ulang karena saya pernah mendapati anak bungsu saya di usia 4 tahun mengikatkan jubah ala Superman di lehernya lalu terjun bebas dari meja belajar kakaknya. Syukurlah tidak ada yang terluka.



Kawan seperjuangan sesama orang tua,

mari berteguh hati melakukan bagian kita, sebelum dunia merebut masa depan anak-anak kita.




Baca Juga:

Membiarkan [bahkan Mengajak] Anak Menonton Film Horor? Ini 10 Bahayanya

Melatih Anak Menemukan Nilai Kehidupan Lewat Menonton, Ini Panduan yang Bisa Langsung Anda Gunakan

3 Alasan untuk TIDAK Mengajak Anak-Anak Menonton Cars 3





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Saya Merasa Harus Menonton Avengers karena Semua Temannya Menontonnya. Berhadapan dengan Peer Pressure, Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Peila Silvie | @peilasilvie

A wife to a humble man and a mom to 2 amazing boys who loves to write, read, cook, bake and sing.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar