Adakah yang Bisa Kita Syukuri dari Peristiwa Teror Bom Surabaya?

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Alex Holyoake]

1.8K
Mungkin pertanyaan di atas terkesan bodoh. Rasanya mustahil bisa melihat sesuatu yang indah dari kejadian ini.

Caroline Quinner menatap pilu ladang gandum milik suaminya. Tanaman gandum yang sedianya akan dipanen dan dijual itu lenyap dalam sekejap. Entah bagaimana nanti mereka mampu bertahan hidup. Hama belalang yang dahsyat telah menyapu ladang tersebut tanpa sisa. Hanya terdengar suara belalang mengunyah gandum, menyempurnakan kedukaan di hari itu.

Melihat jutaan belalang muncul, sekawanan ayam milik Caroline pun mulai menyerbu ladang tanpa rasa takut. Dengan gembira mereka mulai mematuki belalang tersebut dan mengunyahnya. Mereka berpesta pora sepuasnya. Melihat pemandangan tersebut, Caroline mencoba tersenyum dan berkata kepada kedua anak gadisnya, Mary dan Laura Ingalls:

"Lihatlah, sekarang kita tidak perlu membeli pakan untuk ayam lagi. Memang benar adanya. Di setiap kerugian dan musibah yang muncul, pasti terselip sebuah keuntungan."

Perkataan tersebut menjadi sebuah ucapan legendaris - setidaknya menurut saya - dalam buku cerita yang ditulis Laura Ingalls, Di Tepi Sungai Plum. Sudut pandang sang ibu memberikan pemahaman baru kepada Laura untuk terus bangkit dan tidak menangisi hidup.


Peristiwa bom Surabaya yang memilukan memang telah menyedot energi kegembiraan bangsa ini. Lini masa media daring dipenuhi ungkapan kesedihan dan keprihatinan terhadap peristiwa biadab ini. Sungguh sebuah respons yang wajar dan dapat dipahami, mengingat pihak-pihak tidak berdosa yang harus kehilangan anggota keluarga, bahkan kehilangan nyawa.

Pertanyaan ini kemudian muncul dalam benak saya,

adakah sesuatu yang bisa disyukuri dari peristiwa tersebut?

Mungkin pertanyaan di atas terkesan bodoh. Rasanya mustahil bisa melihat sesuatu yang indah dari kejadian ini. Namun setidaknya, ada 3 hal yang saya catat sebagai 'keindahan' yang muncul sebagai respons dari peristiwa teror bom di Surabaya:



1. Sekitar 600 Warga Surabaya Mendonorkan Darah secara Sukarela

Sumber berita dari Liputan 6 mengatakan bahwa antrian mengular terjadi di PMI di hari Minggu, 13 Mei 2018. Ratusan warga Surabaya berbondong-bondong menyerbu PMI untuk menjadi donor darah. Jumlah tersebut bahkan dinyatakan telah melebihi target yang dicanangkan oleh PMI.

Antusiasme yang luar biasa dari warga Kota Pahlawan ini sungguh patut diacungi jempol. Terjadi peningkatan jumlah pendonor sepuluh kali lipat dari biasanya. Sungguh menakjubkan.

[Photo credit: medcom.id]
Kepedulian dan kasih yang kokoh nyatanya mampu dibangun di atas puing-puing teror.



2. Bonek Bersatu dengan Polisi Mengamankan Kota Surabaya

Selama ini, citra bonek selalu dipandang negatif. Cerita menjadi berbeda saat pendukung Persebaya yang beken dengan sebutan 'bonek' ini menyatakan diri siap mendukung polisi. Mereka membuat tagar hits #SuroboyoWani yang diharapkan mampu memberikan dukungan emosional dan mempersempit pergerakan terorisme.

[Photo credit: Antara Foto - Didik Suhartono]

Kolaborasi bonek dan polisi ini telah dilakukan untuk mengamankan seluruh gereja di Surabaya. Mereka bahkan turun tangan untuk membantu membersihkan area gereja yang terkena ledakan bom. Bukankah itu sebuah tindakan yang berani dan mengagumkan?

Baca Juga: Bukan Sekadar Tagar, Ini Jiwa Kami yang Bersama Bergetar: #SuroboyoWani



3. Tagar #PrayforSurabaya yang Menyuarakan Dukungan Mendalam bagi Kota Pahlawan

Harus saya akui, timeline Facebook di tahun ini semakin panas saja. Perbedaan pilihan dan pendapat soal capres di tahun 2019 jadi pemantiknya. Isu-isu SARA digoreng sedemikian rupa untuk memancing amarah. Opini bertebaran di mana-mana.

Kejadian teror bom di Surabaya menjadi salah satu semen perekat bagi rakyat Indonesia yang mulai terbelah oleh perbedaan dan preferensi terhadap calon presiden.

Apalagi saat nurani kita diguncang oleh kenyataan bahwa seorang ibu membawa serta kedua anaknya untuk bersama-sama menjadi pelaku bom bunuh diri. Berbagai pemikiran yang mencerahkan dibagikan lewat Facebook tentang arti kehadiran ibu sebagai ruang belajar atau madrasah pertama bagi anak-anak. Uniknya, pemikiran tersebut bisa disampaikan senada seirama dari pihak-pihak yang tadinya berdiri di sisi yang berseberangan.

[Photo credit: tempo.co]

Meskipun peristiwa bom Surabaya tercatat dengan tinta hitam dalam lembaran sejarah bangsa Indonesia, ternyata tetap ada keindahan yang terpancar dari sana - walau masih terlihat samar. Mungkin memang diperlukan banyak tumpahan dan genangan air mata untuk menghadirkan lengkungan pelangi yang indah.

Peristiwa tragis ini setidaknya menyadarkan kita bahwa

melindungi Indonesia
adalah sebuah kewajiban bersama.

Rumah untuk berlindung di hari tua ini haruslah diperjuangkan dengan penuh kesungguhan hati.



[Photo credit: twitter @Pj_Jinny]

Marilah kita tidak henti-hentinya bertekun dalam doa dan tanpa jemu melakukan kebaikan. Demi Indonesia yang lebih baik, kuat, dan bermartabat.




Baca Juga:

Teror Bom di Surabaya: Bagaimana Semestinya Kita Menyikapinya?

"Teroris Itu Apa Sih, Ma?" Tiga Jawaban Jitu untuk Menjawab Pertanyaan Anak tentang Terorisme

Mengapa Kita Tidak Perlu Ikut Menyebarkan Foto-Foto Vulgar Korban Kekerasan melalui Media Sosial? Ini 3 Alasannya





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Adakah yang Bisa Kita Syukuri dari Peristiwa Teror Bom Surabaya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Jessica ValentinaAnanta | @jessicavalentinaanan

Seorang ibu dengan dua calon kepala keluarga masa depan. Selalu ingin menebar manfaat lewat tulisan dan karya-karyanya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar