7 Tindakan Orangtua yang Membuat Anak Betah di Rumah

Parenting

[image: YoSoydeLeotec]

866
Anak melihat dan menirukan apa yang telah orangtua ciptakan dalam rumah. Oleh sebab itulah, anak memerlukan teladan kasih. Anak memerlukan panutan.

Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama yang Tuhan ciptakan. Keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Keluarga dipercaya dalam mengelola hubungan dan mengembangkan potensi anak-anak yang mereka asuh sebagai generasi penerus,. Namun, dewasa ini orangtua mulai kehilangan kredibilitas mereka sebagai orangtua. Mereka justru membahayakan anak dan membangun nilai kebencian serta ketidaknyamanan dalam rumah.

Bukannya suasana surga, rumah malah menjadi neraka buat anak-anak. Akibatnya mereka lebih memilih mencari dunianya sendiri di luar sana daripada pulang ke rumah.

Orangtua sebagai penjaga dan pelindung anak lebih mudah memberi label yang buruk kepada mereka. “Kids Zaman Now”, seolah-olah ujaran ini adalah candaan yang enak. Tanpa mereka sadari, hal tersebut secara tidak langsung mempermalukan anak. Benar, orangtua kerap memakai kata-kata yang mempermalukan anak, seperti misalnya “anak nakal” atau “anak bodoh” hanya untuk memberikan pembenaran atas dasar menanamkan kedisiplinan kepada sikap buruk anak.

Contoh lain yang sering orangtua tanamkan kepada anak ketika menyambut mereka pulang sekolah adalah dengan banyak bertanya, “Bagaimana nilai pelajaran sekolah?” Tanpa kita sadari, hal itu menjadi bentuk kecil dari tekanan yang kita tuntut pada anak. Lama-kelamaan, anak tidak lagi nyaman menyampaikan isi hati, tetapi hanya merasakan kekesalan kepada orangtua.

Baca Juga: Rupanya ini yang Membuat Anak Berontak terhadap Orangtua. Terapkan 3 Cara ini sebelum Terlambat!


Orangtuaku Rumahku

Bagaimana caranya kita dapat mempersiapkan atau memperbaiki keadaan di rumah, sehingga anak-anak nyaman berada bersama orang tua? Inilah tujuh tips yang dapat Anda terapkan:


1. Jangan membangkitkan amarah anakmu

Orangtua pasti tidak memiliki niat untuk mendidik anak-anak ke arah yang tidak baik. Orangtua yang baik pasti mendoakan mereka agar kelak menjadi pribadi yang sukses. Namun, faktanya banyak anak menjadi kecewa dan marah ketika melihat kedua orangtuanya saling melontarkan kata-kata yang melukai.

[image: outshoot]

Tanpa orangtua sadari, mereka telah menunjukan potret kebencian yang membuat anak-anak mereka tidak nyaman. Mereka menganggap pertengkaran adalah hal biasa untuk diperlihatkan kepada anak.

Hati-hati! Anak akan menilai perbuatan kita. Apa yang mereka lihat akan tertanam dalam diri mereka dan suatu saat akan kita tuai.

Seperti pepatah yang mengatakan,

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”

Orangtua yang terbiasa menunjukan kekerasan dan ketegangan dalam rumah akan melahirkan generasi yang berperilaku seperti itu.

Selain itu, orangtua mudah berkata "tidak" tanpa alasan. Tanpa orangtua sadari, hal ini adalah bagaian kecil dari penolakan dalam diri anak-anak. Hal itu akan melahirkan kemarahan yang akhirnya harus mereka ekpresikan dalam lingkungan rumah, sekolah, dan tempat ibadah. Mereka pun akan mencari tempat pelarian yang lebih menarik dari rumah.

Ingatlah, anak melihat dan menirukan apa yang telah orangtua ciptakan dalam rumah. Oleh sebab itulah, anak memerlukan teladan kasih. Anak memerlukan panutan.


2. Dengarkanlah luapan hatinya

Kebanyakan orangtua mungkin tidak mengetahui bahwa anak memiliki hak untuk didengarkan. Hanya sedikit orangtua yang mau mendengar isi hati anak. Dengan otoritasnya, kebanyakan orangtua hanya ingin didengarkan, bukan mendengarkan. Sejuta cerita menarik dari anak pun menjadi sirna.

Orangtua hanya menanyakan hasil yang diraih, bukan proses yang anak alami. Orangtua lupa pernah menjadi anak, bahwa mereka dahulu juga memiliki luapan hati yang ingin didengarkan.

Mulailah dengarkan anak-anak kita. Jika kita bosan mendengarkan, mereka pun menjadi tidak peduli kepada kita.


3. Bebaskan anak

Orangtua tanpa disadari memiliki keinginan yang “mengurung” anak. Kegagalan orangtua di masa kecil menuntut anak untuk dapat melakukan mimpi mereka. Hal seperti ini mungkin terdengar baik, tetapi sesungguhnya orangtua sedang “memenjarakan” anak dengan keinginannya sendiri. Mereka menaruh beban yang berat dalam langkah anak.

[image: rebelcircus]

Bebaskanlah anak dari bayang-bayang yang merusak kreatifitas mereka, atau mereka akan mengangkat pedang untuk melawan hal tersebut. Perintah dan larangan yang memaksa anak untuk mewujudkan keinginan orang tua hanya menyulut emosi anak.

Hal yang indah tidaklah selalu seragam, bukan? Tuhan pencipta langit menciptakan perbedaan sebagai keindahan. Bebaskan anak, bukan untuk merusak hidupnya, sebaliknya agar mereka dapat meraih impian mereka.

Baca Juga: Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal ini!


4. Jangan tolak mereka

Orangtua harus hati-hati dalam berbicara kepada anak. Nilai yang kita berikan kepada anak haruslah penghargaan positif, bukan ungkapan penolakan. Kegagalan anak bukan berarti anak bodoh.

Kita juga suka berkata bahwa kita mengasihi anak, tetapi berbagi waktu saja sulit. Bukankah ini penolakan secara sikap? Orangtua yang tahu hal baik untuk anak tetapi tidak melakukannya, sama artinya dengan melakukan kesalahan kepada Tuhan.

Buktikan Anda tidak menolaknya. Sediakanlah ruang berharga dalam hati Anda sebagai orang tua dan luangkan waktu, sesibuk apa pun Anda.


5. Jangan rampas haknya

[image: Zwierciadło]

Orangtua mudah berteriak tentang kewajiban anak. Namun, ironisnya mereka dengan mudah merampas hak anak. Apa yang menjadi hak anak tidak dipenuhi, bahkan memberikan pembenaran atas otoritas mereka. Orangtua seperti takut rasa hormat anak terhadap mereka turun kalau mereka memenuhi hak anak. Mereka takut kalau anaknya menjadi berani bahkan merasa dibela keberadaannya.

Sebagai orang tua yang baik, hendaknya kita tidak menilai secara negatif. Orang tua yang baik akan memenuhi kebutuhan anak demi menciptakan rasa nyaman dan ramah. Percayalah, jika kita memenuhi haknya, itu juga bagian dari ibadah kita. Ingatlah, anak adalah anugerah, bukan beban, apalagi musibah.


6. Kenali anak anda

Belajarlah mengenali anak dan kebiasaannya. Sebagai orangtua, kita perlu mulai mempelajari tahap perkembangan anak, agar memahami bagaimana menerapkan pendidikan yang benar kepada anak. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ketika orangtua tidak mau belajar mengenali anak, semua akan terasa seperti beban.

Anak-anak memiliki gaya belajar yang berbeda, maka orangtua juga harus mengetahuinya. Anak memiliki kesukaan yang berbeda, maka orangtua tidak dapat memaksakan pendapat anak harus sama dengan mereka.

Orangtua yang baik mungkin akan merasakan beban yang bertambah berat, tetapi bukan berarti akan menyerah memberikan yang terbaik.


7. Jangan membandingkan

Anak lahir dengan keunikan yang melekat dalam diri mereka masing-masing. Saya tidak percaya bahwa anak-anak yang lahir dalam satu keluarga memiliki kesamaan. Jika pikiran seperti menjadi kebenaran bagi Anda, justru kesalahan yang akan terjadi. Anda akan memaksa adik harus menjadi sama dengan kakak. Apakah adil perlakuan ini diterima anak?

[image:Zwierciadło]

Seandainya sang kakak menyelesaikan pedidikan S2, tetapi adiknya tidak lulus SMA, lantas kita menyimpulkan bahwa yang adik produk gagal. Ironis kalau kita adalah orangtua yang demikian. Anda tidak pantas menjadi orang tua.

Berpikirlah kembali bahwa Tuhan tidak menciptakan produk gagal. Di mata Tuhan, mereka berharga.

Pekerjaan orangtualah untuk mengenali potensi anak. Kenali keunikan mereka, bukan kekurangan mereka.

Kekurangan mereka melatih kesabaran kita dalam menumbuh dan mengembangkan mereka.

Baca Juga: Anak dan Kelemahan Mereka: 7 Langkah Efektif bagi Orangtua yang Rindu Menolong Anak untuk Bertumbuh Menjadi Lebih Baik


***


Seorang anak ibarat anak panah di tangan pahlawan. Akan jadi seperti apa mereka, bergantung sang penarik busur. Sadarilah, sebagai orangtua, apa yang akan kita ciptakan dalam keluarga berbicara pengorbanan. Siapkah kita berkorban untuk menjadi tempat yang nyaman dan ramah untuk anak-anak? Siapkah kita menjadikan rumah kita sebagai tempat ibadah dan wujud syukur kepada Tuhan? Sehingga anak dapat merasa damai tinggal di dalamnya?

Orangtua, wujudkanlah nuansa surga dalam rumahmu, itu bukti dari imanmu.


Baca juga:

Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting ini

How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "7 Tindakan Orangtua yang Membuat Anak Betah di Rumah". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Stefanus Yuliyanto | @stefanusprasetyoyuli

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar