Mengapa Vero Tega Berselingkuh? Simak Analisis Pakar Pernikahan Ini

Marriage

[Photo credit: Priscilla du Preez]

33.5K
Cinta, seperti tanaman, tak bisa hidup dengan sendirinya. Dibutuhkan upaya untuk merawat kehadiran dan bahkan pertumbuhannya.

Dalam kasus gugatan cerai Ahok pada Vero nampaknya benar bahwa gosip adalah fakta yang tertunda. Ya, tentu Anda bisa menduga perkataan yang terkenal itu datang dari akun media sosial yang mana. Awalnya sulit bagi para penggemar Ahok untuk menerima realita bahwa kehidupan pernikahan pujaannya tak seindah harapan. Aneka macam bantahan bahkan masih terus beredar semenjak sebuah media daring ibukota memuat berita ini. Aneka dugaan, analisis dan bahkan teori konspirasi pun bermunculan.

Berita gugatan perceraian Ahok pada Vero itu memang sangat mengejutkan. Apalagi selama ini Vero dikenal sebagai sosok yang santun dan aktif dalam pelbagai kegiatan kemanusiaan dan keagaamaan. Mengapa Vero tega berselingkuh? Apa yang kurang dari sosok Ahok yang begitu digemari masyarakat?

Sesudah persidangan gugatan cerai Ahok pada Vero hari ini, Fifi Lety Indra, adik sekaligus pengacara Ahok mengungkapkan panjang lebar apa yang sebenarnya terjadi. Sila menyimak kutipan langsung berikut ini:

"Bahwa ini sudah terjadi selama 7 tahun. Baik Pak Ahok secara pribadi maupun Sean (putra sulung Ahok, Nicholas Sean Purnama, red) secara pribadi juga pernah mendatangi Julianto Tio itu untuk meminta kepada beliau, waktu beliau masih jadi gubernur. Meminta baik-baik supaya meninggalkan istrinya demi keutuhan keluarga masing-masing mengingat beliau ini sudah punya keluarga dan anak. Tapi dengan sombongnya Julianto Tio itu menolak," jelas Fifi panjang-lebar."

Rasanya tak bijak apabila masih ada yang meragukan bahwa memang ada masalah dalam perjalanan pernikahan Ahok dan Vero. Apa yang dulu dianggap gosip dan bahkan hoaks, kini muncul seperti fajar di pagi hari. Begitu terang benderang. Tentu saja masih menyisakan sebuah pertanyaan penting: mengapa Vero tega berselingkuh? Apa yang kurang dari Ahok?

Saya tak mengenal Ahok dan Vero secara pribadi, walau pernah dalam satu-dua acara menjadi narasumber bersama dengan Ahok yang waktu itu masih mencalonkan diri sebagai gubernur DKI. Saya ingin meminjam analisis dari seorang pakar pernikahan bernama Willard F. Harley lewat buku berjudul Marriage Insurance. Harley menunjukkan bahwa ada 4 hal yang menyebabkan relasi dalam pernikahan dapat bertahan dan bertumbuh makin kuat.

Sebaliknya, jika satu atau beberapa hal ini tak ditemukan dalam pernikahan, maka perselingkuhan dan perceraian adalah sebuah konsekuensi. Simak penjelasan Harley tentang 4 hal yang membuat pernikahan bertahan dan bertumbuh ini:


1. Prinsip Pertama adalah Kejujuran

Kejujuran berarti mengungkapkan pada pasangan sebanyak mungkin informasi tentang dirimu: pemikiran, perasaan, kebiasaan, apa yang kamu sukai, apa yang kamu tidak sukai, masa lalu pribadi, aktivitas sehari-hari, dan rencana masa depan.

Kejujuran nampaknya prinsip yang sederhana. Namun, pada realitanya berapa kali dalam sebuah relasi, salah satu atau keduanya berbohong. Berbohong untuk menutupi suatu kesalahan atau berbohong karena tidak mau “ribut”. Berbohong dalam jangka pendek nampaknya menyelesaikan masalah. Dalam jangka panjang berbohong menimbulkan masalah serius karena merusak kepercayaan. Bukankah kepercayaan adalah hal yang amat penting dalam cinta? Kita mencintai orang yang dapat kita percayai. Ketidakjujuran merusak kepercayaan itu. Kita tak dapat mencintai orang yang tak kita percayai.

Apakah semua hal harus kita ceritakan pada pasangan? Ya, tentu saja. Namun, tidak semua hal harus dibuka pada awal masa pacaran. Tak perlu di awal masa pacaran memamerkan barisan para mantan lengkap dengan account facebook mereka, misalnya. Kejujuran membutuhkan atmosfir rasa aman. Seiring dengan perjalanan waktu dalam relasi, semakin banyak yang kita ungkap pada pasangan. Semakin banyak yang kita ungkap pada pasangan, semakin ia mengenal kita.

Dalam kasus Ahok dan Vero ini nampaknya beberapa kali prinsip ini terciderai. Ada ketidakjujuran salah satu pihak yang mendapatkan peringatan dari pihak lain, namun terulang. Tanpa kejujuran memang sulit sebuah relasi dapat bertahan.

Semakin dalam pengenalan, semakin besar rasa cinta. Kita hanya bisa dicintai sejauh mana kita membuka diri.
[Image: flickr.com]

2. Prinsip Kedua adalah Proteksi

Proteksi atau perlindungan adalah upaya untuk menghindari menjadi penyebab dari sakit hati atau ketidaknyamanan pasanganmu (kecuali tak terhindarkan karena mengikuti prinsip kejujuran).

Dalam perjalan relasi, kita makin tahu apa yang menjadi kesukaan pasangan, sekaligus apa yang mudah menyebabkannya terluka. Pengetahuan ini tentu saja berguna untuk melakukan prinsip kedua yakni perlindungan atau proteksi. Jika kita mengerti bahwa pasangan sangat tidak menyukai ketidaktepatan waktu, maka sebagai wujud cinta yang sangat konkret, upayakan hadir tepat atau sebelum waktunya. Jika pasangan kita menyukai penampilan rapi, maka upayakanlah berpenampilan rapi di hadapannya. Hal-hal ini nampak sederhana, namun sangat bermakna bagi pasangan. Jangan pernah meremehkan pasangan dengan mengatakan, ”Ah, hal kecil begitu saja kok jadi ribut.” Ya, kecil bagi kamu, tetapi mungkin sangat berarti bagi pasanganmu.

Catatan terpenting dalam prinsip kedua adalah jangan gunakan prinsip proteksi ini sebagai alasan untuk berbohong. Prinsip kejujuran adalah hal yang paling utama.

Jika memang ada yang tak menyenangkan pada pasangan, maka berupayalah untuk mencari jalan terbaik dengan mempercakapkannya dalam suasana penuh kejujuran. Lebih baik terluka sementara, kemudian berjuang ke arah yang lebih baik, daripada tenggelam selamanya dalam kebohongan.

Nah, kita tak tahu bagaimana selama ini Ahok dan Vero menjalani hidup rumah tangganya. Apakah Ahok di tengah kesibukannya sebagai pemimpin masih mempunyai waktu dan tenaga untuk melindungi istrinya? Demikian juga sebaliknya.

[Image: hdwallpapers.cat]

3. Prinsip Ketiga adalah Perhatian

Perhatian berarti kesediaan belajar memenuhi kebutuhan terpenting pasangan kita.

“Pacar saya sekarang berubah. Ia tak lagi memperhatikan saya,” demikian keluh seorang gadis di ruang konseling saya. Saya menengok ke arah pacarnya, menunggu reaksinya. Pemuda itu kemudian berkata, ”Lho, kurang perhatian apa saya. Tiap kali saya ke luar kota, saya selalu membawakan hadiah-hadiah. Itu khan bentuk perhatian.” Kemudian, saya menanti jawaban si gadis. Ia menunduk, meneteskan air mata dan berbicara lirih, ”Saya tidak membutuhkan hadiah-hadiahmu. Saya lebih suka kalau kamu menelpon atau meluangkan waktu untuk chatting setiap malam.”

Nah, inilah letak masalah yang seringkali terjadi dalam pasangan terkait masalah perhatian. Secara sederhana saya menyebut masalah ini sebagai: salah sambung. Sang pemuda merasa sudah memberikan perhatian, namun bentuk perhatian itu bukanlah yang diharapkan pacarnya. Jadi, bicaralah dengan jujur satu dengan yang lain: apa bentuk perhatian yang paling penting bagi diri kita? Hadiah, ucapan mesra, tindakan menolong, atau malah mungkin seks bagi yang sudah menikah. Kejujuran ini penting agar kita tak salah memberikan bentuk perhatian yang dibutukan pasangan.

Kita selama ini hanya bisa melihat dan menonton berita tentang relasi Ahok dan Vero. Yang terlihat dari luar adalah beberapa kali Ahok mengungkapkan perasaannya secara terbuka kepada istrinya lewat tulisan tangannya. Bahkan sikap romantis Ahok ini seringkali menjadi tuntutan para istri pada suaminya: "Ahok yang galak saja bisa begitu romantis sama istrinya, kok kamu ga bisa?"

Suami atau istri sama-sama membutuhkan perhatian. Tanpa perhatian maksimal dari pasangan hasilnya adalah kesendirian. Kesendirian akan membuka celah bagi kehadiran pihak ketiga. Nampaknya ini yang terjadi. Sepenuhnya salah Vero? Rasanya tidak. Jika memang pernyataan pengacara Ahok benar bahwa Vero berselingkuh, maka itu tak berarti sepenuhnya Vero yang bersalah. Bukankah jika kebutuhan perhatian ini terpenuhi, maka tak ada lagi celah yang terbuka untuk perselingkuhan?

[image: kimmyerssmith.com]

4. Prinsip Keempat adalah Menyediakan Waktu

Menyediakan waktu berarti memberikan perhatian yang tak terbagi pada pasangan.

Inilah prinsip yang nampaknya paling mudah, khususnya bagi yang masih pacaran. Selalu berdua ke mana-mana. Namun, masalahnya apakah benar-benar ada perhatian yang tak terpecah dalam waktu bersama itu?

“Percuma meminta ia menemani saya, Pak. Pacar saya itu tak pernah lepas dari HP dan tabletnya,” keluh seorang perempuan. “Matanya jarang sekali menatap saya bahkan ketika kami makan bersama, Ia lebih banyak menatap layar HP dan tabletnya. Pingin saya banting itu barang!” lanjutnya. Saya yakin yang sebaliknya juga terjadi, pria yang mengeluhkan pacarnya selalu asyik berjual beli on line bahkan tatkala mereka menikmati malam minggu berdua.

Menyediakan waktu berdua bukan sekadar berada bersama di tempat yang sama atau bahkan duduk bersebelahan. Menyediakan waktu berdua berarti menyediakan perhatian yang tak terbagi bagi pasangan. Semua urusan berhenti sementara, termasuk HP atau tablet diletakkan, untuk sosok terpenting yang ada di hadapan atau sebelah kita.

Bagi yang sudah menikah dan mempunyai anak-anak, prinsip ini tak mudah dieksekusi. Padahal, dengan begitu banyak urusan kehidupan dan rumah tangga, perlu pula lebih banyak waktu berdua. Willard F. Harley menyarankan jumlah 15 jam dalam seminggu bagi yang sudah menikah. Mudah? Tentu saja tidak! Namun, sangat penting untuk mengupayakan waktu bersama dengan perhatian tak terbagi ini.

Ahok adalah tipe pekerja keras yang waktunya habis digunakan untuk melayani rakyatnya. Rakyat bisa saja gembira, namun keluarga yang membayar harganya. Berulangkali Ahok menceritakan aktivitasnya yang sangat padat dari pagi sampai dengan malam hari. Barangkali, ya ini barangkali, mereka tak punya lagi waktu berdua. Tenggelam dala kesibukan dan kesendirian masing-masing.

[Image: freehdwallpaperhq.com]

Jadi, siapa salah dalam gugatan perceraian Ahok pada Vero ini? Vero, seperti yang dinyatakan pengacara Ahok, telah 7 tahun berselingkuh? Saya rasa ini tak sepenuhnya kesalahan Vero. Dalam pernikahan, ketika dua orang telah disatukan dalam sebuah komitmen kesetiaan, kita tak dapat menumpukkan beban kesalahan pada salah satu pihak saja.

Ahok pun ikut mempunyai andil kesalahan sehingga terjadilah perselingkuhan ini. Bukankah tugas seorang suami untuk menjaga dan merawat istrinya? Ahok, yang nampaknya berusaha keras menyelesaikan perselingkuhan yang ada, harus bertemu jalan buntu. Semua sudah terlambat.

Ya, suka atau tidak suka, perceraian di ambang mata, kecuali 'mukjizat' terjadi. Mari belajar bersama dari kisah menyedihkan ini.


Baca Juga:

Setangkup Harap Jelang Sidang Cerai: Ahok, Jangan Ceraikan Vero, Please

Mengapa Wanita Berani Berselingkuh? Inilah 3 Penyebab Utamanya

Hati-Hati, Ibu Rumah Tangga Baik-baik pun Bisa Berselingkuh karena 5 Hal Ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengapa Vero Tega Berselingkuh? Simak Analisis Pakar Pernikahan Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @wahyupramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar